7

992 Words
Saat sore akhirnya mereka sudah duduk di dalam pesawat yang menuju London dan ia hanya duduk diam di sebelah Ken tak mau mengusik laki-laki itu. Setiba mereka di London, Ken menyodorkan beberapa foto padanya begitu berada di dalam mobil hingga ia hanya menatapnya dengan bingung. "Apa ini?" "Pilih rumah mana yang ingin kamu tinggali." Queen menatap Ken tak percaya saat laki-laki itu menyuruhnya memilih. "Jangan berpikiran macam-macam sebab aku memintamu memilih karena tak peduli akan tinggal di mana. Bagiku rumah sama sekali tak penting." "Lalu selama ini di mana kamu tinggal?" "Lakukan saja apa yang aku suruh dan jangan banyak bertanya!" Queen melihat foto-foto yang Ken berikan padanya hingga akhirnya tatapannya jatuh pada rumah yang menurutnya paling sederhana di antara yang lainnya. Saat Queen memberikan foto itu pada Ken. Dia memberikannya pada sopir dan tak peduli rumah mana yang Queen pilih. Begitu masuk ke dalam rumah, Queen merasa rumah itu sama sekali tak sederhana dan ia segera berkeliling tempat itu dengan antusias. Menemukan ada dapur dengan berbagai peralatan masak dan elektronik lengkap. Kemudian ia menemukan sebuah ruang kerja dan kamar mandi. Saat naik ke atas ia masuk ke sebuah ruangan dan ternyata sudah ada Ken di sana sedang membuka pakaiannya. "Maaf," ujar Queen gugup tapi Ken tak menggubrisnya dan hanya masuk ke dalam kamar mandi. Ia duduk di sofa menunggu laki-laki itu keluar dari sana agar bisa bertanya di mana laki-laki itu ingin ia tidur selama di rumah ini. Ia terlonjak saat pintu kamar mandi terbuka dan Ken keluar dari sana. "Bereskan barang-barangmu, kemudian mandi! Aku tak suka jika kamar tidur berantakan." Dengan cepat Queen menuruti perintah laki-laki itu, mengambil pakaian ganti dan masuk ke kamar mandi. Saat keluar dari sana dirinya tak menemukan Ken lagi di kamar itu dan ia kembali duduk menunggu. "Aku akan tidur di kamar tamu saja," ujar Queen saat Ken muncul. "Apa kamu pikir, aku akan semudah itu memberikan apa yang kamu mau?" "Apa? Aku tak mengerti maksudmu." "Kamu akan tidur di kamar ini bersamaku agar aku bisa mengawasimu hingga kamu tak akan bisa membuat rencana di belakangku." "Aku tak memiliki rencana apa-apa." "Kemarin wanita itu bukan yang memerintahkanmu untuk memaksaku kembali ke rumah itu?" Queen semakin bingung dengan penuturan laki-laki itu dan segala kecurigaannya. "Sudahlah, berdebat denganmu akan menghabiskan tenagaku," ujar Queen membereskan pakaian mereka ke lemari dan saat selesai, ia menemukan Ken sudah berbaring di sofa dengan sebuah bantal di kepalanya. "Tidurlah di ranjang," ujar Queen meski kesal padanya tapi merasa jika tak seharusnya tubuh panjang Ken disiksa dengan tidur di sofa. Ken membuka matanya dan menatap Queen kesal. "Aku tak tahu bahkan kamu akan berusaha segencar ini agar aku menidurimu." Ia tak bisa berkata-kata mendengar kearoganan laki-laki itu. "Aku hanya tak tega melihat tubuhmu dijejalkan ke sofa itu sedangkan aku bisa muat di sana. Tapi dengan arogannya Anda berpikir aku ingin tidur seranjang dengan Anda, aku sama tak inginnya bahkan jika bisa aku tak ingin seruangan dengan Anda." "Kamu tidur di ranjang sendirian dan aku di sini atau kita berdua tidur di ranjang. Silakan pilih," ujar Ken tak peduli kemudian kembali memejamkan mata. Queen hanya menatap Ken heran dan merasa meski laki-laki itu membencinya tapi dia sungguh masih memiliki sikap yang baik. "Bisakah kamu memberitahuku makanan apa yang kamu suka dan tidak suka?" Tapi Ken bergeming tak mau menjawabnya. "Mr. Linwood," panggil Queen lagi. "Tidak usah pura-pura peduli dan tak perlu repot-repot karena aku sudah terbiasa mengurus diriku sendiri." "Setidaknya beritahu aku." "Tidurlah!" "Apa sulitnya sih hanya tinggal menyebutkannya saja," ujar Queen. Ia terkesiap saat Ken kembali membuka mata dan menatapnya kesal. "Mungkin aku ikat saja dirimu di ranjang dan membungkam mulutmu agar tak mengangguku lagi." "Aku tak akan menganggumu lagi jika kamu tak bersikap sesulit ini. Jadi jika ingin semua ini mudah maka beritahu aku apa yang kamu suka dan tidak." Akhirnya dengan terpaksa Ken memberitahu semua yang ingin Queen ketahui. "Terima kasih," ucap Queen. "Dan aku tidak suka wanita cerewet, tukang ikut campur," tambah Ken. Tapi Queen pura-pura tak mendengar kemudian naik ke ranjang dan tidur. *** Perlahan ia membuka matanya saat pagi tiba. Ia menemukan Ken masih tidur, dirinya kemudian bergegas membersihkan diri agar bisa segera membuat sarapan. Saat Ken turun ia sudah selesai memasak. "Jangan repot-repot atau berpura-pura baik padaku karena aku tak akan menerima apa pun makanan yang kamu berikan," ujar Ken bahkan sebelum Queen sempat memintanya makan hingga gadis itu mengurungkan niatnya. "Tidak masalah karena aku menyiapkannya untukku," ujar Queen manis walau siapa pun akan tahu jika apa yang ia katakan itu tidak benar dengan banyaknya makanan di sana. "Sisanya bisa aku berikan pada pembantu," ujar Queen meski tak ingin terluka tapi ia memang terluka. Lagi pula ia menyadari jika ini salahnya sendiri. "Dan aku juga tak akan memberikan sepeserpun uangku untukmu." "Oh, tanpa kamu mengatakannya aku sudah tahu kalau kamu orang yang pelit," sinis Queen. "Jaga bicaramu!" "Baru saja Anda menegaskan jika penilaian saya tentang Anda memang tidak salah," ujar Queen tak memedulikan kemarahan laki-laki itu. "Bukankah uang yang diberikan wanita iblis itu cukup banyak untukmu." "Oh ya, Anda benar, aku bahkan bisa hidup mewah dari uang itu," ujar Queen bahkan tak berselera lagi untuk makan jadi ia memilih lebih baik kembali ke kamar saja. Saat ingat sesuatu ia berbalik menatap Ken. "Boleh aku bekerja?" "Terserah. Kamu tidak perlu izin dariku akan apa pun jadi tidak usah berakting sebagai seorang istri lagi di hadapanku. Oh ya, aku lupa jika dia pasti sudah melatihmu dengan baik," sinis Ken. Queen hanya menatap Ken dengan marah tapi dirinya memilih bungkam dan hanya balik ke kamar. Ia memikirkan bagaimana caranya mencari pekerjaan di tempat yang asing baginya ini apalagi ia baru saja lulus kuliah. Dirinya memang mengambil jurusan kuliner jadi pilihannya terbatas. Ia akhirnya memutuskan menelepon Rich agar membantunya dan tiga hari kemudian dirinya mendapatkan pekerjaan sebagai asisten koki di hotel ternama tak tahu bagaimana caranya Rich melakukannya. Hari kedua di rumah itu, ia memutuskan tidur di kamar sebelah yang memiliki penghubung tapi tanpa pintu. Dirinya bersyukur saat Ken tak menentang keinginannya sebab jika harus satu kamar terus dengannya, mungkin ia akan tergoda mencekik laki-laki itu dalam tidurnya jika sedang kesal. Ia sudah bisa menebak setiap hari ia pasti akan terus kesal pada laki-laki itu yang sangat terlihat jelas berusaha mengabaikannya disetiap kesempatan. *** Jangan lupa klik love & komentnya jika suka dan kalian juga akan mendapatkan notifikasi saat saya update new part. Thx ^^  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD