Januar Sadar

1055 Words
Setelah memastikan Januar beristirahat dengan nyaman di kamarnya, Dave mengalihkan perhatiannya pada Heri. "Heri, aku butuh sejumlah uang sekarang," kata Dave dengan nada tegas namun cemas. "Aku perlu memastikan semua kebutuhan Biru terpenuhi tanpa ada hambatan." Heri menatap Dave dengan ragu. "Maaf, Tuan Dave, tapi saya tidak bisa memberikan uang tanpa persetujuan Januar. Anda harus menunggu sampai dia pulih dan bisa membuat keputusan sendiri." Dave menghela napas, frustrasi memancar dari raut wajahnya. "Kita tidak punya banyak waktu, Heri. Biru butuh perawatan sekarang, dan aku tidak bisa menunggu sampai Januar sadar." Heri menggeleng pelan, namun tegas. "Saya mengerti situasi Anda, Tuan. Tapi aturan tetap aturan. Hanya Januar yang bisa memberikan persetujuan untuk mengeluarkan sejumlah uang. Saya sarankan Anda bersabar hingga dia pulih." Dave mengepalkan tangannya, menahan amarah yang berkobar di dalam dirinya. "Ini untuk anakku, Heri. Apa kamu tidak mengerti betapa pentingnya ini?" Heri menatap Dave dengan empati, namun tetap teguh pada pendiriannya. "Saya mengerti, Tuan. Tapi saya juga harus mengikuti aturan. Kita bisa mencari cara lain untuk sementara waktu, tetapi untuk uang, kita harus menunggu Tuan Januar sadar." Dave akhirnya mengalah, menyadari bahwa tidak ada gunanya memaksa. "Baiklah, Heri. Aku akan menunggu. Tapi pastikan kamu memberitahuku segera begitu dia sadar." Heri mengangguk. "Tentu, Tuan. Saya akan segera memberi tahu Anda begitu dia pulih." Dengan langkah berat, Dave kembali ke rumah sakit bersama Heri, berharap bahwa Biru akan mendapatkan perawatan terbaik sementara mereka menunggu Januar pulih dan bisa memberikan izin untuk mengakses dana yang dibutuhkan. Bagaimanapun, media di luar sana akan siap menghabisi keluarga hebat ini jika sampai terjadi sesuatu yang buruk pada anak bernama Biru itu. Keesokan pai, Dave dan Heri kembali ke rumah sakit dengan suasana hati yang berat. Setiap langkah yang diambil Dave terasa semakin menekan perasaannya. Saat berada di ruang tunggu rumah sakit, bayangan wajah Biru terus menghantuinya. Wajah anak itu sangat dikenalnya, namun ia tidak bisa mengingat dari mana. Dave duduk di kursi dengan kepala tertunduk, mencoba mengusir bayangan itu dari pikirannya. Namun, semakin ia mencoba melupakan, semakin kuat bayangan itu muncul. Wajah Biru terus menghantuinya, seolah-olah memanggilnya untuk mengingat sesuatu yang penting. "Kenapa wajahnya begitu akrab?" gumam Dave pada dirinya sendiri. "Apakah mungkin...?" Tiba-tiba, kilasan kenangan mulai muncul di benaknya. Wajah Biru mengingatkannya pada masa lalu, pada saat-saat ketika ia dan Laras masih bersama. Wajah anak itu memiliki kemiripan yang tak bisa disangkal dengan wajah Laras, tapi ada sesuatu yang lebih. Sesuatu yang membuatnya merasakan ikatan yang kuat, seolah-olah Biru adalah bagian dari dirinya. Dave mulai merasa panik. Jika Biru adalah anaknya, mengapa Laras tidak pernah memberitahunya? Mengapa dia tidak pernah tahu tentang keberadaan anak itu? Perasaan bersalah dan kebingungan membanjiri pikirannya. "Apakah aku benar-benar ayahnya?" pikirnya. "Jika iya, kenapa Laras menyembunyikan ini dariku?" Dave berdiri dan mulai berjalan mondar-mandir di ruang tunggu, perasaannya campur aduk antara ketakutan, kemarahan, dan penyesalan. Heri yang melihat gelagat Dave yang tidak tenang, mendekatinya dengan hati-hati. "Tuan Dave, Anda terlihat sangat gelisah. Ada apa?" tanya Heri dengan nada penuh perhatian. Dave menatap Heri dengan mata yang penuh kecemasan. "Heri, aku... aku merasa ada sesuatu yang tidak benar. Wajah Biru, aku merasa sangat mengenalnya. Aku takut dia adalah anakku, anak yang tidak pernah kuketahui." Heri terdiam sejenak, mencerna kata-kata Dave. "Tuan Dave, jika Anda merasa begitu, mungkin sebaiknya Anda berbicara dengan Laras. Hanya dia yang bisa menjawab pertanyaan Anda." Dave mengangguk pelan, menyadari bahwa Heri benar. Namun, ia juga tahu bahwa Laras tidak akan mudah diajak bicara dalam keadaan emosional seperti ini. Dia harus menemukan cara untuk mendekati Laras dengan hati-hati, tanpa memperkeruh situasi. "Saya akan mencoba berbicara dengannya," kata Dave akhirnya. "Tapi aku juga butuh waktu untuk mempersiapkan diri. Aku tidak ingin memperburuk keadaan." Heri mengangguk dengan penuh pengertian. "Saya akan mendukung Anda, Tuan. Apapun yang Anda butuhkan, saya akan ada di sini." Sementara itu, bayangan wajah Biru terus menghantuinya, mengingatkannya akan tanggung jawab besar yang mungkin selama ini tidak disadarinya. Saat Dave berusaha menenangkan pikirannya di ruang tunggu rumah sakit, Januar tiba-tiba muncul. Wajahnya tampak lebih segar meskipun masih ada sedikit tanda-tanda kelelahan akibat mabuk. "Januar, kau sudah sadar?" tanya Dave dengan nada terkejut. Januar mengangguk pelan. "Ya, aku sudah lebih baik sekarang. Aku harus segera menemui Laras." Tanpa menunggu jawaban dari Dave, Januar bergegas menuju kamar Laras. Dave yang masih kebingungan dan cemas hanya bisa mengikuti dari belakang. Januar memasuki kamar Laras dengan langkah cepat, sementara Dave dan Heri menunggu di luar dengan penuh ketegangan. Di dalam kamar, Laras sedang duduk di tepi tempat tidur, masih mencoba mengendalikan emosinya. Dia terkejut saat melihat Januar masuk dengan tergesa-gesa. "Januar, ada apa? Kenapa kau terlihat begitu tergesa-gesa?" tanya Laras dengan suara lemah namun penuh kekhawatiran. Januar mendekati Laras dan duduk di kursi di sebelahnya. "Laras, aku tahu ini bukan waktu yang tepat, tapi aku harus memberitahumu sesuatu yang penting. Aku... aku mabuk tadi malam dan menyebabkan kecelakaan yang melibatkan Biru. Aku sangat menyesal, dan aku bersedia menerima konsekuensinya." Laras menatap Januar dengan mata yang penuh air mata. "Kau... apa yang kau lakukan pada Biru?" Januar menunduk, merasa sangat bersalah. "Aku tidak bermaksud menyakitinya, Laras. Aku benar-benar tidak tahu apa yang terjadi. Aku hanya ingin memastikan dia baik-baik saja sekarang." Laras menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri. "Biru ada di ruang perawatan intensif. Dokter bilang dia butuh pengawasan ketat. Aku tidak tahu harus berkata apa, Januar. Aku hanya ingin Biru sembuh." Di luar kamar, Dave mendengar setiap kata yang diucapkan. Hatinya semakin kacau, dan pertanyaan tentang hubungan mereka bertambah banyak. Ketika Januar keluar dari kamar, Dave langsung mendekatinya. "Paman, apa yang terjadi sebenarnya? Apa kau benar-benar menabrak Biru?" tanya Dave dengan nada mendesak. Januar mengangguk, matanya penuh penyesalan. "Ya, Dave. Aku benar-benar mabuk tadi malam dan tidak sengaja menabraknya. Aku sangat menyesal." Dave mengepalkan tangan, mencoba menahan amarahnya. "Paman, kau tahu betapa kacaunya keadaan saat ini. Kenapa kau bisa begitu ceroboh?" Januar menatap Dave dengan mata yang penuh penyesalan. "Aku tahu, Dave. Aku sudah membuat kesalahan besar. Aku hanya akan memperbaikinya, meskipun aku tahu itu tidak akan mudah. Pulanglah! Kekasih jalangmu itu terus berisik di depan rumahku!" Dave menarik napas panjang, mencoba mengendalikan perasaannya. "Baiklah. Yang terpenting sekarang adalah memastikan Biru mendapatkan perawatan yang terbaik. Kita harus bekerja sama untuk itu." Namun, bayangan wajah Biru masih menghantui Dave, membuatnya semakin yakin bahwa dia harus menemukan kebenaran tentang hubungan mereka. Ketika Laras merasa cukup tenang, Dave tahu dia harus berbicara dengannya dan mencari jawaban atas pertanyaannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD