"Biru!" teriakan Laras kini tercekat oleh tangisan yang semakin deras mengalir di wajahnya.
Wanita itu hanya bisa pasrah ketika sejumlah paramedis langsung menyerbu bangsal pasien dimana buah hatinya terbaring tak berdaya dengan darah mengalir deras dari kepalanya.
Sambil terisak, Laras terus berjalan mengikuti bangsal pasien yang kini di dorong masuk menuju koridor utama rumah sakit umum tersebut. Seorang dokter kemudian menghentikan langkahnya.
"Bu, silahkan urus administrasinya terlebih dahulu sementara kami akan menangani putera Anda." Meski lembut, bola mata sang dokter tergaris tegas membuat Laras sadar jika dokter tersebut tengah berusaha menegaskan situasinya.
"Baik dok, tapi ... putera saya?" ucap Laras terbata.
"Kami akan melakukan semua yang terbaik untuk menolongnya."
"Dokter, aku ... "
"Bu, silahkan isi data ini untuk memudahkan kami memberikan pelayanan." Perawat berambut pendek yang sedari tadi mengikuti Laras kemudian menyodorkan sebuah dokumen yang harus diisinya.
"Kami akan berusaha menanganinya dengan usaha terbaik." Seolah mengerti kecemasan Laras, dokter di hadapannya itu kembali mengulang kalimat yang nyaris sama.
"Baiklah, tolong putraku dok." Laras mengatakannya seraya melepaskan genggaman tangannya dari tepian bangsal pasien yang sedari tadi sangat erat digenggamnya.
Dengan nafas yang tersengal, Laras merelakan Biru dibawa dokter masuk ke dalam ruangan tindakan. Sementara dia kini segera berusaha mengisi dokumennya dengan cepat supaya bisa segera menemani Biru lagi.
"Bu, apakah ada asuransi kesehatan?" tanya perawat yang menemaninya ketika memeriksa hasil pengisian Laras yang mengosongkan asuransi kesehatan.
Wajah jelita yang lelah dan tengah sangat pilu milik Laras pun segera menoleh ke arah si pemilik suara. "Apakah harus memiliki asuransi supaya putraku bisa ditangani?" tanya Laras lirih.
Perawat di depannya mengangguk lemah, "biaya operasi tidak sedikit jika harus ditanggung mandiri Bu, kecuali Anda memang sanggup." Tangan perawat itu kemudian menuliskan perkiraan biaya operasi yang akan ditanggung Laras apabila tidak menggunakan asuransi kesehatan.
"Dua ratus juta?" ucap Laras dengan bola mata terbelalak menatap kisaran angka yang dituliskan perawat tersebut.
"Ini hanya perkiraannya Bu, bisa kurang atau bahkan lebih."
Laras terpaku dalam diam. Dunia mendadak terasa kembali gelap, seolah semua telah terhenti kali ini. Dia bingung dan sangat terpukul.
"Biru," gumamnya sambil menunduk dengan deraian air mata mengalir deras dari kedua sudut matanya.
Langkahnya gontai, Laras menepi ke arah pinggiran koridor demi sekedar menenangkan dirinya sejenak. "Tidak ada solusi lagi, aku harus menelepon ke rumah." Laras kemudian mengangkat lagi tubuhnya yang baru sejenak terduduk itu. Tujuannya kali ini adalah ruangan jaga perawat di bagian depan rumah sakit.
"Suster, maaf bisa saya meminjam ponselnya?" pamit Laras.
Dua orang perawat di hadapannya kemudian saling berpandangan sejenak sebelum salah satunya akhirnya mengeluarkan ponsel dari saku bajunya dan menyodorkannya kepada Laras.
"Ini Bu, silahkan." Dengan tatapan yang ragu dan penuh selidik perawat tersebut menyerahkan ponselnya kepada Laras.
"Terimakasih Suster, saya akan ganti biaya kuotanya nanti ya." Laras yang sebenarnya merasa tidak enakan pun mengatakannya dengan spontan sehingga perawat di depannya itu pun mengangguk.
Detik berikutnya, Laras segera menekan sejumlah urutan nomor yang tetap dihafalnya meski sudah bertahun-tahun berlalu dia tak pernah menggunakannya lagi.
Jantung Laras berdegup sangat kencang, manakala dering terhubung menyambut diseberang teleponnya.
"Hallo!"
Suara di ujung telepon menyambutnya, tapi Laras justru terpaku diam.
"Hallo! Siapa nih?"
Laras masih mematung.
"Siapa sayang?"
Suara bariton yang sangat khas terdengar di seberang sana. Suara yang sangat dikenalinya itu kembali terdengar setelah sekian lama. Laras menghela nafasnya dalam-dalam, sampai suara manja wanita yang mengangkat teleponnya di awal tadi kembali terdengar.
"Lupakan deh Mas, orang gak jelas ini sih. Ayooo.... aku kangen."
"Masha ... Kamu ini nakal banget sih... Sini ... "
Laras mematikan sambungan telepon setelahnya, harapannya memudar dalam sekejap. "Kamu memang ingkar Mas," batin Laras sambil menyerahkan ponsel tersebut kembali kepada pemiliknya.
"Suster, berapa saya harus membayarnya?" tanya Laras sambil terus sibuk menyeka sudut matanya yang berlinangan.
"Tidak perlu bayar Bu, ini menggunakan wifi rumah sakit juga kok."
"Ohh, begitu ya? Baiklah ... terima kasih." Laras merasa lega, dia segera pamit undur diri dari dua perawat tersebut. Masih dengan kebingungan yang sulit diuraikannya.
"Kemana aku mencari uang dua ratus juta?"
Kalimat pendek itu terus menerus menggerus pikirannya, sementara di dalam ruangan tindakan dokter sudah melakukan pemeriksaan kepada Biru.
Malam semakin merajut kelam, Laras terduduk di sebelah ranjang pasien dimana Biru terbaring masih tak sadarkan diri.
"Biru sayang, apa yang harus Mama lakukan sekarang?" Laras menciumi punggung tangan sang putra kesayangan.
Tidak ada jawaban, selain suara alat medis yang berada di kamar tersebut.
Sunyi dan sangat senyap sehingga suara isak tangis Laras pun begitu kuat terdengar.
"Korban dirawat di ruangan ini, dokter sudah menyiapkan sejumlah penanganan medis untuknya." Suara di luar kamar terdengar nyaring, membuat Laras segera menoleh.
Tak berselang kemudian, pintu terbuka dan seorang pria dengan borgol ditangannya melangkah masuk ditemani dokter yang menangani Biru dan juga dua petugas dari kepolisian.
Seketika, kemarahan Laras tak terbendung.
"Jangan pernah berani menyentuh putraku! Dasar pria payah! Seharusnya kau tidak mengemudi dalam keadaan mabuk! Kau tahu siapa yang kau korbankan? Biru ... Biru ... Dia Biru! Putraku! Kau membuatnya kesakitan! Kau jahat!" teriakan Laras disertai amukan kemarahannya ini yang tak bisa ditahan bahkan oleh dua petugas polisi yang menjaga pria tersebut. Mereka kewalahan oleh kemarahan Laras yang mendadak.
"Bu, tolong tenang! Ini rumah sakit," suara tegas dokter yang menangani putranya itu akhirnya berhasil membuat Laras sedikit lebih tenang.
"Aku minta maaf atas apa yang terjadi, aku akan memastikan bahwa kami akan bertanggung jawab dan akan membayar biaya perawatannya, sampai putera Anda sembuh dan memberikan jaminan lainnya." Seorang pria dengan kacamata kemudian melangkah mendekati Laras yang kini tengah ditenangkan oleh seorang perawat di dekat ranjang Biru.
"Suster, tolong bawa mereka keluar dari sini!" pinta Laras dengan setengah memohon.
"Bu, Bapak ini datang dengan niat baik."
"Apa? Niat baik apa? Dia akan bertanggung jawab? Seperti apa? Bagaimana? Bagaimana dia akan bertanggung jawab kepada Biru-ku!"
"Bu, tenanglah ... "
Tangisan Laras kembali pecah karena dia merasa payah sendiri dan tidak mampu membela diri di saat seperti ini. Suster itu memang benar, dia akan bertanggung jawab. Tapi batin ibu mana yang tidak akan murka, ketika yang bicara dengannya untuk bertanggung jawab itu adalah orang lain, bukan pelaku yang menabrak Biru.
"Aku tidak akan menganggap dia telah bertanggung jawab sampai pria payah itu sendiri yang meminta maaf kepada putraku! Ingat itu!" Dengan suara yang terbata karena diselingi tangisan, Laras dengan lantang mengatakannya seraya menunjuk wajah pria mabuk di depannya.