10

1238 Words
Seketika Ken terjaga saat merasakan sesuatu menimpanya bahkan lehernya terasa tercekik. Ia membuka mata dengan cepat dan menemukan istri gilanya sedang duduk di atasnya perutnya, berusaha mencekiknya. Dengan cepat ia menarik lepas tangan-tangan itu dari lehernya. "Apa kamu sudah gila?!" bentaknya kesal. "Ya, bukankah semalam kamu memperlakukanku seperti orang gila jadi biar aku perlihatkan padamu seberapa gilanya aku!" balas Queen tak kalah kesalnya. "Dasar bar-bar!" geram Ken kemudian mengangkat Queen dari atas tubuhnya dan melemparkannya di atas ranjang, menindihnya di sana. Dengan marah Queen memberontak di bawah tubuh Ken berusaha kembali ingin menyakiti laki-laki itu. "Diamlah atau aku akan kembali mengikatmu!" Sontak hal itu membuat Queen langsung berhenti dan napasnya yang terengah karena kelelahan membuat dadanya naik turun. Mereka hanya saling bertatapan dalam diam dan tanpa bisa Ken kendalikan matanya menyusuri wajah gadis yang ada di bawahnya terus turun menuju bibirnya. Queen yang menyadari ke mana Ken menatap tak bisa menahan reaksinya. Ia merasakan bibirnya terasa panas hingga seketika mengering dan dirinya menjilatinya perlahan. Ia terbelalak saat menatap kedua mata Ken dan menemukan jika kedua mata itu berubah menggelap. Queen panik hingga kembali bergerak-gerak di bawah tubuh Ken. Berusaha mendorong laki-laki itu agar menjauh darinya. "Diamlah!" geram Ken memejamkan matanya erat tapi Queen yang sudah panik terus berusaha melepaskan diri dari Ken bahkan memukulnya. Hingga dengan kesal laki-laki itu menangkap kedua tangannya, menariknya ke atas dan mengikatnya dengan dasi ke ranjang. "Apa yang kamu lakukan?!" jerit Queen kesal. "Aku sudah memintamu untuk diam, jadi jangan salahkan aku." "Ternyata selain pelit, gila kerja, kamu juga sakit jiwa," teriak Queen melampiaskan kemarahannya. "Entah apalagi yang belum aku ketahui tentangmu," ujar Queen kesal. "Aku..." Mata Queen terbelalak saat Ken membungkam bibirnya kembali tapi bukan menggunakan dasi melainkan dengan bibir laki-laki itu sendiri. "Dasar gila!" jerit Queen saat Ken melepaskan ciumannya. Tapi suaranya harus kembali terhenti saat Ken kembali memagut bibirnya, kali ini dengan perlahan mencicipi bibirnya pelan. Queen hanya bisa terdiam di sana saat desiran aneh merambati tubuhnya hingga ia lupa bereaksi. "Sekarang aku tahu cara ampuh untuk membungkam mulutmu," ujar Ken setelah kembali melepaskannya lagi. Belum sempat Queen menyelesaikan ucapannya, Ken kembali menciumnya. Dirinya tak berani bicara lagi saat Ken kembali melepaskannya. "Apa kamu sudah tenang?" tanya Ken dan dengan cepat Queen menganggukkan kepalanya sebab tak tahu apa yang mungkin akan laki-laki itu lakukan lagi padanya jika ia mencoba bicara kembali. Ia lega saat Ken melepaskan ikatannya dan dengan cepat dirinya turun dari ranjang, bergegas berjalan menuju kamarnya bahkan hampir berlari. "Tunggu!" perintah Ken membuat ia menghentikan langkahnya. "Lain kali jika kamu memancingku lebih dari ini maka aku tak hanya akan mengikat dan menciummu saja," ujarnya perlahan tapi Queen tahu penuh dengan nada ancaman di sana. Ia dengan cepat berlari ke kamarnya sebelum laki-laki gila itu kembali mengikatnya. Bahkan ia sengaja berlama-lama saat mandi dan berangkat kerja karena tak ingin bertemu lagi dengannya. Queen lega saat keluar dan menemukan jika laki-laki itu memang sudah pergi bekerja. Ia juga segera berangkat sebelum dirinya terlambat tiba di hotel. *** Saat ini Queen sedang sibuk menghias makanan yang akan disajikan pada para pelanggan mereka. Dengan saksama ia memperhatikan detailnya dan menghiasnya seindah mungkin. Setelah selesai, makanan itu di bawa oleh seorang pelayan pada pemesannya dan ia kembali mengerjakan hal lainnya. Siang hari saat istirahat ia menatap ponselnya dan tak bisa mencegah dirinya untuk kembali mengirimkan sms pada suaminya. Sejak mereka menikah, ia memang selalu mengirimkan pesan teks pada Ken, bertanya apakah dia sudah makan tapi tak pernah laki-laki itu balas. Queen kemudian kembali mengetik pesannya. "Apa kamu sudah makan?" Ia menatapnya ragu dan tak tahu apa harus mengirimkannya lagi tapi keraguannya hanya sesaat sebab jarinya tak bisa menahan diri untuk menekan tombol kirim. Lima menit berlalu tapi balasannya tetap tak ada. Hingga akhirnya waktu istirahatnya juga habis dan laki-laki itu juga tak membalasnya. Ia hanya bisa menatap sedih ponselnya, kemudian kembali memasukkannya pada loker. Memutuskan kembali mengabaikan hatinya yang terluka dan bekerja seperti biasanya untuk menutup luka itu. Saat jam kerjanya habis, ia kembali pulang dan menemukan Ken sudah ada di kamar kembali. "Tak bisakah kamu membalas pesanku?" tanya Queen kesal. "Aku tidak memintamu mengirimkannya." "Apa susahnya hanya mengetik sudah atau belum?" "Aku tak suka membalas pesan teks." "Baiklah, mulai besok aku akan menelepon." "Aku tak suka menerima telepon darimu." Queen menghela napas lelah kemudian memilih mengabaikan Ken jika tak ingin semakin kesal atau terluka. "Baiklah, mulai besok aku tak akan peduli lagi padamu, mau kamu mati kelaparan, tidak pulang atau bekerja sampai tewas. Aku tak peduli! Dengarkan hal itu Mr. Linwood!" ujar Queen kesal, berderap menuju kamarnya. Ia kemudian masuk ke kamar mandi dan tak bisa menahan aliran air matanya lagi. Dirinya terisak di sana karena tak tahan lagi dengan pernikahan yang datar ini. Setelah puas melampiaskan rasa kesalnya ia kemudian mandi dan turun ke bawah untuk makan sendirian seperti selama ini. Selesai makan ia kemudian masuk ke kamar dan mungkin ia akan meminta laki-laki kejam itu menutup pintu penghubung kamar mereka dan membuka pintu pribadi untuknya agar tak perlu melihat wajahnya lagi atau lebih baik dia tidur di kamar lain saja mulai malam ini karena tak tahan jika harus terus melewati kamarnya hingga membuatnya terpaksa melihat wajah itu. Queen masuk ke kamarnya dan mengangkat bantal-bantalnya juga selimut kemudian berderap pergi dari sana. Ia abaikan saja Ken yang ia tahu menghentikan pekerjaannya dan menatapnya. "Mau ke mana?" Queen tak menggubrisnya dan tak mau menjawabnya. Dengan susah payah ia membawa semuanya dalam satu kali angkat agar tak perlu kembali ke kamar ini lagi, tentu saja dirinya akan kesulitan berjalan. "Apa kamu tuli?!" Queen masih tak mau memedulikannya hingga dirinya terkejut saat bantal-bantal itu direbut dari tangannya dan dilempar ke atas lantai. Ia masih tak peduli dan kembali ingin mengambilnya tapi dengan marah Ken merengut lengannya. Mencengkram kedua lengan Queen menghadapnya. "Apa maumu?!" geram Ken. Queen terbelalak saat Ken menariknya begitu dekat hingga wajah mereka hampir menempel. Dengan cepat ia menahan kedua tangannya pada d**a laki-laki itu. "Tidak enak bukan rasanya diabaikan," sinis Queen mengeliat berusaha melepaskan cengkraman Ken padanya tapi laki-laki itu tak mau melepaskannya. "Kamu yakin ingin memancingku?" tanya Ken pelan hingga Queen terbelalak sebab ingat apa yang terakhir kali terjadi padanya karena memancing kemarahan Ken. "Aku hanya memberimu kesempatan untuk tak perlu melihat wajahku lagi dengan aku tidur di kamar lain. Jadi aku juga tak perlu melihat wajahmu!" "Agar malam-malam kamu bisa mengendap-ngendap keluar menemui kekasihmu?" "Jaga bicara Anda, Mr. Linwood, karena kesabaranku ada batasnya." "Begitu juga aku! Kembali ke kamarmu atau tidur di sini bersamaku!" ujar Ken melepaskan lengan Queen. Dengan kesal ia mengambil bantal-bantalnya yang ada di lantai tapi bukannya menuruti perintah Ken. Ia kembali membuka pintu utama, sebab ia sudah muak dengan laki-laki itu. Belum sempat ia keluar sepenuhnya, dirinya merasakan jika tubuhnya melayang hingga semua barang yang ia bawa terlepas. "Akhhh! Turunkan aku!" ujar Queen marah saat sadar jika Ken yang mengangkat tubuhnya. Laki-laki itu mengunci pintu dan melemparkannya ke atas ranjang. Saat Queen ingin turun ia merengkuh pinggangnya dan mengunci Queen di dalam dekapannya. "Tidurlah, aku lelah, kita bergulat lagi besok saja," ujar Ken terus memeluk tubuh Queen. Ia terdiam saat mendengar ucapan Ken sebab ia juga merasa sangat lelah saat ini bahkan dirinya kembali ingin menangis. Saat merasa jika Ken sudah tidur ia membiarkan air matanya mengalir dan berusaha melepaskan rangkulan Ken pada pinggangnya tapi tetap tak berhasil. Hingga tanpa ia sadar rasa lelah mengalahkannya dan dirinya tertidur di dalam dekapan laki-laki itu. *** Masih Ready WA 081398520888 Shopee : Angelvin Tokopedia : Angelvin Onlineshop
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD