BIRU
"Laraas! Sudah tahu banyak yang beli, ngapain sih kamu terus saja di situ? Simpan saja anak sialanmu itu di belakang dan cepat bantu aku melayani pembeli!" teriak seorang wanita yang berada di depan kios kepadanya.
"Mba, namanya Biru ... anak aku. Sebentar ya Mba, Biru masih belum selesai makannya," sahut Laras sambil tetap menyuapi sang buah hati yang juga sedang berusaha keras mempercepat kunyahan makanan di mulutnya. Seolah tak mau jika dia menjadi alasan masalah untuk ibunya.
"Terus saja perlakukan anakmu seperti raja, meskipun ayahnya entah di mana rimbanya!" ketus Dela.
Laras menarik nafasnya dalam-dalam, sudah tidak aneh untuknya jika Dela berbicara kasar kepadanya seperti itu. Satu-satunya yang selalu membuatnya kesal adalah karena sering mengungkit hal tersebut di depan Biru, hal yang sangat tidak diinginkan oleh Laras.
"Sayang, pakai headsetnya terus ya. Jangan dilepas, oke?" Laras tersenyum sambil membetulkan posisi headset di telinga sang buah hati demi memastikan jika headset itu sedari tadi masih terpasang dengan baik di telinga sang putra sehingga Biru tidak akan mendengar apapun yang dikatakan oleh Mba Dela tadi.
"Mama, aku makan sendiri saja." Suara balita tampan bernama Biru itu terdengar, seketika itu juga perasaan Laras disapu kepedihan yang sangat dalam.
"Tidak apa-apa, Mama akan menyuapi kamu sampai habis makanannya. Biru harus makan yang banyak." Laras mencoba menegaskan jika dia akan baik-baik saja meski masih harus menunggui Biru menghabiskan makanannya.
Namun, perkiraan Laras kali ini salah. Dengan langkah yang penuh emosi, wanita yang tadi meneriakinya itu kini tengah melangkah dengan cepat ke arahnya.
Dalam satu gerakan tangan, wanita bernama Dela itu menumpahkan nasi bungkus di tangan Laras hingga berceceran di lantai.
"Mba Dela," sontak Laras menyebut namanya karena sangat terkejut dengan sikap sang pemilik kedai barusan.
"Sudah makan gratis, masih juga ngeyel dan gak mau kerja cepet! Makan dari lantainya langsung bakal lebih enak." Dela mendecih sambil melaluinya begitu saja.
Laras tak terima dengan apa yang dilakukan Dela, tapi dia juga tak bisa berbuat banyak untuk menentang wanita tersebut.
"Maafkan saya Mba. Biru sayang, Mama kerja dulu ya. Biru tetap di sini bermain rubiknya ini ya." Laras bergegas merapihkan tumpahan nasi di lantai, dengan mata yang berkaca-kaca.
Perutnya sedari malam tak terisi, membuat makanan yang sudah berhamburan itu pun tetap saja terlihat nikmat untuknya. Yaa, dengan upah tiga puluh ribu rupiah bekerja seharian penuh di kedai ini, Laras hanya bisa membeli satu porsi makan malam dan juga menyisihkan uangnya untuk memperpanjang kontrakannya di akhir pekan.
"Mama, jangan makan nasi kotor itu."
Suara Biru menghentikan tangan Laras yang hampir saja menyuapkan makanan yang dipungutinya barusan.
"Ahh, Biru ... mana mungkin Mama memakan nasi kotor ini. Mama tadi hanya ingin menggaruk hidung Mama yang terasa gatal." Laras segera berdalih dan mengurungkan niatnya untuk makan.
Balita itu pun tersenyum, dan kembali anteng dengan rubiknya. Sementara delikan tajam Dela di depan sana kembali menghujam netra Laras, membuat wanita ini bergegas melangkah ke depan kedai.
Sepanjang hari, Laras berjibaku melayani pelanggan kedai yang selalu ramai ini. Dia memasak semua menu dan menyajikannya, sementara Mba Dela yang merupakan putri pemilik kedai ini hanya bertugas berbelanja bahan masakan dan juga menerima pembayaran.
Tak sepadan. Ya, upah tiga puluh ribu dengan beban kerja sejak jam enam pagi sampai jam tujuh malam dan hanya mendapatkan makan siang serta sebungkus camilan saja memang tak sepadan dengan pekerjaan berat yang dilakukan Laras. Sayangnya, Laras tak punya pilihan.
Sejak lima tahun lalu, kedai ini menjadi satu-satunya kehidupan yang dimiliki Laras. Di usianya yang saat itu baru 22 tahun, pemilik kedai ini yang bernama Mbok Tiram, adalah penolong dan sekaligus malaikat untuk Laras. Disaat dia terusir dari rumah dan semua kehidupan gemerlapnya di ibukota, tangan terbuka Mbok Tiram yang menemukannya pingsan di pinggir halte bis telah menyelamatkannya.
Karena jasa Mbok Tiram itu jugalah Laras tak terlalu mempedulikan hinaan dan caci maki Mba Dela kepadanya. Sejak Mbok Tiram meninggal setahun yang lalu, Mbak Dela memang jadi harus bekerja keras menggantikan posisi ibunya dalam mengurus kedai keluarganya ini.
Meski kedai ini sederhana, tapi masakan lezat yang dihidangkan Laras nyatanya membuat pengunjung kedai menjadi semakin ramai semenjak dirinya sendiri yang memasaknya. Dan hal tersebut juga yang membuat Dela tak bisa mengabaikan keberadaan Laras di sini. Meski demikian, tidak ada untung lebih yang didapatkan Laras meskipun pengunjung semakin bertambah.
Lewat pukul tujuh malam. Hujan deras mengguyur kota. Laras dan balita tampannya sudah duduk di bangku panjang yang berada di depan kedai, menunggu Mba Dela yang sedang mengunci kedai tersebut membayarnya.
Tak lama kemudian, Dela menyodorkan beberapa lembar uang lima ribuan kepada Laras. Dengan sangat bahagia Laras menerimanya.
"Mba, maaf ... tapi kenapa kurang lima ribu ya?" tanya Laras setelah menghitung uang pemberian Mba Dela yang hanya berjumlah dua puluh lima ribu rupiah itu.
"Hehh, sudah bagus aku masih memberimu bayaran. Kau ini tidak disiplin, telat terus melayani pembeli! Jadi kupotong lima ribu mulai sekarang jika jam enam pagi kamu belum siap melayani pembeli seperti tadi!Ngerti!" Dela membentak seraya melenggang pergi meninggalkan kedai.
"Mba, aku terlambat bukan karena aku yang telat tapi karena ... " Laras menghentikan kalimatnya, dia menarik naasnya dalam-dalam lalu membuangnya dengan sangat perlahan. Dia tahu, tidak ada untungnya dia membela diri kepada Mba Dela. Bahkan meski dia benar pun, Mba Dela akan tetap dengan pendiriannya.
"Baiklah sayang, ayo kita pulang." Laras kemudian mengajak sang putra keluar dari kedai.
Senang dengan jam pulang, seperti biasa Biru berlari mendahului Laras. Ditengah hujan yang masih sangat deras, balita tampan itu dengan jas hujannya berlarian riang ditengah trotoar jalan.
Dengan senyuman yang bahagia, Laras mengikutinya di belakang.
Sementara itu. Di jalanan yang tak jauh dari lokasi Laras bersama Biru. Dua mobil terlibat kecelakaan hebat, dan salah satunya terpental ke arah dimana Biru sedang berjalan riang bersama sang ibu.
Teriakan dari banyak orang di seberang sana, tak terdengar oleh derasnya hujan yang juga bersuara nyaring.
Sampai kemudian, Laras menyaksikan tubuh kecil Biru terpental jauh setelah sebuah sedan hitam menerobos trotoar dan menghantamnya.
"Biru!" teriak Laras sambil berlari cepat menghampiri sang buah hati.
Laras ambruk di depan sang buah hati yang tak sadarkan diri, sementara itu sejumlah pejalan kaki yang juga berada di lokasi pun mendadak riuh. Kendaraan lain yang melaju di jalan raya pun ikut berhenti.