Setiap hari tak putus asa Queen tetap membuat sarapan walau Ken tak pernah menyentuhnya sama sekali seperti saat ini.
Ken duduk di meja makan dan mengambil roti kemudian mengoleskan selai di sana.
"Apa kamu tak bosan terus makan roti?" tanya Queen sebab sejak mereka tinggal di rumah ini sejak satu bulan yang lalu, Ken lebih memilih makan roti ketimbang makanan yang ia siapkan.
Dia bergeming tak mau menjawab pertanyaan Queen.
"Makanlah makanan di meja ini walau hanya sedikit, itu tidak akan menjatuhkan martabatmu."
Ken menatap Queen kesal tapi ia tetap bungkam.
"Apa roti itu memiliki gizi? Jangan salahkan aku jika kamu jadi kurang gizi," gerutu Queen.
"Walau aku tak yakin manusia patung sepertinya akan mengalami hal itu," sambung Queen.
"Mengingat aku hanya terus bicara sendiri sejak entah kapan, aku rasa sebentar lagi aku juga akan berubah menjadi patung jika terus bersamanya lebih lama lagi."
Ia berjengit terkejut saat Ken bangun dengan kasar dari duduknya kemudian bersiap berangkat kerja.
Queen yang juga kesal melangkah keluar rumah lebih dulu untuk berangkat kerja kemudian membanting pintu di depan laki-laki itu agar dia tahu jika ia juga bisa marah bukan hanya dia saja yang bisa marah.
***
Queen yang baru pulang kerja dengan lelah melangkah memasuki rumah kemudian bergegas naik ke atas untuk mandi sebab saat ini sudah malam.
Saat selesai mandi ia kembali melangkah ke kamar Ken untuk melihatnya karena begitu ingin segera membersihkan tubuhnya hingga ia tak menyadari apakah Ken sudah tidur atau belum.
Dirinya sedikit mengerinyit saat menemukan jika laki-laki itu ternyata belum tidur tapi ia tahu jika dia sudah pulang sebab mobil dan sepatunya sudah ada di rumah.
Ia mencari dan menemukannya berada di ruang kerjanya sedang sibuk bekerja.
"Apa kamu sudah makan?"
"Hmmm."
Queen menatapnya heran karena mau menjawabnya padahal bahkan biasanya dia benar-benar seperti patung.
"Ini sudah malam sebaiknya kamu istirahat."
"Pergi!"
"Kalau kamu sakit, urus dirimu sendiri."
"Pergi! Wanita gila!" ujarnya masih terus sambil bekerja.
"Aku waras, bodoh, karena itulah aku menyuruhmu istirahat. Sepertinya yang gila di sini adalah Anda. Gila kerja!" gusar Queen, dirinya seketika ketakutan saat Ken bangun dari duduknya, menatapnya marah tapi ia menghembuskan napas lega saat Ken hanya berlalu dari hadapannya.
Queen segera menyusulnya tapi ia menghentikan langkahnya saat Ken membanting pintu kamar dengan keras karena marah.
Queen mendesah lelah akan sikap laki-laki itu walau perlakuan laki-laki itu padanya selalu seperti itu tapi perasaannya tetap terluka. Ia sungguh berharap suatu hari Ken akan melihatnya sebagai istri walau mungkin itu semua hanya di dalam mimpinya.
Hanya saja ucapan Mama agar ia tak menyerah dengan mudah membuat ia mencoba untuk terus bertahan dan berusaha meluluhkan hati batu laki-laki itu. Walau mereka menikah bukan karena cinta tapi yang ia inginkan adalah menikah satu kali dan berharap mereka akan saling mencintai suatu hari.
Meski mungkin hal itu tidak akan terjadi, setidaknya ia akan merasa cukup puas jika mereka hanya akan saling menyayangi serta menjadi keluarga yang seutuhnya.
Selain itu ia juga tak ingin membuat mertuanya sedih jika mereka sampai bercerai, ia juga tak ingin membuat bunda dan ayahnya mencemaskannya.
Ia melangkah masuk ke kamar dan menatap suaminya yang sudah berbaring diam di ranjang.
'Setidaknya dia beristirahat' batin Queen kemudian menuju kamar sebelah.
Dirinya membaringkan tubuh lelahnya di ranjang dan meski lelah ia tak bisa tidur memikirkan bagaimana caranya agar Ken bisa makan dengan baik.
Saat tak ada ide apa pun yang hinggap di kepalanya, ia mencoba memejamkan mata untuk tidur tapi sama sekali tak bisa hingga akhirnya tanpa ia sadari dirinya mulai terlelap.
Queen kembali membuka lebar matanya saat sebuah ide akhirnya mendatanginya dan ia bisa tersenyum tenang berharap jika semua itu akan berhasil. Ia kembali memejamkan mata, segera tertidur lelap setelah mendapatkan ide itu dibenaknya.
Alarm ponsel membangunkannya dan ia bergegas bangun tapi menemukan Ken sudah tak ada di ranjang lagi. Sewaktu melihat sepatunya, ia tahu jika Ken sudah berangkat kerja.
Dengan sedih dia berusaha tak kecewa karena sejak menikah bukankah laki-laki itu memang mengabaikannya. Queen kemudian tak ingin ambil pusing, hanya bergegas mandi, sarapan kemudian berangkat ke hotel tempat ia bekerja.
Saat sampai di sana seorang gadis menghampirinya.
"Kamu ke mana saja, Queen?" tanya Cassandra.
"Kenapa? Apa terjadi sesuatu?"
"Kamu terlambat."
Queen menatap rekan kerjanya bingung sebab ia merasa sama sekali tak terlambat.
"Apa kamu lupa perintah chef kemarin?"
Queen mencoba mengingat dan dirinya membelalak ketakutan menyadari apa yang sudah ia lupakan kalau atasannya memintanya untuk datang lebih pagi sebab ada tamu penting yang akan datang.
Dengan cepat ia berganti pakaian dan segera berlari ke dapur. Queen sedikit ketakutan saat atasannya memandangnya dengan tajam.
"Tunggu apalagi kamu! Cepat kerjakan!"
Ia merasa jika dirinya sungguh sial sebab tak di rumah, tak di tempat kerja dirinya terus saja menjadi tempat pelampiasan amarah.
Dengan cepat ia bekerja hingga apa yang semalam ia rencanakan bahkan terlupakan olehnya. Saat akhirnya jam istirahat tiba, ia kembali mengingat semuanya dan segera menghubungi Rich untuk meminta bantuannya agar hotel tempat ia bekerja bisa memasukkan katering ke kantor suaminya.
Mungkin dirinya adalah wanita yang sungguh bodoh di mata orang lain karena masih peduli akan laki-laki itu padahal bahkan dia tak pernah peduli padanya tapi ia memang peduli.
Queen kemudian kembali bekerja dan bahkan ia tak diizinkan pulang pada jam kerja biasanya karena datang terlambat.
Saat akhirnya ia sampai di rumah dirinya sedikit kaget sewaktu menemukan seorang wanita yang sudah lanjut usia sedang duduk di sofa.
"Oh, jadi ini wanita itu?" tanyanya sinis.
"Maaf Anda siapa?" tanya Queen sopan.
Tak lama kemudian Ken datang menghampiri mereka dan ia menatap suaminya bertanya tapi laki-laki itu tak menggubrisnya apalagi menjawabnya.
"Sudah Oma katakan jika dia tak akan mungkin memilihkan wanita yang baik untukmu, pasti saat ini dia merasa sangat senang karena berhasil membuatmu mengikuti keinginannya."
"Aku tak ingin membahasnya saat ini, Oma."
"Ceraikan saja dia dan Oma akan mencarikan wanita yang lebih pantas untukmu! Bukan wanita jalang sepertinya," sinisnya menatap Queen.
Queen berusaha tak menanggapi apa yang wanita itu ucapkan dan dirinya menyadari jika wanita itu merupakan neneknya Ken.
"Maaf, aku permisi ke kamar, Oma," ujar Queen dengan tenang.
"Wanita itu pasti anak dari jalang juga, tak mungkin anak dari perempuan baik-baik!"
Queen yang saat itu sudah menaiki beberapa anak tangga sontak menghentikan langkahnya. Ia mengenggam susuran tangga dengan kencang berusaha menahan amarahnya.
"Lihat saja kelakuannya, pulang lebih malam daripada suaminya!"
Dan akhirnya kesabaran Queen habis. Ia berbalik dan menatap wanita yang lebih tua itu.
"Hanya karena ajaran Bunda saya yang Anda katakan jalang itu saja yang membuat saya masih bersabar menghadapi mulut Anda yang seperti sampah tapi di masa yang akan datang jika Anda berani menghina Bunda saya lagi maka jangan salahkan saya yang tak akan segan-segan lagi bersikap tidak sopan pada Anda. Penampilan Anda boleh saja berkelas tapi ternyata mulut Anda seperti iblis," ujar Queen berapi-api. Saat menatap Ken ia tahu laki-laki itu tampak marah tapi dirinya tak peduli.
"Kenapa Mr. Linwood Anda tidak terima dengan perkataan saya? Ingin menampar, mengusir atau menyeret saya keluar dari rumah ini? Saya tidak takut karena saya juga sudah muak menghadapi sikap menyebalkan Anda selama ini!" ujar Queen menatap Ken dengan berani.
"Dan jika Oma ingin tahu, saya pulang malam karena bekerja untuk menafkahi diri saya sendiri sebab suami yang saya nikahi terlalu pelit untuk memberi saya nafkah," tambah Queen kemudian bergegas naik ke atas berusaha bersikap tegar.
***
Jangan lupa klik love & komentnya jika suka dan kalian juga akan mendapatkan notifikasi saat saya update new part. Thx ^^