Laras duduk di sudut ruangan dengan tubuh gemetar, hatinya dipenuhi kecemasan yang tak terbendung. Pikiran bahwa Dave akan mengambil Biru darinya membuatnya takut dan panik. Namun, melihat kondisi Biru yang semakin kritis, ia tahu bahwa putranya membutuhkan perawatan intensif di rumah sakit.
Dokter Bayu, yang baru saja mendengar teriakan Laras, mengetuk pintu perlahan sebelum masuk. "Laras, bolehkah saya masuk?" tanyanya dengan nada penuh perhatian.
Laras mengangguk lemah, matanya sembab dan tubuhnya gemetar. Bayu melangkah masuk dan mendekati Laras, duduk di sampingnya dengan hati-hati.
"Laras, aku tahu ini sangat sulit bagimu. Tetapi yang terpenting sekarang adalah kesehatan Biru. Dia membutuhkan perawatan yang intensif dan pengawasan medis. Kami akan memastikan dia mendapatkan perawatan terbaik," kata Bayu dengan lembut.
Laras menatap Bayu dengan mata yang penuh keputusasaan. "Aku takut, Dokter. Aku takut Dave akan mengambil Biru dariku. Dia sudah mengingkari janin kami dulu, dan sekarang dia kembali. Aku tidak bisa kehilangan Biru, dia segalanya bagiku," ujarnya dengan suara yang terisak.
Bayu mencoba memberikan kekuatan dan dukungan. "Aku mengerti ketakutanmu, Laras. Tetapi kita harus fokus pada apa yang terbaik untuk Biru sekarang. Kami juga akan memastikan bahwa kamu mendapatkan dukungan yang kamu butuhkan. Besok pagi, kamu akan bertemu dengan seorang psikolog yang bisa membantumu melalui masa-masa sulit ini."
Laras terdiam sejenak, merenungkan kata-kata Bayu. "Aku hanya ingin dia sehat, Dokter. Aku akan melakukan apa pun untuk memastikan dia sembuh," katanya akhirnya, suaranya penuh tekad meskipun matanya masih basah oleh air mata.
Bayu mengangguk. "Itulah yang terbaik untuk Biru. Mari kita bekerja sama untuk memastikan dia mendapatkan perawatan terbaik. Aku akan berada di sini untuk mendukungmu."
Sementara itu, di luar ruangan, Dave dan Januar menunggu dengan cemas. Mereka menyadari betapa rumit dan sulit situasi ini, tetapi mereka tahu bahwa langkah-langkah harus diambil demi kesejahteraan Biru.
"Tuan Dave, mungkin kita bisa bicara dengan Laras setelah situasi lebih tenang. Yang terpenting sekarang adalah kesehatan Biru," kata Heri, mencoba meredakan ketegangan.
Dave mengangguk, wajahnya penuh kekhawatiran. "Aku hanya ingin memastikan Biru mendapatkan perawatan yang dia butuhkan. Aku juga ingin memperbaiki kesalahanku di masa lalu," ujarnya dengan suara berat.
Dengan tekad yang sama, mereka menunggu perkembangan lebih lanjut, berharap Biru segera pulih dan semua konflik bisa diselesaikan dengan baik demi masa depan yang lebih cerah.
Laras bangkit dari tempatnya duduk, wajahnya menunjukkan tekad yang kuat. "Dokter Bayu, aku sungguh tidak akan membiarkan Dave mendekati Biru. Dia sudah cukup menyakiti kami," katanya dengan suara penuh kemarahan dan kepedihan.
Bayu menatap Laras dengan tenang, mencoba menenangkan amarah yang berkobar dalam dirinya. "Laras, aku mengerti perasaanmu. Namun, kita harus memikirkan apa yang terbaik untuk Biru. Dia membutuhkan ketenangan dan perawatan medis yang intensif saat ini."
Laras menggeleng dengan keras. "Tidak! Aku tidak mau Dave di dekat Biru. Dia tidak berhak setelah apa yang dia lakukan. Janin itu... janin yang dulu dia ingkari. Biru adalah milikku, hanya milikku!"
Di luar ruangan, Dave mendengar suara Laras yang marah. Dia merasa hatinya remuk, tetapi tahu bahwa dia harus tetap tenang demi Biru. "Heri, aku harus berbicara dengan Laras. Aku harus menjelaskan semuanya," katanya dengan suara tegas.
Heri menatap Dave dengan penuh empati. "Tuan, mungkin ini bukan waktu yang tepat. Laras sangat emosional sekarang. Kita harus memberi ruang untuknya."
Dave mengangguk pelan, menyadari kebenaran kata-kata Heri. "Baiklah, tetapi aku tidak akan pergi jauh. Aku akan tetap di sini sampai Biru membaik."
Kembali di dalam ruangan, Bayu mencoba meredakan situasi. "Laras, aku akan memastikan bahwa Dave tidak mengganggu Biru. Fokus kita sekarang adalah pemulihan Biru. Kamu juga perlu beristirahat dan mendapatkan bantuan psikologis. Ini penting untukmu dan Biru."
Laras menarik napas dalam, mencoba mengendalikan emosinya. "Baik, Dokter. Aku akan mempercayakan perawatan Biru kepada kalian. Tetapi aku tetap tidak ingin Dave di dekatnya."
Bayu mengangguk. "Aku mengerti, Laras. Kami akan memastikan Biru mendapatkan perawatan terbaik. Silakan beristirahat, dan besok kita akan bicara lebih lanjut."
Dengan langkah lemah, Laras menuju tempat tidur yang disediakan untuknya. Isak tangisnya mulai mereda, meskipun hatinya masih diliputi kecemasan dan ketakutan.
Di luar, Dave terus menunggu dengan sabar. Dia bertekad untuk memperbaiki kesalahannya dan memastikan Biru mendapatkan perawatan yang terbaik. Namun, dia tahu bahwa perjalanannya untuk mendapatkan kembali kepercayaan Laras akan panjang dan penuh tantangan.
Malam semakin larut, namun suasana rumah sakit tetap dipenuhi dengan ketegangan. Laras berusaha menenangkan dirinya di tempat tidur, tetapi pikirannya terus berputar-putar tentang Biru dan Dave. Dia tahu bahwa dia harus kuat demi putranya.
Keesokan paginya, sinar matahari yang masuk melalui jendela mengawali hari baru. Laras terbangun dengan perasaan cemas yang masih membebani hatinya. Seorang perawat datang membawakan sarapan dan memberitahunya bahwa seorang psikolog akan datang untuk berbicara dengannya.
"Bu Laras, saya tahu Anda melalui masa yang sangat sulit. Psikolog akan membantu Anda untuk mengatasi ini. Percayalah, ini demi kebaikan Anda dan Biru," ujar perawat tersebut dengan lembut.
Laras mengangguk pelan. "Baiklah, aku akan berbicara dengannya."
Sementara itu, di luar ruangan perawatan, Dave dan Januar duduk di ruang tunggu. Wajah Dave terlihat lelah, namun tekadnya tetap kuat. "Heri, apa kita sudah mendapat kabar terbaru tentang Biru?" tanyanya.
Heri menggeleng. "Belum, Tuan. Kita harus bersabar. Yang penting sekarang adalah Biru mendapatkan perawatan yang dia butuhkan."
Tak lama kemudian, seorang wanita paruh baya dengan senyum lembut menghampiri Laras di kamar. "Selamat pagi, Bu Laras. Saya Dr. Rina, psikolog di sini. Saya datang untuk membantu Anda."
Laras menatap Dr. Rina dengan mata yang masih bengkak akibat menangis. "Terima kasih, Dokter. Saya merasa sangat kacau sekarang."
Dr. Rina duduk di samping Laras, memberikan aura ketenangan. "Saya mengerti, Bu Laras. Mari kita bicara tentang apa yang Anda rasakan. Kadang-kadang, membicarakan perasaan kita bisa sangat membantu."
Selama sesi terapi, Laras menceritakan semua kekhawatirannya, ketakutannya tentang masa lalu dengan Dave, dan kecemasannya tentang masa depan Biru. Dr. Rina mendengarkan dengan penuh empati, memberikan dukungan emosional yang sangat dibutuhkan Laras.
Sementara itu, di luar ruangan, Dr. Bayu mendekati Dave. "Tuan Dave, saya ingin berbicara dengan Anda sebentar," katanya.
Dave berdiri, mengikuti Dr. Bayu ke sudut yang lebih tenang. "Bagaimana kondisi Biru, Dokter?"
Dr. Bayu menarik napas dalam. "Kondisi Biru saat ini stabil, tetapi dia membutuhkan pemantauan ketat. Ada satu hal lagi yang perlu Anda ketahui, Tuan Dave. Kami melakukan tes DNA untuk memastikan kondisi medis Biru secara lengkap. Hasilnya menunjukkan bahwa Biru adalah putra Anda."
Dave terdiam, hatinya campur aduk antara kebahagiaan dan penyesalan. "Terima kasih, Dokter. Saya akan melakukan apa saja untuk memastikan Biru mendapatkan perawatan terbaik."
Dr. Bayu menepuk bahu Dave. "Saya mengerti. Tetapi Anda juga harus memahami perasaan Laras. Dia sangat melindungi Biru dan merasa terluka oleh masa lalu. Beri dia waktu."