9

1060 Words
Seminggu berlalu sejak kejadian itu dan dirinya tak bertegur sapa dengan Ken karena merasa begitu marah. Tapi saat ini ia mulai gelisah jika harus terus bermusuhan dengan Ken Walau marah pada laki-laki itu tapi ia tetap memastikan Ken makan dengan baik sebab idenya ternyata berjalan lancar karena sekarang makanan-makanan di kantor Ken, hotel tempat ia bekerja yang mengurusnya meski laki-laki itu tak tahu. Ia sangat berterima kasih pada Rich walau tak tahu bagaimana caranya laki-laki itu kembali berhasil melakukan semua itu untuknya. Dengan risau akhirnya ia memutuskan menghubungi seseorang yang bisa ia mintai nasehat. Queen menanti dengan hati berdebar-debar saat panggilannya tersambung tapi belum di angkat. "Halo?" "Mama." "Queen, apa kamu baik-baik saja?" "Ma, aku bertengkar dengan Ken karena kedatangan Oma," ujar Queen memulai dan dari seberang Amber diam mendengarkan. "Apa yang dia lakukan?" "Dia mengatai Bunda jalang dan aku tak tahan hingga melawannya. Kemudian Ken marah padaku karena aku juga melawannya. Sekarang aku mulai mengerti apa yang terjadi, jika Ken pasti selalu dihasut olehnya." "Ya, Mama tahu itu dan Mama pernah memberitahumu jika suatu hari kamu akan tahu apa yang sesungguhnya terjadi di dalam keluarga ini." "Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan." "Mengalahlah padanya satu kali ini dan maaf jika Mama meminta hal itu padamu tapi Ken memang sangat menyayangi neneknya karena saat mamanya meninggal wanita itu yang merawatnya selama tiga tahun bahkan setelah Mama menikah dengan Papa dia masih terus tak membebaskan Ken dari pengaruhnya Terus memasukkan hal-hal yang tak baik ke dalam kepalanya hingga Ken berubah seperti itu. Jadi buat Ken menyadari siapa kamu dan jika kamu berhasil masuk ke dalam hatinya maka tak ada yang bisa memisahkan kalian." Queen menghela napas mendengarnya. Melihatnya saja laki-laki itu tak sudi, apalagi membiarkannya masuk ke dalam hatinya. "Baiklah, Ma," jawab Queen meski masih tak yakin apa yang akan dia lakukan. Setelah menelepon Amber ia kembali memikirkan semuanya dan saat tak tahan lagi akhirnya dia menghubungi bundanya. "Bunda." "Queen, ada apa?" Ia kemudian menceritakan semuanya pada bundanya dan bertanya apa yang harus dilakukannya. "Queen, sejak pertama, saat kamu sudah memutuskan menerima pernikahan ini maka kamu harus memperjuangkannya meski jalan yang akan kamu lalui sulit. Jadi apa pun yang akan terjadi keputusan akhirnya ada di tanganmu." "Baik, Bunda," timpalnya kemudian berpamitan dan menutup sambungan telepon. Walau ia mengira Ken akan segera menceraikannya setelah kejadian itu bahkan ia sudah siap tapi ternyata tak ada yang terjadi hingga membuat ia memikirkan semuanya lagi. Sekarang ia tahu jika Ken sangat menyayangi neneknya dan akhirnya ia memutuskan akan mengalah kali ini. Dirinya juga berencana bermain cantik di kemudian hari agar bisa menang melawan wanita ular itu. Dengan perlahan ia keluar dari ruang kerja Ken sebab dirinya segera berlari ke sana untuk menelepon saat mendengar mobil Ken memasuki halaman rumah. Ia membuka pintu kamar tidur dengan pelan. Menemukan jika laki-laki itu tak ada di sana. Sampai akhirnya ia mendengar suara air mengalir dan tahu jika Ken sedang mandi. Queen duduk di sofa menunggu Ken keluar dari sana dan saat pintu kamar mandi terbuka ia melonjak bangun dari duduknya menatap Ken yang balik menatapnya. Dirinya semakin gugup saat melihat tatapan dingin pada kedua mata itu dan penampilan Ken yang hanya memakai handuk dengan kulit yang basah tak membantunya sama sekali. "Mau apa kamu di sini? Kamarmu di sebelah!" ujar Ken dingin. "Aku...aku ingin minta maaf untuk kejadian malam itu." Ken berlalu dari hadapan Queen menuju lemari pakaiannya kemudian mengambil baju gantinya. "Mr. Filmore," panggil Queen lagi. Ia bisa melihat seketika laki-laki itu terdiam di tempatnya. "Maaf, aku tidak bermaksud untuk tidak sopan tapi aku tak terima jika bundaku dihina seseorang." "Dan aku juga tidak suka saat seseorang tidak sopan pada nenekku!" "Karena itu aku mencoba untuk minta maaf tapi sikapmu sama sekali tak membantu." "Pergilah ke kamarmu! Aku tak ingin membahasnya lagi." "Kenapa kamu membenci Mama?" tanya Queen mencoba memahami laki-laki itu. "Aku sudah memberikanmu kesempatan untuk lolos dari semua ini jadi jangan memancingku!" geram Ken menatap Queen marah. "Aku hanya ingin tahu. Walau dia bukan ibu kandungmu tapi dia yang merawat dan membesarkanmu." "Jangan mengatakan hal yang sama sekali tak kamu ketahui." "Kalau begitu beritahu aku agar aku tahu," timpal Queen. "Aku bisa melihat betapa Mama menyayangimu, dia selalu ada saat kamu membutuhkannya. Dia akan cemas saat kamu sakit dan bahkan saat Papa marah, dia akan selalu membelamu walau kamu terus bersikap jahat padanya." "Tutup mulutmu! Atau aku yang akan membungkamnya untukmu!" bentak Ken semakin marah tapi Queen tak peduli sebab ia ingin Ken memberitahunya apa yang ingin ia tahu karena tak ingin membuat mertuanya bersedih jika ia bertanya langsung padanya. "Jadi kenapa kamu tak bisa melihat semua kebaikan itu pada dirinya? Padahal dia bahkan menyayangimu sama seperti dia menyayangi kedua anak kandungnya. Buka matamu lebar-lebar dan dengarkan suara hatimu jika kamu memiliki hati maka kamu akan menyadari kalau apa yang aku katakan memang benar." Queen terkesiap mundur saat Ken berderap menghampirinya dengan marah. Ia memejamkan matanya erat sesaat takut mungkin laki-laki itu akan memukulnya. Tapi ia semakin terkejut saat laki-laki itu malah merengkuhnya kemudian melemparkannya di atas ranjang. "Kamu mau apa?" tanya Queen takut. "Membungkam mulutmu," ujarnya. Ken kemudian kembali ke lemari dan mengaduk-aduk di sana. Ia kembali mendekat pada Queen sambil membawa beberapa dasi. "Kamu mau apa dengan dasi-dasi itu?" tanya Queen beringsut menjauhi Ken ke kepala ranjang. Ia semakin panik saat laki-laki malah mendekat padanya kemudian memaksanya menelungkup. Menarik tangan Queen ke belakang walau wanita itu memberontak dan kemudian mengikat kedua lengannya juga kakinya. "Lepaskan aku laki-laki gila!" jerit Queen marah tapi Ken bergeming. Hingga sebuah dasi juga di letakkan pada mulutnya dan Ken mengikatnya membuat teriakannya berubah menjadi gumaman saja. Setelah itu Ken mengenakan celana pendeknya, tanpa atasan dan berbaring di samping Queen memejamkan mata. Queen menatap Ken dengan tatapan ingin membunuhnya. Ia berusaha bergerak-gerak melepaskan ikatannya tapi tak berhasil sampai akhirnya dirinya menyerah dan hanya berbaring diam di sana. 'Awas saja jika aku berhasil lepas dari ikatan ini, aku cekik mati laki-laki kejam itu' batin Queen kesal. Perlahan kedua matanya terpejam dan dirinya tertidur di sana. *** Queen terbangun dengan perlahan dan membalikkan tubuhnya sampai ingatan apa yang terjadi padanya kembali. Ia menyadari jika Ken sudah melepaskan ikatannya entah sejak kapan tapi seketika kemarahannya kembali saat ingat kelakuan semena-mena laki-laki itu. Ia menemukan Ken masih tertidur di sebelahnya, dengan kesal dirinya duduk di atas tubuh Ken dan berusaha mencekik lehernya. "Hari ini aku akan membunuhmu, b******n!" ujar Queen kesal.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD