"Heri, aku butuh bantuanmu," ucap Januar, suaranya penuh kekhawatiran.
"Tentang apa, Jan?" Heri menatap sahabatnya dengan serius.
"Aku merasa Laras menyembunyikan sesuatu dariku. Tolong, cek latar belakangnya, temukan apa yang dia sembunyikan," pinta Januar.
Heri mengangguk, "Aku akan melihat apa yang bisa aku temukan."
Sementara Heri menyelidiki, kecurigaan Januar semakin tumbuh. "Apa yang kau temukan, Heri?" tanya Januar, suaranya penuh ketegangan.
"Jan, ini bukan hal yang mudah untuk kukatakan, tapi ada banyak rahasia tentang Laras. Dia tidak seperti yang kita kira," jawab Heri dengan serius.
Dengan hati berat, Januar bertanya, "Apa yang dia sembunyikan dariku?"
Heri menatapnya lama sebelum akhirnya mengungkapkan kebenaran yang menyakitkan. "Jan, aku khawatir Laras bukanlah orang yang sejalan denganmu. Dia punya masa lalu yang rumit, dan aku tak yakin dia jujur padamu."
"Sudah kuduga," bisik Januar, matanya terpaku pada hamparan kota dari jendela apartemennya yang mewah. "Laras, mengapa kau menyembunyikan ini dariku?"
Heri menyimpan berkas-berkas yang telah dia temukan, lalu menghela nafas. "Nama keluarganya besar, Jan. Tapi, Laras tidak hidup seperti yang kita kira. Dia tinggal di sudut kota, dalam sebuah rumah sewa."
"Rumah sewa?" Januar terdiam, tidak percaya. "Mansion megah keluarga Atmadjaya adalah tempat yang seharusnya menjadi rumahnya."
"Sepertinya dia mencoba melarikan diri dari bayang-bayang keluarganya, Jan. Mungkin ada alasan kuat mengapa dia memilih hidup seperti ini," Heri mencoba meredakan kekhawatiran sahabatnya.
Namun, bagi Januar, kenyataan itu menimbulkan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban. "Apa yang Laras sembunyikan dariku?" Pikirnya, kebingungan semakin memuncak di benaknya.
Beberapa hari setelah penemuan tentang Laras, sebuah undangan misterius datang kepada Januar. Sebuah amplop mewah dengan lambang keluarga Atmadjaya tercetak di atasnya.
"Dari siapa itu?" tanya Januar, merasa tegang melihat amplop itu di tangan Heri.
Heri mengangkat bahu. "Ini dari keluarga Atmadjaya. Mereka mengundangmu untuk makan malam di mansion mereka."
Dengan hati yang berdebar, Januar membuka amplop itu. "Apa ini berhubungan dengan Laras?" gumam Januar, mencoba mencari jawaban dalam undangan itu.
Heri menatapnya dengan serius. "Mungkin ini kesempatan bagimu untuk mengetahui lebih banyak tentang masa lalu Laras dan menghadapi kebenaran, Jan."
Januar merasakan getaran ketidakpastian di dalam dirinya. "Apakah dia siap untuk menghadapi apa pun yang akan dia temui di balik pintu mansion keluarga Atmadjaya?" Pikirnya. Dengan hati yang berat, dia memutuskan untuk pergi.
Januar meneliti foto keluarga besar Atmadjaya dengan cermat, tetapi tidak menemukan Laras di antara wajah-wajah yang tersenyum bahagia di dalam bingkai itu. Hatinya berdesir, terbayang kemungkinan yang membuatnya gelisah: "Apakah Laras hanyalah anak haram di keluarga tersebut?" Dalam benaknya, pertanyaan-pertanyaan yang mengganggunya semakin menguat saat dia menyadari bahwa Laras tidak ada dalam momen-momen penting keluarga tersebut. Entah mengapa, kekhawatiran Januar tentang hubungannya dengan Laras semakin menggelora di dalam dirinya.
Dia merasa tertantang untuk mengetahui kebenaran di balik semua ini. "Apakah Laras benar-benar hanya seorang anak haram? Dan jika ya, apa artinya bagi hubungan mereka?" Pikirnya, dengan hati yang berat, Januar memutuskan untuk mencari jawaban atas semua pertanyaan yang menghantuinya.
seharian ini Januar bahkan tidak bisa konsentrasi dalam bekerja pikiran mengenai Laras dan juga apa yang terjadi pada wanita itu di masa lalu membuatnya tak tenang.
"Apakah kau sudah mendapatkan kabar dari anak kecil itu siapa dia?" tanya Januar kepada Heri.
Di sela kesibukan perusahaan yang membuat Januar serta Heri harus bekerja ekstra kini konsentrasi mereka juga terpecah oleh pembicaraan mengenai Laras dan sejumlah pertanyaan Januari yang terus-menerus fokus kepada wanita itu.
"sebelum aku menjawabnya apa kau yakin sudah memeriksa semua poin-poin kerja sama ini? " Heri mengangkat tangan kanannya untuk menunjukkan dokumen berwarna merah tersebut kepada Januar.
"Ah iya kerjasama dengan salah satu promotor dan aku sudah mempelajarinya tapi aku tidak bisa menemukan nama perusahaan yang akan mensupport dana utama bagi mereka sementara presentasi yang pihak promotor minta dari kita hanya sekitar 20% dari total budget mereka," jawab Januar sambil berusaha mengingat.
Heri terkekeh mendengar jawaban dari Januar tersebut. "Ini membuktikan kau belum membacanya dengan baik apa kau tidak melihat stempel di halaman terakhir ini adalah stempel dari Atmajaya Group, "tegas Heri sambil membuka lembaran terakhir dari dokumen yang dipegangnya itu kemudian menunjukkannya kepada Januar yang langsung menatap dokumen tersebut dengan mata terbelalak.
Sementara itu, Laras yang saat ini sudah mulai kembali bekerja mau tidak mau harus bekerja dan menghabiskan waktunya lebih banyak karena tidak mau kehilangan pekerjaannya setelah beberapa hari dia di rumah sakit menemani sang buah hati.
"Dengar jika sampai kau bolos lagi bekerja tanpa pamit dan tanpa keterangan Aku benar-benar tidak akan memberimu kesempatan untuk bekerja lagi,"
"Aku berjanji tidak akan membolos lagi mbak tetapi tolong jangan pernah terpikir untuk memecatku aku sangat membutuhkan pekerjaan ini," ucap Laras mengiba.