Setelah mendapat ultimatum dari atasannya, Laras hanya bisa mengangguk dengan mata berkaca-kaca. Hidupnya saat ini berada di ujung tanduk. Ia sudah tidak memiliki pilihan lain kecuali bekerja keras, meski dalam hati ia masih merasa was-was tentang masa lalunya yang kini menjadi incaran investigasi Januar dan Heri.
Sementara itu, malam harinya, di apartemennya, Januar duduk merenung di depan jendela besar yang memperlihatkan pemandangan kota. Satu sisi dirinya ingin berhenti mencari tahu soal Laras, namun rasa penasaran membuatnya sulit melepaskan pikiran tentang rahasia yang mungkin Laras sembunyikan.
Heri masuk ke ruangan dengan ekspresi serius, menaruh map biru di meja di hadapan Januar. "Jan, aku menemukan sesuatu lagi. Ini tentang keluarga Atmadjaya," katanya pelan, seolah berhati-hati agar tidak membuat sahabatnya semakin resah.
Januar langsung memeriksa map itu. Di sana, ada sejumlah foto dokumentasi yang memperlihatkan seorang pria paruh baya dengan wajah angkuh—ayah Laras, yang merupakan kepala dari Atmadjaya Group. Namun, ada foto lain yang mengejutkan Januar: foto Laras di sebuah acara keluarga lama, terlihat berdiri di sudut jauh, seolah diabaikan. Wajahnya menunjukkan ekspresi cemas, seakan bukan bagian dari keluarga besar itu.
"Ini... benar-benar dia," gumam Januar, matanya terpaku pada foto itu.
Hari-hari terus berganti.
Di ruangan kantor yang sunyi, Januar menatap Heri dengan penuh tekanan. Wajahnya tampak serius, dan ada sedikit kemarahan yang ia coba tahan.
"Heri, kenapa sampai sekarang kau belum menemukan apa-apa?" suara Januar terdengar tegas, dan Heri sedikit gelagapan mendengarnya.
"Saya sudah mencoba menyelidiki, Jan. Tapi Laras cukup tertutup, terutama soal status pernikahannya," jawab Heri dengan sedikit gugup. Dia menundukkan kepala, tahu bahwa Januar tidak akan puas dengan jawaban itu.
"Itu alasan yang selalu kau berikan. Aku tidak butuh alasan, Heri. Aku butuh hasil!" Januar menggebrak meja, membuat Heri tersentak. "Kau tahu kan betapa pentingnya hal ini buatku?"
"Saya paham, Jan. Tapi Laras benar-benar menjaga informasi pribadinya. Bahkan di lingkaran sosialnya pun, jarang ada yang tahu tentang kehidupan pribadinya secara mendalam," jelas Heri, berusaha meyakinkan Januar bahwa dia memang sudah berusaha.
Januar mendengus kesal. "Jadi kau mau bilang aku harus menunggu tanpa kepastian? Aku tidak bisa begitu, Heri. Anak itu—Biru—aku yakin dia adalah anakku, tapi aku butuh kepastian status Laras sekarang! Aku butuh tahu apakah dia menikah atau tidak."
Heri menarik napas dalam-dalam, lalu mencoba menyarankan sesuatu. "Mungkin... kita bisa mendekati orang-orang yang dekat dengannya, seperti rekan kerja atau tetangga. Atau mungkin kita bisa memeriksa dokumen yang terkait dengannya, meski butuh waktu."
Januar menyipitkan mata, tidak sepenuhnya puas tapi sedikit lebih tenang. "Lakukan apa pun yang perlu, Heri. Kalau kau harus memeriksa dokumen resmi, cari caranya. Aku tidak peduli. Aku ingin tahu segala sesuatu tentang Laras. Paham?"
Heri mengangguk cepat. "Ya, Jan. Saya akan mengerjakannya secepat mungkin."
Januar menghela napas dalam-dalam, mencoba meredakan amarahnya. "Dengar, Heri, ini bukan sekadar rasa penasaran. Biru adalah anakku—aku merasa begitu. Tapi kalau Laras benar-benar menikah... aku ingin tahu kenapa dia menyembunyikannya dariku. Dan kalau tidak, aku ingin tahu apa alasan sebenarnya dia menjauhiku."
Heri hanya mengangguk lagi. Kali ini, dia merasa lebih bertekad untuk menemukan jawaban yang bisa memuaskan Januar. Namun, sebelum ia pergi, Januar memanggilnya lagi.
"Heri!" ujar Januar dengan tegas. "Jangan sampai ada yang tahu soal ini. Bahkan orang-orang di perusahaan kita. Kau paham?"
"Saya paham, Jan. Ini akan tetap rahasia," kata Heri dengan yakin.
Januar memandang Heri dengan tajam. "Ingat, ini penting. Jangan buat aku menunggu lebih lama lagi. Aku tidak mau terus-menerus berada di bayang-bayang pertanyaan ini."
Heri menunduk, lalu segera keluar dari ruangan. Di balik ketegangan itu, Heri tahu betapa seriusnya Januar dalam usahanya ini, dan dia bertekad untuk memberikan jawaban yang diinginkan sahabatnya.
Heri mengangguk. "Laras seperti orang asing di antara keluarganya sendiri. Dan yang lebih aneh lagi, namanya tidak tercatat di dokumen waris keluarga. Mungkin saja posisinya lebih rumit daripada yang kita kira."
Perasaan Januar campur aduk antara kemarahan, simpati, dan kebingungan. Dia mulai menyadari bahwa mungkin Laras menjalani kehidupan ganda bukan karena dia ingin berbohong, melainkan karena masa lalunya yang penuh tekanan. Tapi mengapa dia tidak pernah menceritakan hal ini padanya?
Januar bangkit dari tempat duduknya. "Heri, aku harus bertemu dengannya. Aku perlu mendengar kebenaran langsung dari Laras, bukan dari dokumen atau foto."
Heri menepuk pundaknya. "Baik, Jan. Tapi pastikan kau bersiap untuk mendengar apa pun yang mungkin tidak sesuai dengan harapanmu."