Larasati bekerja di dapur sebuah restoran, tangannya cekatan mengiris sayuran sambil sesekali melirik ke arah pintu kecil di belakang dapur. Di balik pintu itu, terletak gudang tempat ia menyembunyikan Biru, anaknya yang masih kecil dan belum bisa berjalan. Hanya celah kecil di antara pintu yang memungkinkannya mengawasi Biru tanpa menarik perhatian orang lain.
Setiap irisan pisau yang diayunkan ke bahan-bahan masakannya terasa seperti terapi singkat bagi Laras, membantu meredam keresahannya. Namun, di sisi lain, setiap suara keras di dapur membuatnya was-was dan cemas akan keberadaan anaknya yang tersembunyi. Tidak ada yang tahu bahwa ia membawa serta anaknya ke tempat kerja; ia merahasiakannya untuk melindungi Biru dari perhatian yang tidak diinginkan, terutama dari mereka yang mungkin mencoba mencari tahu tentang latar belakangnya.
Sesekali, ia beralasan untuk ke belakang dapur dan mengintip ke dalam gudang. Ketika Biru tertawa kecil atau berceloteh sendiri, Larasati merasa tenang. Namun, kekhawatirannya belum sirna. Baginya, menyembunyikan Biru di tempat seperti ini adalah satu-satunya pilihan, meski jauh dari layak.
Tiba-tiba, seorang rekan kerja datang dengan wajah serius. "Laras, kepala dapur ingin bicara denganmu. Katanya ada keluhan dari pelanggan."
Laras menarik napas dalam, berusaha menutupi kegugupannya. Ia mengangguk dan menaruh pisau di meja, membersihkan tangannya dengan tergesa-gesa. "Baik, aku akan segera ke sana."
Sebelum keluar menuju ruang kepala dapur, Laras kembali mengintip ke dalam gudang untuk memastikan Biru aman. "Tunggu di sini, Nak. Jangan bersuara, ya," bisiknya lembut sambil tersenyum meyakinkan anaknya.
Setelah itu, Laras pergi meninggalkan gudang dan berjalan menuju ruang kepala dapur, berusaha tetap tenang meski pikirannya terus memikirkan Biru. Di dalam hatinya, ia berjanji akan melakukan apa saja untuk melindungi anaknya.
Saat jam makan siang selesai dan dapur mulai sepi, Larasati segera mengambil kesempatan itu untuk diam-diam menuju gudang tempat Biru berada. Dia membawa sepiring kecil makanan yang disiapkannya sendiri dari sisa bahan di dapur. Dengan langkah hati-hati dan memastikan tak ada yang melihat, Laras membuka pintu gudang dan mendapati Biru sedang duduk tenang, menatapnya dengan mata cerah.
"Maaf ya, Nak, Mama terlambat," bisik Laras dengan lembut sambil berjongkok di hadapan anaknya. Ia menyendokkan sedikit makanan ke mulut Biru, yang langsung membuka mulutnya dengan riang. Setiap suapan terasa bagai pemberian kasih sayang yang penuh pengorbanan bagi Laras, yang tahu betapa sulitnya situasi mereka sekarang.
Biru memandangnya dengan polos, tak menyadari perjuangan ibunya untuk menjaga dirinya. Laras menahan air mata, senang bisa menghabiskan sedikit waktu tenang bersama anaknya di tengah segala kekacauan hidupnya.
Namun, tak lama kemudian, ia mendengar langkah kaki mendekat dari arah dapur. Larasati langsung menoleh dengan waspada. "Biru, diam ya. Kita harus cepat," bisiknya sambil mempercepat suapan terakhir.
Ia segera menyeka mulut Biru dan membereskan sisa makanan, memastikan tak ada jejak yang tertinggal. "Mama harus kembali kerja. Kau tunggu di sini, ya, Nak. Jangan bersuara."
Biru mengangguk, seolah memahami. Laras tersenyum samar, lalu dengan hati-hati keluar dari gudang dan menutup pintu perlahan. Saat ia kembali ke dapur, ia berusaha menjaga sikap tetap tenang, meskipun dalam hati ia merasa khawatir akan keadaan Biru yang harus sendirian di tempat persembunyian sempit itu.
Hari terus berlanjut dengan pekerjaan yang tiada henti. Larasati bergerak cepat di dapur, menyelesaikan tugas-tugasnya sambil tetap mencuri waktu untuk memikirkan Biru di gudang. Setiap bunyi dentingan panci atau teriakan kepala dapur membuatnya teringat akan anaknya yang menunggu dalam diam. Rasa bersalah bercampur dengan keletihan, tapi dia berusaha menyelesaikan pekerjaan tanpa menarik perhatian.
Saat jam istirahat sore tiba, Larasati melihat kesempatan untuk kembali ke gudang. Kali ini, ia membawa botol kecil berisi air dan camilan ringan untuk memastikan Biru tetap kenyang hingga pulang nanti.
Begitu pintu gudang terbuka, Larasati mendapati Biru yang sedang duduk bersandar di dinding, matanya mulai sayu seolah kelelahan menunggu. Hatinya tersayat melihat anak sekecil itu harus bersembunyi di tempat seperti ini, namun ia tahu, untuk saat ini, inilah satu-satunya cara agar mereka tetap bersama.
"Mama di sini lagi, Sayang," bisiknya lembut sambil memberikan botol air kepada Biru. Anak itu segera meminum airnya, lalu tersenyum lemah, membuat hati Laras terasa sedikit lega.
Namun, belum sempat ia berlama-lama dengan Biru, tiba-tiba terdengar langkah kaki yang mendekat ke arah gudang. Larasati panik. Ia menatap Biru, lalu berbisik cepat, "Kau tetap diam di sini, ya. Jangan bersuara apa pun."
Ia bergegas keluar dan menutup pintu gudang dengan pelan, berpura-pura tengah merapikan barang-barang di sekitar pintu gudang. Tepat saat itu, kepala dapur muncul dengan ekspresi penasaran.
"Laras, kenapa kau sering di sini? Apa kau sembunyikan sesuatu?" tanyanya, matanya menyipit, penuh curiga.
Larasati berusaha tetap tenang dan tersenyum tipis. "Maaf, Pak, saya hanya sedang memeriksa persediaan di gudang. Tadi ada bahan yang sepertinya hampir habis."
Kepala dapur menatapnya, mencoba menilai kejujurannya. "Pastikan kau tidak membuat masalah di sini, Laras. Restoran ini tidak membutuhkan pekerja yang tidak fokus."
"Baik, Pak. Saya mengerti," jawab Laras sambil menunduk sopan, meskipun hatinya berdebar kencang.
Setelah kepala dapur berlalu, Laras menghela napas panjang, berusaha mengendalikan kegugupannya. Kembali ke dapur, ia melanjutkan pekerjaannya, namun kini kekhawatirannya semakin besar. Di satu sisi, ia ingin menjaga Biru tetap aman bersamanya, tetapi di sisi lain, dia tahu situasi ini tidak bisa berlangsung selamanya.
Ketika malam tiba dan restoran mulai tutup, Larasati segera menyelesaikan tugas terakhirnya. Setelah memastikan semua rekan kerja pulang, ia bergegas menuju gudang untuk menjemput Biru. Dengan hati-hati, ia menyelipkan anaknya dalam dekapan, menuntun Biru keluar dari tempat persembunyian mereka.
"Sabar ya, Nak," bisik Laras sambil menatap wajah Biru yang lelah. "Suatu hari nanti, Mama akan memberikan tempat yang lebih baik untuk kita berdua. Tapi untuk saat ini, bertahanlah bersama Mama."
Mereka berjalan pulang dalam diam, dengan Laras menggendong Biru yang tertidur di pundaknya, menguatkan diri untuk hari-hari penuh perjuangan yang akan datang.
Laras menatap ke arah luar jendela dengan wajah cemas, melihat hujan yang turun semakin deras. Suara derasnya air yang menghantam jalanan seolah menambah beban di pundaknya. Dengan Biru yang masih dalam dekapan, ia berusaha mencari jalan keluar tanpa menarik perhatian. Kafe akan segera tutup, namun setiap pintu keluar dijaga oleh karyawan lain yang menunggu hujan mereda. Pilihannya terbatas, dan waktu semakin mendesak.
Biru mulai menggeliat dalam pelukannya, tampak tidak nyaman. Laras mendekapnya lebih erat sambil mengusap punggungnya agar tetap tenang. Ia harus mencari cara untuk keluar dari sini tanpa memicu kecurigaan. Matanya mengamati seluruh sudut ruangan, mencari celah yang bisa membawanya keluar tanpa diperhatikan.
Di dekat pintu belakang, ia melihat sebuah ruangan kecil yang jarang dipakai dan hampir tak terlihat dari pandangan karyawan lain. Dengan hati-hati, Laras melangkah ke sana, berharap tidak ada yang memperhatikannya. Pintu ruangan itu berderit pelan saat dibuka, dan ia segera melangkah masuk, berharap bisa menunggu hujan sedikit reda atau menemukan jalan keluar yang aman.
Namun, baru saja ia merasa lega, suara langkah kaki mendekat dari lorong belakang. Laras menahan napas, jantungnya berdegup kencang. Ia mencoba menenangkan Biru, yang mulai gelisah dan menggeliat dalam dekapannya. Langkah itu semakin mendekat, dan Laras segera bersembunyi di balik rak tua yang ada di ruangan tersebut.
Seorang karyawan masuk untuk memeriksa ruangan, mungkin mencari sesuatu. Laras memeluk Biru lebih erat, menahan napas, berharap tidak ketahuan. Setelah beberapa saat yang terasa sangat lama, karyawan itu akhirnya keluar, menutup pintu dan meninggalkan mereka kembali dalam kesunyian.
Laras menghela napas lega. Ia tahu ia tidak bisa terus seperti ini. Ketika hujan mulai mereda sedikit, ia memutuskan untuk segera keluar meskipun jalanan masih basah. Dengan penuh kehati-hatian, ia melangkah keluar dari ruangan dan menuju pintu belakang. Beberapa karyawan yang masih berteduh tidak terlalu memperhatikannya, dan ia berhasil keluar tanpa diketahui.
Dengan cepat, Laras berlari ke arah gang kecil di samping kafe, berusaha melindungi Biru dari tetesan hujan yang tersisa. Di bawah cahaya temaram, mereka berdua berjalan menuju halte terdekat, dengan Laras menggendong Biru yang setengah tertidur dalam dekapan hangat ibunya.
Saat mereka akhirnya sampai di halte, Laras menghela napas panjang, mencoba meredakan rasa panik yang masih terasa. Hujan yang menyisakan dingin di udara malam membuat tubuhnya menggigil, tapi ia tetap berusaha menenangkan Biru yang mulai terlelap lagi.
"Larasati!" suara seseorang memanggilnya.