Laras Membawa Biru Pergi

1066 Words
Keesokan paginya, saat sarapan, suasana tegang masih menyelimuti rumah. Januar yang biasanya ceria, kini lebih banyak diam. Dave, yang sejak semalam tidak bisa tidur nyenyak, hanya bisa memainkan sendok dan garpunya di atas piring tanpa nafsu makan. Januar akhirnya memecah keheningan. "Dave, aku ingin bicara tentang Laras," katanya dengan nada serius. Dave menatap pamannya dengan mata penuh kecemasan. "Apa lagi yang ingin kau katakan, Paman? Kita sudah membahas ini berkali-kali. Fokus kita seharusnya pada Biru sekarang." Januar mengangguk, tapi ada sesuatu dalam tatapan matanya yang membuat Dave semakin waspada. "Aku tahu, Dave. Tapi aku perlu kau mengerti bahwa Laras mungkin menyimpan sesuatu yang penting dari kita. Sesuatu yang harus kita ketahui agar bisa membantu Biru." Dave mengepalkan tangannya di bawah meja, berusaha menahan amarahnya. "Paman, kau sudah menyebabkan cukup masalah. Jangan tambah lagi dengan spekulasi tak berdasar. Kita harus berbicara dengan Laras secara langsung." Januar menghela napas, tampak tak ingin memperpanjang perdebatan. "Baiklah, Dave. Tapi aku tetap berpikir kau harus siap untuk apapun yang mungkin terjadi." Dave hanya mengangguk pelan, mencoba menenangkan pikirannya. Dia tahu bahwa satu-satunya cara untuk mendapatkan jawaban adalah dengan berbicara langsung dengan Laras. Namun, perasaan bersalah dan ketakutan terus menghantuinya. Setelah sarapan yang penuh ketegangan, Dave memutuskan untuk mengunjungi rumah sakit lagi. Kali ini, dia bertekad untuk berbicara dengan Laras dan mencari tahu kebenaran tentang Biru. Di rumah sakit, Dave langsung menuju kamar Laras. Namun, ketika dia sampai, kamar itu kosong. Tidak ada tanda-tanda Laras atau Biru. Dave segera mencari dokter yang merawat Biru. "Di mana Laras dan Biru?" tanyanya cemas. Dokter itu tampak bingung. "Laras memutuskan untuk membawa Biru keluar dari rumah sakit tadi malam. Dia bilang mereka akan pindah ke luar kota." Dave tertegun. "Apa? Kenapa dia tidak memberitahuku?" Dokter menggeleng. "Maaf, Tuan Dave. Itu keputusan mendadak. Dia tampak sangat tegas dan tidak mau memberikan banyak penjelasan." Dave keluar dari rumah sakit dengan perasaan campur aduk. Dia merasa lega karena Laras dan Biru tidak lagi menjadi beban pikirannya. "Setidaknya, aku bisa melanjutkan hidupku tanpa bayangan masa lalu," pikirnya. Ketika sampai di rumah, Januar menyambutnya dengan wajah panik. "Dave, aku baru saja mendengar kabar. Laras membawa Biru pergi! Mereka pindah ke luar kota!" Dave mengangguk tenang. "Aku tahu, Paman. Aku baru saja dari rumah sakit. Mereka sudah pergi." Januar tampak kebingungan. "Bagaimana kau bisa tenang? Kita harus mencari mereka!" Dave menatap pamannya dengan mata yang penuh ketegasan. "Tidak, Paman. Ini mungkin yang terbaik. Laras membuat keputusan untuk melindungi Biru." Januar masih tampak bingung, tapi dia tahu bahwa Dave sudah membuat keputusan. "Baiklah, Dave. Aku harap kau tahu apa yang kau lakukan." Dave tersenyum tipis. "Terima kasih, Paman. Aku yakin ini yang terbaik untuk semua orang." Keesokan paginya, saat sarapan, suasana tegang masih menyelimuti rumah. Januar yang biasanya ceria, kini lebih banyak diam. Dave, yang sejak semalam tidak bisa tidur nyenyak, hanya bisa memainkan sendok dan garpunya di atas piring tanpa nafsu makan. Januar akhirnya memecah keheningan. "Dave, aku ingin bicara tentang Laras," katanya dengan nada serius. Dave menatap pamannya dengan mata penuh kecemasan. "Apa lagi yang ingin kau katakan, Paman? Kita sudah membahas ini berkali-kali. Fokus kita seharusnya pada Biru sekarang." Januar mengangguk, tapi ada sesuatu dalam tatapan matanya yang membuat Dave semakin waspada. "Aku tahu, Dave. Tapi aku perlu kau mengerti bahwa Laras mungkin menyimpan sesuatu yang penting dari kita. Sesuatu yang harus kita ketahui agar bisa membantu Biru." Dave mengepalkan tangannya di bawah meja, berusaha menahan amarahnya. "Paman, kau sudah menyebabkan cukup masalah. Jangan tambah lagi dengan spekulasi tak berdasar. Kita harus berbicara dengan Laras secara langsung." Januar menghela napas, tampak tak ingin memperpanjang perdebatan. "Baiklah, Dave. Tapi aku tetap berpikir kau harus siap untuk apapun yang mungkin terjadi." Dave hanya mengangguk pelan, mencoba menenangkan pikirannya. Dia tahu bahwa satu-satunya cara untuk mendapatkan jawaban adalah dengan berbicara langsung dengan Laras. Namun, perasaan bersalah dan ketakutan terus menghantuinya. Setelah sarapan yang penuh ketegangan, Dave memutuskan untuk mengunjungi rumah sakit lagi. Kali ini, dia bertekad untuk berbicara dengan Laras dan mencari tahu kebenaran tentang Biru. Di rumah sakit, Dave langsung menuju kamar Laras. Namun, ketika dia sampai, kamar itu kosong. Tidak ada tanda-tanda Laras atau Biru. Dave segera mencari dokter yang merawat Biru. "Di mana Laras dan Biru?" tanyanya cemas. Dokter itu tampak bingung. "Laras memutuskan untuk membawa Biru keluar dari rumah sakit tadi malam. Dia bilang mereka akan pindah ke luar kota." Dave tertegun. "Apa? Kenapa dia tidak memberitahuku?" Dokter menggeleng. "Maaf, Tuan Dave. Itu keputusan mendadak. Dia tampak sangat tegas dan tidak mau memberikan banyak penjelasan." Dave keluar dari rumah sakit dengan perasaan campur aduk. Dia merasa lega karena Laras dan Biru tidak lagi menjadi beban pikirannya. "Setidaknya, aku bisa melanjutkan hidupku tanpa bayangan masa lalu," pikirnya. Ketika sampai di rumah, Januar menyambutnya dengan wajah panik. "Dave, aku baru saja mendengar kabar. Laras membawa Biru pergi! Mereka pindah ke luar kota!" Dave mengangguk tenang. "Aku tahu, Paman. Aku baru saja dari rumah sakit. Mereka sudah pergi." Januar tampak kebingungan. "Bagaimana kau bisa tenang? Kita harus mencari mereka!" Dave menatap pamannya dengan mata yang penuh ketegasan. "Tidak, Paman. Ini mungkin yang terbaik. Laras membuat keputusan untuk melindungi Biru. Aku tidak ingin terus dihantui oleh masa lalu. Aku harus melanjutkan hidupku sebagai Dave yang baru." Januar masih tampak bingung, tapi dia tahu bahwa Dave sudah membuat keputusan. "Baiklah, Dave. Aku harap kau tahu apa yang kau lakukan." Dave tersenyum tipis. "Terima kasih, Paman. Aku yakin ini yang terbaik untuk semua orang." Namun, setelah Dave pergi, Januar merasa tidak puas. Diam-diam, dia memanggil Heri ke ruang kerjanya. "Heri, aku butuh bantuanmu," kata Januar dengan suara rendah. Heri mengangguk. "Tentu, Tuan. Apa yang bisa saya bantu?" Januar menatap Heri dengan serius. "Aku ingin kau mencari tahu keberadaan Laras dan Biru. Cari tahu di mana mereka berada dan beri tahu aku secepatnya." Heri tampak ragu sejenak. "Tuan, saya rasa Tuan Dave tidak akan setuju dengan ini, Tuan Januar." Januar mengangguk, menyadari risikonya. "Aku tahu, Heri. Tapi ini penting. Aku harus memastikan mereka baik-baik saja. Lakukan dengan hati-hati, jangan sampai Dave tahu." Heri mengangguk patuh. "Baik, Tuan. Saya akan segera mulai mencari informasi." Januar merasa sedikit lega setelah memberikan instruksi kepada Heri. Meskipun Dave telah memutuskan untuk melupakan Laras dan Biru, Januar merasa bahwa dia harus memastikan mereka aman dan berada di tempat yang baik. Januar tidak bisa sepenuhnya tenang sebelum mengetahui keberadaan mereka. Di tempat terpisah, Laras terkejut saat dua pria berbadan kekar menghadang langkahnya. "Ikut dengan kami!" ucap pria didepannya sangat tidak ramah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD