Sonya

1030 Words
Januar tiba di rumah sakit dengan jantung berdebar. Informasi dari Heri mengarahkan dia ke sini, dan dia berharap menemukan Biru dalam kondisi baik. Ketika dia masuk ke kamar Biru, rasa lega menyelimutinya saat melihat anak itu masih terbaring di ranjang. Namun, Laras tidak ada di sana. Seorang perawat yang melihat kegelisahan Januar mendekat. "Bapak mencari ibu dari anak ini, ya?" tanyanya. Januar mengangguk. "Iya, di mana dia?" Perawat itu tampak bingung. "Ibu Laras keluar sebentar tadi pagi, tetapi sampai sekarang belum kembali." Perasaan cemas Januar semakin menjadi-jadi. Dia segera menelepon Heri. "Heri, aku di rumah sakit dan menemukan Biru, tapi Laras tidak ada di sini. Temukan dia secepat mungkin." Heri mengangguk di seberang telepon. "Baik, Tuan. Saya akan segera mencari informasi." Sementara itu, di tempat lain, Laras berusaha untuk tetap tenang meskipun keadaan di sekitarnya sangat mengkhawatirkan. Dua pria kekar menghadangnya saat dia keluar dari rumah sakit tadi pagi, dan sekarang dia berada di dalam sebuah mobil yang melaju cepat ke arah yang tidak diketahui. Laras mencoba berbicara dengan salah satu pria. "Apa yang kalian inginkan dariku? Aku harus kembali ke rumah sakit untuk Biru." Pria itu hanya menoleh sekilas dan berkata dengan nada datar, "Diam dan ikut saja." Mobil berhenti di sebuah gedung tua yang terpencil. Laras dipaksa keluar dan digiring masuk ke dalam. Di dalam, suasana sangat sunyi dan mencekam. Mereka membawanya ke sebuah ruangan kecil dan mengikatnya ke kursi sebelum meninggalkannya sendirian dalam kegelapan. Beberapa waktu kemudian, pintu ruangan terbuka dan seorang wanita masuk. Laras mengenali wanita itu sebagai Sonya, seseorang yang pernah bekerja dengan Januar di masa lalu. "Sudah lama tidak bertemu, Laras," kata Sonya dengan suara rendah penuh ancaman. Laras menatapnya dengan mata penuh kebencian. "Apa yang kau inginkan, Sonya?" Sonya tersenyum tipis. "Hanya informasi, Laras. Kami tahu kau memiliki sesuatu yang sangat penting. Informasi yang bisa mengubah segalanya." Laras menggertakkan giginya. "Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan." Sonya mendekat, menatap langsung ke mata Laras. "Jangan bermain-main denganku. Kita berdua tahu bahwa kau menyimpan sesuatu tentang Biru. Sesuatu yang bahkan Januar tidak tahu." Sementara itu, Januar yang putus asa karena tidak menemukan Laras, terus mendesak Heri. "Kita tidak punya banyak waktu, Heri. Temukan Laras sebelum terlambat." Heri yang masih dalam penyelidikan, berhasil mendapatkan petunjuk tentang keberadaan Laras. Dia segera melaporkan temuan ini kepada Januar, yang kemudian bergegas menuju lokasi yang dimaksud. Di gedung tua, Sonya terus menginterogasi Laras. "Kau tahu bahwa ini bukan permainan, Laras. Berikan informasinya atau kau akan menyesal." Laras merasa putus asa, tetapi dia tetap tidak mau mengungkapkan rahasia yang dia tahu. "Aku lebih baik mati daripada memberitahumu." Sonya tertawa kecil. "Itu bisa diatur." Januar tiba di lokasi yang diduga sebagai tempat Laras ditahan. Dia mengatur timnya untuk bergerak dengan hati-hati. Mereka memasuki gedung dengan senyap, berusaha menghindari deteksi. Januar merasakan detak jantungnya semakin cepat, berharap dia tidak terlambat. Di dalam ruangan, Sonya semakin marah dengan penolakan Laras. "Kau benar-benar keras kepala, Laras. Apa kau tidak peduli pada keselamatanmu sendiri?" Laras menatap Sonya dengan tegas. "Aku hanya peduli pada keselamatan Biru." Tiba-tiba, terdengar suara gaduh dari luar ruangan. Sonya dan anak buahnya bergegas keluar untuk melihat apa yang terjadi. Sementara itu, Laras berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri dari ikatannya, tetapi tidak berhasil. Di luar, Januar dan timnya terlibat dalam baku hantam dengan anak buah Sonya. Heri berusaha menerobos masuk ke ruangan tempat Laras ditahan, tetapi perlawanan dari anak buah Sonya cukup kuat. Sonya kembali ke ruangan dengan wajah penuh amarah. "Sepertinya Januar ada di sini. Kalian harus menyelesaikan ini cepat." Wanita itu segera menjauh karena tak ingin Januar mengenalinya. Namun, sebelum anak buah Sonya bisa melakukan sesuatu, Heri berhasil mendobrak pintu dan menghadapi anak buah Sonya. Pertarungan sengit terjadi antara Heri dan anak buah Sonya. Meskipun sempat terpojok, Heri berhasil mengalahkan anak buah Sonya dan segera melepaskan ikatan Laras. "Anda baik-baik saja?" tanya Heri sambil membantu Laras berdiri. Laras mengangguk. "Terima kasih. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika kau tidak datang." Heri tersenyum tipis. "Ayo, kita harus segera keluar dari sini." Mereka berdua bergegas keluar dari gedung, bergabung dengan Januar yang berhasil mengatasi sisa anak buah Sonya. Saat mereka akhirnya berada di luar gedung, Laras menghela napas lega. Januar mendekat dengan wajah penuh keprihatinan. "Laras, apa kau baik-baik saja?" Laras mengangguk lemah. "Aku baik-baik saja. Terima kasih sudah menyelamatkanku." Januar tersenyum tipis. "Kita harus memastikan Biru aman. Dan kita harus bicara tentang apa yang sebenarnya terjadi." Laras menghela napas panjang. "Baik, Januar. Aku akan memberitahumu semuanya. Tapi pertama, kita harus kembali ke rumah sakit dan memastikan Biru aman." Dengan perasaan campur aduk, mereka kembali ke rumah sakit, bertekad untuk menghadapi apapun yang terjadi demi keselamatan Biru. Sesampainya di rumah sakit, Laras berusaha menenangkan dirinya, tetapi pikiran tentang Sonya dan apa yang baru saja terjadi terus menghantuinya. Setelah memastikan Biru aman, Januar membawa Laras ke ruang tunggu yang sepi untuk berbicara. "Laras, kita harus tahu apa yang sebenarnya terjadi. Apa yang mereka inginkan darimu? Dan siapa dia?" Laras menghela napas panjang. "Januar, aku tahu ini sulit dipercaya, tapi ada sesuatu yang sangat penting yang harus kamu ketahui tentang Biru. Ada informasi yang bisa mengubah hidupnya, dan itulah yang diinginkan Sonya." Januar menatap Laras dengan serius. "Apa itu? Mengapa kamu tidak memberitahuku sebelumnya?" Sebelum Laras sempat menjawab, dia melihat seseorang di kejauhan, di lorong rumah sakit. Januar mengikuti tatapan Laras dan melihat Sonya berdiri di sana, melihat mereka dengan senyum licik. Sonya dengan cepat berbalik dan berjalan menjauh. Mereka berdua berlari keluar ruangan dan mengejarnya. Sonya berlari melewati lorong-lorong rumah sakit, mencoba menghilang di antara keramaian pasien dan staf medis. Januar dan Laras terus mengejar, berusaha untuk tidak kehilangan jejaknya. Sonya akhirnya keluar dari rumah sakit dan berlari ke arah parkiran. Januar dan Laras tak berhasil mengejarnya. Sonya yang sudah aman di persembunyiannya berbalik dan menatap mereka dengan tatapan penuh kebencian. "Kalian tidak akan bisa menghentikanku. Aku akan mendapatkan Dave seutuhnya, apapun caranya." Setelah gagal mengejar Sonya, Januar kembali ke Laras. "Sekarang, tolong ceritakan semuanya. Kita harus tahu apa yang sebenarnya terjadi agar bisa melindungi Biru." "Aku yakin kami tidak berurusan dengan keduanya, hidup kami tenang sampai kau menabrak putraku! Jika ada yang harus bertanggung jawab atas semua kekacauan ini, maka itu adalah kau Pak Januar!" tunjuk Laras penuh emosi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD