Apakah Dia?

1037 Words
"Sayang, aku benar-benar harus berangkat. Pamanku dalam masalah." "Dave, kau tak boleh begini, aku kan masih kangen." "Sonya, berhentilah. Pamanku ditahan polisi karena menabrak seseorang." "Baiklah, kenapa dia tak menikah saja sih biar ada yang ngurusin! Gak usah ngerepotin terus kayak begini!" "Sonya!" "Ya sayang, pergilah. Aku akan keluar dengan teman-temanku, jangan mencariku saat pulang nanti!" Dave hanya bisa mendengus kesal sambil merapihkan pakaiannya yang semenjak tadi berceceran. Sementara tangannya terus mengetik pesan kepada asisten sang paman yang sedari tadi memintanya datang. Tak banyak bicara lagi, Dave segera pergi meningalkan apartemennya menuju ke lokasi dimana sang paman berada. Sebuah alamat kantor polisi dikirimkan asisten sang paman kepadanya. "Dimana pamanku?" tanya Dave dengan sangat malas. "Tuan Januar ada di dalam, dia mabuk berat. Anda akan menjadi wali keluarga untuk membebaskannya Dave." Sang asisten yang bernama Heri menuturkan, pria itu pun segera mengajak Dave masuk ke dalam kantor Kepolisian Resort yang cukup luas tersebut untuk menemui Januar. Di dalam sebuah ruangan penyelidikan, dua petugas dari kepolisian masih berusaha mewawancarai Januar. "Pamanku itu tidak akan bisa berbicara dengan baik dengan cara seperti itu." Dave berjalan dengan pongah ke dalam ruangan. Satu tamparan kemudian mendarat di wajah Januar. "Pamanku yang bodoh! Pak Polisi sedang bertanya padamu, jadi jawablah sebelum aku membuang semua ikan koi kesayanganmu itu!" suara Dave sangat lembut namun kasar, seketika membuat Januar menoleh ke arahnya dan menatapnya dengan sangat tajam. "See? Begitulah cara bicara dengannya Pak Polisi," ucap Dave kembali merasa bangga. Dan interogasipun berlanjut sampai hampir dua jam lamanya. Setelah selesai menyelesaiakn data administrasi dan juga pernyataan perwalian, Dave pun pulang dengan membawa Januar. "Uang memang segalanya, mereka bisa melepaskanmu karena jaminan uang dari Kakek. Payah sekali! Kenapa kau sangat merepotkan, malam seperti ini dan aku harus menemui korban yang kau tabrak! Dewasalah paman, kau ini sudah bukan anak kecil lagi!" Dave terus menggerutu dan mengomel di sepanjang jalan. Sementara di sebelahnya, Januar hanya duduk diam sambil menatap keluar jendela mobil dimana hujan deras mengguyur sepanjang perjalanan mereka. "Kita sudah sampai, dari data ini seharusnya korban berada dalam perawatan di paviliun ini." Heri menghentikan mobilnya perlahan sambil memperhatikan nama paviliun rumah sakit di dekat pintu masuk dan mencocokkannya dengan data yang diberikan pihak kepolisian. Mobil pun terhenti, dan tak lama kemudian Heri segera turun dengan payung di tangannya. Dia membuka pintu belakang sebelah kanan dimana Januar duduk di dalamnya. "Tuan, ayo kita masuk dan menemuinya," ucap Heri seraya menuntun Januar untuk turun. "Her! Dimana ATM nya? Berapa ganti rugi yang akan diberikan?" tanya Dave sambil mengeluarkan dompetnya dan memeriksa sederet kartu ATM di dalamnya. Heri menjawabnya dengan gelengan, jelas saja dia tak bisa memutuskan berapa nominal ganti rugi yang akan diberikan oleh sang Tuan kepada korban yang ditabraknya mengingat hal tersebut seharusnya adalah keputusan dari Januar. "Pamanku yang bodoh, berapa kau mau memberinya?" tanya Dave dengan raut wajah enggannya bertanya. Dan Januar hanya diam. Pria itu sibuk menikmati tetesan air hujan yang berjatuhan dari sudut payung yang digunakan Heri untuk menaunginya. Sadar jika yang diajak bicara olehnya tak merespon, Dave pun geram. Dia menendang tong sampah di sebelahnya hingga terlepas dari dudukannya, lalu melenggang pergi menuju sebuah ATM yang terlihat berada di seberang, bersebelahan dengan ruangan PICU rumah sakit tersebut. "Tuan, aku akan membereskan tong sampahnya dulu. Bisakah Anda memegangi payungnya sebentar?" ucap Heri kepada Januar. Tapi Januar tak meresponnya dan tetap diam. Heri menarik nafasnya dalam-dalam, dia kemudian meminta seorang juru parkir untuk membantunya merapihkan tong sampah yang ditendang Dave tadi. "Bawa dia masuk!" teriak Dave tak lama setelahnya. Heri menurut, dia mengajak Januar masuk ke dalam ruangan perawatan pasien di Paviliun Anggrek. Dengan langkah yang dipercepat, Dave pun tiba di ruangan yang dimaksudnya. Jam besuk memang sudah berakhir, tapi karena kedatangannya adalah atas ijin dari pihak berwenang maka kedatangan Dave pun segera diterima oleh para perawat jaga yang sudah dikonfirmasi sebelumnya. "Pak Dave, silahkan masuk." Seorang perawat langsung mengenalinya. Tentu saja, siapa tak kenal si tampan Dave dari keluarga Mountana. Pria satu-satunya yang menjadi generasi ketiga Mountana ini adalah pria idaman banyak wanita di luar sana. "Aku datang untuk meminta maaf atas apa yang dilakukan oleh Pamanku, sebagai ganti rugi aku membawakan uang muka ganti rugi ini untuk kalian. Semua biaya pengobatan akan ditanggung keluarga Mountana sampai putramu itu sembuh, Nyonya ...." Dave yang sedari tadi memalingkan wajahnya ke arah alat hemodialis di belakang ranjang pasien mendadak berhenti bicara ketika dia menurunkan pandangannya dan melihat wajah yang kini tengah terlelap di depannya. Jantungnya berdetak menjadi lebih cepat dari sebelumnya, sementara desiran hebat kini membuat aliran darahnya mengalir cepat. Gurat wajah cantik dengan lekukan hidung mancung dan juga bola mata yang semakin terlihat sempurna dengan bulu mata lentik yang mengitarinya itu tengah terlelap. Pandangan Dave tak berhenti disana, dia semakin terdiam manakala bibir kemerahan di depannya seperti sangat dikenalinya. "Laras!" suara bariton Dave tak bisa lagi terkontrol sehingga dengan mudah meloloskan nama tersebut dari bibirnya yang sedari tadi mengatup rapat. Mendengar namanya disebut, si pemilik wajah jelita di hadapan Dave itu pun langsung membuka matanya. "Dave! Apa yang kau lakukan disini!" desak Laras dengan mata terbelalak dan dipenuhi amarah. Ya, hanya sepersekian detik saja waktu yang dibutuhkan oleh Laras untuk bisa mengenali Dave. Detik dimana Dave masih terkejut oleh sikap Laras tersebut, wanita itu sudah bangun dari duduknya dan menyeretnya keluar dari ruangan perawatan dimana Biru sedang menjalani perawatan intensif. "Dia, apakah dia?" tanya Dave sambil terus menoleh ke arah ranjang pasien dimana dia melihat wajah tampan yang mewarisi wajahnya itu tengah terlelap dengan banyak sekali alat bantu kesehatan terpasang di tubuhnya. "Pergi dari sini!" tegas Laras saat keduanya berada di luar kamar. Belum sempat Dave menjawab, Laras sudah teralihkan oleh keberadaan Heri dan juga Januar di depannya. "Kau lagi? Sudah kubilang jika aku tidak akan pernah menganggap permintaan maanya sampai si pemabuk itu berlutut di hadapan puteraku!" cecar Laras penuh amarah kepada Heri dan juga Januar yang memang sedari tadi tengah menunggu disana. "Larasati! Katakan siapa anak yang ada di dalam itu?" Dave menarik tubuh Laras hingga mereka pun berhadapan. "Siapa? Apa yang kau tanyakan?" sahut Laras dengan mata berkaca-kaca penuh emosi kemarahan dan sekaligus rasa takut yang entah kenapa muncul begitu saja. Ya, ada kegusaran dan rasa takut kini menyergap jiwa Laras, sebuah ketakutan yang aneh. "Tidak Laras, jangan katakan dia adalah ... "
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD