Janin Itu Mati

1030 Words
Hembusan nafas Dave terasa demikian hangat, membuat Laras pun memundurkan langkah demi menghindarinya. "Katakan, apakah dia janin itu?" tanya Dave sambil terus menatap tajam kepadanya. Laras bergeming, ada kemarahan yang mendadak menyeruak mendengar kalimat yang diucapkan oleh Dave barusan. Kemarahan yang membuatnya sanggup menepiskan kedua tangan kekar Dave dari pundaknya. "Maksudmu janin yang kau ingkari? Tidak Dave, anak di dalam itu bukanlah dia. Janin itu mati sesaat setelah keinginanmu membunuhnya. Pergilah! Aku tidak butuh kalian disini!" sentak Laras sambil melangkah masuk dan menutupkan pintu ruangan perawatan Biru. Tubuh Laras disandarkannya pada daun pintu, ada desakan yang membuat dadanya terasa sesak dalam sekejap. Buliran bening pun dengan mudahnya lolos dari kedua sudut mata wanita bertubuh tingi semampai itu. "Kamu mengingkarinya Dave! Jadi jangan pernah mengungkitnya lagi!" batin Laras perih. Sementara diluar ruangan. "Tuan Dave, bagaimana dengan uang ganti ruginya?" tanya Heri bingung. Mendengarnya, Dave kemudian merogoh saku celananya. Sebuah amplop berisi uang tunai yang sudah disiapkannya itu pun kini hanya bisa dia genggamnya. "Masuklah, dan berikan uang itu kepadanya." Dave segera menyodorkan amplop ditangannya kepada asisten sang paman. Tak berselang kemudian, Heri mulai mengetuk pintu kamar di depannya. Alih-alih mendapatkan jawaban, pria paruh baya itu justru mendapatkan penolakan dari Laras. "Aku bisa mengobati putraku sendiri! Pergilah dan bawa pria mabuk sialan itu menjauh dari kami! Jangan pernah mencoba datang lagi!" Suara lantang Laras terdengar nyaring hingga menggema ke luar ruangan. Sejumlah perawat yang sedang lewat di koridor pun bisa mendengarnya dengan sangat jelas. Seorang Dave dan juga Januar baru saja diusir oleh seorang wanita di dalam ruangan. Setidaknya begitulah yang disimpulkan oleh para perawat tersebut. "Tuan, sebelum ada wartawan menyebarkan kabar tak baik, sebaiknya kita kembali ke kediaman utama." Heri mengajak Januar dan juga Dave untuk pulang. Dengan langkahnya yang pelan, kedua pria tampan yang bersamanya itu pun melangkah meninggalkan rumah sakit menuju parkiran. Tidak ada perbincangan di sepanjang jalan, tidak ada sepatah kata pun selain suara klakson mobil yang dikendarai Heri. Kembali ke rumah sakit. Setelah Dave pergi. Laras merasa gelisah dan juga gusar. Air mata masih terus berderai, ingatan lima tahun silam mendadak kembali memenuhi benaknya. "Biru, sayangku ... Ayo, kita harus pergi dari sini." "Bu, sedang apa?" "Suster, tolong bantu aku. Aku harus memindahkan Biru sekarang juga." "Bu, ini sudah malam dan pasien dalam kondisi belum stabil?" "Tidak, Biru ku akan sembuh hanya dengan pulang ke kamarnya dan juga tidur dengan bantal tayo-nya." Seorang perawat yang berada di depannya kemudian melangkah keluar dari ruangan. Laras tersenyum, dia mengira jika hal itu karena si perawat akan membantunya. "Biru sayang, Mama akan menjagamu di rumah kecil kita. Ayo pulang, kau tidak perlu lagi semua jarum ini. Mama tahu kau kesakitan, tapi anak Mama jagoan, hanya sebentar sampai kita tiba di rumah ya." Laras terus mengajak Biru berbicara, sementara kedua tangan wanita itu dengan cekatan mulai melepaskan infus dan beberapa alat kesehatan yang menempelkan alatnya di tubuh sang putra. "Bu Laras! Hentikan, Anda bisa membuat kondisi putra Anda kritis!" Seorang dokter membentaknya. Tak terima dengan bentakan dokter di depannya, Laras pun menyalangkan matanya. "Membuat kritis putraku? Siapa Anda sampai berani mengatakannya?" sahut Laras tak kalan menyentak. "Bu, tenanglah. Kondisi pasien mulai menurun dok,": suara perawat terdengar sambil sibuk memperbaiki letak alat-alat kesehatan yang tadi dilepaskan Laras dari tubuh Biru. "Periksa layar! Sematkan pendeteksi denyut!" perintah sang dokter. "Sudah Dok, denyut melambat." "Hubungi penjaga ruang ICU, siapkan satu kamar di sana sekarang!" Perintah dokter di depannya terdnegar, sementara dua perawat yang baru masuk pun segera kembali meninggalkan ruangan setelah mendapatkan perintah itu. "Dokter, terjadi pengenceran darah, pasien semakin kritis." Seorang dokter pun masuk dan mulai membantu rekannya, sementara Laras hanya terduduk lesu di sudut ruangan memperhatikan kekacauan yang baru saja dilakukannya. "Ini tak seharusnya Anda lakukan Bu," ucap dokter bernama Bayu tersebut kepadanya. Laras terdiam, air mata mengalir semakin deras, sementara itu bangsal pasien pun mulai di dorong keluar kamar. "Anda tetap disini! Suster, pastikan dia tetap di tempat ini sampai penanganan di ICU selesai. Aku juga akan melaporkan tindakannya kepada aparat berwenang untuk diberikan pengawasan." Kalimat panjang sang dokter pun tak terdengar lagi setelah seorang perawat menutup rapat-rapat pintu ruangannya. "Tidak, tidak bisa begini, Aku harus menjaga Biru. Aku harus bersamanya! Suster, buka pintunya, aku janji aku akan diam dan tidak mengacaukannya lagi." Laras memelas. "Maaf Bu, tindakan Anda tadi sudah sangat melampaui batas, dan kami memiliki kewenangan untuk mengambil alih perwalian pasien jika dalam kondisi terancam seperti tadi." "Apa? Terancam? Tidak suster ... Aku tidak mungkin membuat putraku terancam. Aku hanya ingin membawanya pulang dengan tenang." Suster di depannya mengangguk pelan, ada rasa simpati yang dirasakan Laras dari wajah paruh baya di hadapannya itu. "Bu, Anda sebaiknya beristirahat. Tidurlah, aku akan menemani Anda di sini." Seolah mengerti jika kondisi Laras tengah kacau, perawat itu dengan lembut meminta Laras istirahat. Dan ya ... Laras memang sedang sangat kacau kali ini, Bukan hanya kacau secara psikis tapi dia juga memiliki trauma hebat yang membuatnya bisa melakukan hal bodoh seperti tadi. Sementara Laras mulai tenang, meski dengan isak tangis yang belum juga mereda, di ruangan ICU dokter Bayu sudah berhasil menangani Biru dan membuat anak itu kembali mendapatkan kondisi stabilnya. "Suster, untuk sementara jangan biarkan ibu pasien beranam Laras itu berkunjung. Kita harus melakukan obeservasi kepada pasien selama dua puluh empat jam, aku juga sudah membuatkan catatan khusus agar ibu pasien bertemu dengan psikolog besok pagi. Sepertinya ada beberapa hal yang terjadi dan kita tidak mengetahui." Dokter Bayu mengatakannya sambil mencatatkan sejumlah resep dan catatan. "Baik dokter, kami juga akan menerapkan pengawasan lebih setelah apa yang terjadi tadi." Dokter Bayu kemudian menyerahkan lembaran dokumen di tangannya itu kepada perawat disebelahnya. Tak lama kemudian, sebuah panggilan telepon masuk ke ponselnya. "Ya, Pak. Ada apa malam begini menelpon?" tanya Bayu. Percakapan panjang lebar pun terjadi antara Bayu dengan si penelepon. "Janin itu mati! Dia sudah mati!" Teriakan nyaring disertai isak tangis terdengar dari arah ruangan Laras membuat langkah sang dokter pun mendadak terhenti. "Aku mengerti Pak, aku akan mencari tahu." Bayu pun mengakhiri percakapannya dan segera melangkah mendekati ruangan Laras. Malam yang merayap semakin menua pun membuat koridor demi koridor di dalam rumah sakit ini semakin lengang sehingga langkah tapak kaki Bayu bisa dengan sangat jelas terdengar. "Dia sudah mati, jangan kembali dan mengambilnya lagi!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD