Dua minggu akhirnya tiba dan Queen sudah merapikan dirinya sebab hari ini calon suaminya bersama keluarganya akan datang melamarnya.
Ayah dan bundanya tampak tersenyum dengan bahagia sejak tadi hingga membuat ia ikut bahagia saat melihat senyum mereka.
Bel akhirnya berbunyi dan para tamu dipersilakan masuk. Queen menghembuskan napas yang ia tahan sejak bel berbunyi. Walau tak ingin merasa gugup tapi dirinya lumayan gugup saat ingat akan bertemu calon suaminya.
Dengan perlahan ia keluar dari kamarnya, menemukan Evelyn juga Rodrick sudah duduk ditemani kedua orangtuanya.
Ia mencari-cari dengan matanya tapi tak menemukan seorang laki-laki yang menjadi calon suaminya dan dirinya mulai bertanya di dalam kepalanya.
Queen menghampiri kedua calon mertuanya kemudian memberikan salam pada mereka, setelah itu ia duduk.
"Maaf Tante, Om, di mana calon suamiku?" tanyanya.
Mereka semua tampak sedikit gugup saat dia bertanya bahkan tak berani menatapnya.
"Maaf, Queen, Ken masih sibuk bekerja dan tak bisa datang. Jadi dia meminta kami yang melamarmu untuknya."
Hati Queen gelisah mendengarnya dan merasa ada yang mereka sembunyikan darinya tapi ia tak tahu apa. Sesibuk itukah dia hingga tak bisa meluangkan waktu untuk melamar seorang wanita dan Queen sedikit cemas laki-laki apa yang bahkan tak bisa menyisihkan sedikit waktunya.
Jika acara ini mendadak maka ia akan memakluminya tapi semua ini sudah direncanakan sejak dua minggu yang lalu dan ia mulai menduga jika laki-laki itu tak mau dijodohkan dengannya.
Tanpa bisa Queen kendalikan amarah memenuhi dirinya dan merasa tak ingin lagi menerima perjodohan ini jika harus menikahi laki-laki seperti itu. Sebab belum menjalaninya saja ia tahu betapa tragis pernikahan yang akan dijalaninya.
Tapi Queen tak ingin menunjukkan amarahnya dihadapan calon mertuanya meski ia ragu apakah mereka memang akan menjadi mertuanya.
Ia masih memikirkan sopan santun jadi tak menuruti kehendaknya untuk bergegas masuk ke kamarnya. Hanya saja ia tak bisa ikut dalam pembicaraan mereka dan hanya bisa mengenggam tangannya erat sebagai upayanya menahan diri.
"Walau Ken tak bisa hadir untuk menyampaikannya sendiri saat ini tapi tanggal pernikahannya sudah ditentukan satu bulan lagi. Apa kalian keberatan?" tanya Rodrick pada calon besannya.
"Ya, semakin cepat semakin baik," jawab Osbeth yang tentu saja membuat Queen semakin cemberut mendengarnya karena sesungguhnya ia keberatan tapi dirinya sungguh tak ingin ayahnya bersedih.
Saat akhirnya mereka pamit pulang dan sepakat pernikahan akan dilakukan setelah wisudanya, Queen masih tetap diam saja.
Ia segera masuk ke kamarnya dan menganti pakaiannya dengan menghempaskannya untuk melampiaskan kemarahannya sebelum ia meledak.
"Queen," panggil Ametta memasuki kamarnya. "Ada apa?"
"Laki-laki apa yang akan aku nikahi, Bunda, jika bahkan meluangkan waktu untuk lamaran ini saja dia tak bisa, dan aku tak ingin menikah dengan laki-laki seperti itu," ujar Queen melampiaskan rasa kesalnya.
"Bunda tahu, Sayang, tapi apakah kamu tidak bisa melihat betapa bahagianya ayahmu? Dan Bunda tak tega mengecewakannya. Apakah kamu tega?"
Queen terdiam mendengarnya dan tahu jika ia juga tak tega merengut kebahagiaan itu dari ayahnya.
"Jadi apakah pernikahan ini bisa diteruskan?"
"Ya," ujar Queen pasrah dan mencoba berpikiran positif jika mungkin laki-laki itu memang begitu sibuk.
***
Dua minggu sudah berlalu sejak hari itu dan saat ini ia baru saja pulang dari kampus ketika menerima pesan teks pada ponselnya.
Queen menatap ponselnya dan menemukan jika sebuah nomor tak bernama yang mengirimkannya pesan.
Ia membukanya dan mengerinyitkan kepala membaca pesan yang sangat dingin dan kaku itu tanpa menginfokan siapa pengirimnya seolah dirinya memiliki indra keenam hingga bisa menebaknya sendiri. Bahkan ia merasa jika pesan itu lebih seperti sebuah perintah daripada permintaan.
"Temui aku di restoran Melody jam 13.00."
"Siapa ini?" balas Queen.
"Ken."
"Ken siapa?"
"Kenrix Linwood, sialan!"
Queen begitu kesal membacanya dan semakin bingung memikirkan apa yang laki-laki itu inginkan saat ini. Padahal bahkan tak sudi menemuinya saat lamaran pernikahan.
Ia sengaja tak mau membalasnya lagi agar laki-laki itu bertanya-tanya apakah ia akan datang atau tidak.
Walau saat tahu siapa ia langsung memutuskan untuk datang sebab ingin melihat calon suaminya sebelum mereka menikah.
Dirinya tak ingin menikah tanpa tahu siapa yang akan ia nikahi. Bisa saja laki-laki itu buruk rupa, cacat atau apa pun itu hingga harus dijodohkan.
Sebab Rich saja memiliki banyak idola dan dikejar-kejar oleh para gadis di kampus jadi tidak mungkin bukan kakaknya tidak dikejar-kejar juga jika dia tampan. Jadi Queen merasa jika mungkin laki-laki itu pasti mirip monster.
Queen kemudian berjalan kaki menuju restoran yang dimaksud. Menyadari jika laki-laki itu pasti tahu ia kuliah di kampus ini karena itulah mengajaknya bertemu di restoran yang dekat dengan kampusnya.
Saat tiba di restoran, ia mengedarkan pandangan mencari tapi tak melihat laki-laki yang mungkin merupakan calon suaminya.
Ia memutuskan menghubungi nomor itu dan saat melihat seorang laki-laki mengangkat telepon, dirinya segera mematikannya dan berjalan menghampirinya. Ia sedikit ragu sebab laki-laki itu membelakanginya dan membuat ia tetap tak bisa melihat wajahnya.
"Kenrix?" tanya Queen.
Dirinya terkesiap saat mata cokelat keemasan menatap balik padanya. Mata yang sangat tajam menusuk seolah bertanya siapa dirinya.
Apalagi saat Queen menyusuri wajah itu di mana dia memiliki tulang pipi tinggi, hidung mancung, bibir yang seolah sedang merengut marah dan dagu yang lancip.
Rambut pendek laki-laki itu membuat wajahnya tampak sangar dan tak ramah. Queen tahu jika mungkin memang seperti itu sifat laki-laki itu karena saat ini dia menatap Queen marah hanya karena memanggil namanya.
"Jadi kamu gadis itu?" tanya Ken menatap Queen dari bawah ke atas dengan tatapan menghina saat menyadari siapa gadis dihadapannya. Walau dia mengira jika mungkin akan dijodohkan dengan gadis buruk rupa, dirinya sedikit terkejut karena ternyata gadis itu lumayan walau tidak akan menjadi seleranya.
Mata berwarna biru, tulang pipi lebar, hidung mungil, dan dagu yang berbentuk bulat juga bibir yang seolah tampak meminta untuk dikecup.
'Ada apa dengan otakku' batin Ken kesal.
"Jika Anda datang saat lamaran dua minggu lalu, Anda pasti tahu siapa aku," sindir Queen sinis.
Ken kemudian berdiri dari kursinya dan ia sengaja ingin mengintimidasi gadis itu dengan tubuhnya sebab berharap saat dia mengutarakan keinginannya maka gadis ini seketika akan langsung menerimanya karena begitu takut.
Queen melangkah mundur saat laki-laki itu berdiri. Ia memberi jarak bagi tubuh mereka yang jadi begitu dekat agar tidak harus mendongak saat menatap wajah laki-laki itu. Tentu saja dirinya tak akan membiarkan hal itu terjadi hingga laki-laki itu akan semakin meremehkannya.
Dirinya terkesiap saat laki-laki itu mencengkram lengannya, menariknya entah ke mana dan Queen bisa merasakan getaran menjalari lengannya.
'Aku pasti begitu marah padanya hingga bahkan tanganku gemetaran' batin Queen.
"Anda mau membawaku ke mana?"
"Ke tempat tertutup," ujarnya dingin dan terus menyeret Queen. Saat mereka sampai di sebuah ruangan, Ken menariknya masuk dan menutup pintu di belakangnya.
"Tidak bisakah meminta dengan baik tanpa harus menyeret?" tanya Queen kesal.
Queen bisa melihat jika wajah itu semakin terlihat kaku dan tak bersahabat sama sekali.
"Aku tak ingin berlama-lama membuang waktuku di sini apalagi bersama wanita sepertimu, jadi..."
"Apa maksudmu dengan ucapan wanita sepertimu?" tanya Queen tajam memotong ucapan Ken.
Ken menatapnya dan tahu jika tak ingin semua ini semakin rumit dan lama, ia tak boleh mengutarakan pendapatnya tentang wanita itu saat ini.
"Aku ingin kamu membatalkan pernikahan itu."
"Bukan aku yang menetapkan pernikahan itu dan jika kamu datang saat itu maka kamu bisa membatalkannya sendiri," timpal Queen.
"Kamu bisa memberitahu orangtuamu jika tak ingin menikah."
"Maaf, Tuan, aku tak sudi mengecewakan orangtuaku dan jika Anda ingin membatalkannya, katakanlah sendiri pada orang tua Anda," ujar Queen dan akhirnya tahu jika tebakannya memang benar kalau laki-laki itu tak menerima perjodohan ini.
"Dasar w************n!" makinya dengan wajah yang mulai mengelap hingga akhirnya pendapatnya akan wanita itu terlontar dari bibirnya.
Meski kesal mendengarnya tapi Queen berusaha tak menanggapinya.
"Silakan menghina, mencaci dan membentakku sepuas Anda karena bagiku tak masalah dan bahkan aku tak peduli," ujar Queen datar tak tahu apakah seharusnya ia harus terus menantang laki-laki itu atau memilih segera pergi dari sini tapi ia merasa tak ingin memperlihatkan jika ia takut hingga memberikan laki-laki itu kesempatan untuk memaksakan kehendaknya.
"Batalkan atau kamu akan menyesal menerima pernikahan ini!" ujar Ken dingin dan sesaat Queen merasa jika keberaniannya melarikan diri saat melihat tatapan kelam pada kedua mata itu.
"Tak masalah asalkan kedua orangtuaku bahagia," ujar Queen mengangkat dagunya.
Ia sedikit terhenyak saat Ken semakin dingin menatapnya dan berjalan mendekatinya. Ia tahu jika laki-laki itu sedang berusaha mengintimidasinya tapi ia tak akan menyerah hanya karena itu.
"Dasar wanita gila!" ujarnya marah. "Apa kamu mengira akan mendapatkan sesuatu dariku? Jangan bermimpi karena kamu tak akan mendapatkan apa-apa dariku!"
"Itu tak masalah untukku sebab aku memang tak menginginkan apa pun dari Anda!"
"Baiklah, kamu sendiri yang memilih jalan ini, jalan kematian untukmu dan aku akan memastikan kamu mendapatkannya," bisik Ken di telinga Queen sebelum berderap pergi dari ruangan itu.
Queen menghembuskan napas lega saat akhirnya laki-laki itu pergi dari hadapannya. Jika tak memikirkan ayahnya maka ia tak akan mau menikahi laki-laki dingin itu.
"Aku rasa dia pasti tertukar di rumah sakit hingga bisa memiliki sifat yang sungguh berbeda dengan Om dan Tante," ujar Queen gusar.
Tak ingin lagi berlama-lama memikirkan laki-laki gila itu, Queen bergegas keluar dari sana agar bisa segera pulang ke rumah tak menyadari mata setajam elang sedang mengawasinya saat ia berada di depan restoran.
***
Jangan lupa klik love & komentya jika suka dan kalian juga akan mendapatkan notifikasi saat saya update new part. Thx ^^