Dipecat

1009 Words
Larasati membeku. Jantungnya seolah berhenti berdetak ketika suara itu menerobos dinginnya hujan malam. Ia menoleh perlahan, mendapati sesosok pria berdiri di bawah lampu jalan yang temaram. Sosok itu tinggi, tegap, dan meski sebagian wajahnya tertutup bayangan, Larasati tahu betul siapa dia. Januar. Lelaki yang selama ini ingin ia hindari. Tangan Laras langsung mengeratkan dekapan pada Biru, seolah takut anak itu akan direnggut darinya saat itu juga. Januar melangkah mendekat, matanya menelusuri wajah Laras yang terlihat lelah dan cemas. Bibir pria itu terbuka, seakan hendak mengatakan sesuatu, tetapi kemudian tertutup lagi. “Kau masih menghindariku, Laras?” tanyanya dengan nada yang lebih lembut dari yang Laras harapkan. Laras menggigit bibirnya. “Aku tidak punya alasan untuk menemuimu.” Januar mendesah. Ia merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah payung lipat, lalu membukanya dan menahannya di atas kepala Laras. Hujan memang sudah mereda, tetapi gerimis masih tersisa, dan Laras yang hanya mengenakan sweater tipis tampak sedikit menggigil. “Aku hanya ingin berbicara,” lanjut Januar. Matanya bergerak ke arah Biru, yang masih tertidur dalam dekapan ibunya. “Boleh kita bicara di tempat yang lebih nyaman?” Laras menggeleng. “Tidak ada yang perlu dibicarakan.” Januar tersenyum tipis, tetapi ada luka di matanya. “Laras, kau bisa membenciku sepuasmu, tapi aku punya hak untuk tahu.” Hak? Kata itu terasa seperti pisau yang menusuk hati Laras. Ia menegakkan tubuhnya, menatap tajam ke arah Januar. “Kau tidak punya hak atas apa pun. Kau memilih pergi, kau meninggalkanku—” “Aku tidak pernah memilih pergi,” potong Januar dengan suara rendah yang penuh ketegasan. “Aku dipaksa pergi, Laras.” Laras terkesiap. Ia ingin membalas, ingin menolak, tetapi kata-kata itu mengguncang pertahanannya. Selama ini, ia selalu percaya bahwa Januar memang sengaja meninggalkannya. Tetapi jika itu tidak benar…? Hatinya bergetar, tetapi sebelum ia sempat mencerna semuanya, suara klakson dari sebuah angkot yang mendekat mengalihkan perhatiannya. Laras buru-buru melangkah mundur, memutus jarak dengan Januar. “Aku harus pergi,” katanya cepat. Januar tampak ingin menahan, tetapi ia tidak bisa memaksa. Ia hanya mengangguk pelan, lalu melangkah mundur. “Baiklah. Tapi aku tidak akan menyerah, Laras. Aku akan mencari cara untuk bicara denganmu lagi.” Laras tidak menjawab. Dengan hati yang masih berdebar, ia segera naik ke dalam angkot, memastikan Biru tetap dalam dekapan aman. Ketika angkot mulai melaju, ia melihat bayangan Januar yang masih berdiri di halte, menatap kepergiannya dengan tatapan yang sulit ia artikan. Hujan yang menyisakan jejak dingin di malam itu terasa seolah menyelubungi hatinya yang kini dipenuhi keraguan dan ketakutan. — Setibanya di rumah kontrakannya yang kecil, Larasati langsung membuka pintu dengan hati-hati, memastikan tidak ada yang memperhatikan mereka. Rumahnya hanya sebuah kamar sederhana dengan kasur tipis, lemari kecil, dan dapur mungil di pojokan. Meski sederhana, tempat ini adalah satu-satunya perlindungan yang ia miliki untuk Biru. Dengan lembut, ia membaringkan Biru di kasur. Anak itu menggumam pelan dalam tidurnya, lalu menggeliat mencari posisi nyaman. Laras tersenyum tipis, menyelimutinya, lalu duduk di tepi kasur, memijat pelan pelipisnya yang terasa berat. Pertemuannya dengan Januar mengusik banyak hal yang berusaha ia lupakan. Ia tidak siap untuk menghadapi kenyataan itu lagi. Tapi Januar sudah menemukannya… dan kemungkinan besar, ia akan terus mencari cara untuk berbicara dengannya. Laras mendesah. Ia harus berpikir cepat. Tapi sebelum itu, ia harus beristirahat. Laras berbaring di samping Biru, mendekap tubuh kecil anaknya, berharap kehangatan itu bisa meredakan kegelisahan yang terus menghantui pikirannya. — Keesokan paginya, Larasati bangun lebih awal seperti biasa. Sebelum pergi bekerja, ia menitipkan Biru pada seorang ibu pemilik warung di ujung gang, Bu Rini, yang sudah ia kenal cukup baik. “Laras, kau terlihat pucat. Kau baik-baik saja?” tanya Bu Rini dengan nada khawatir saat menerima Biru dalam gendongannya. Laras mengangguk cepat. “Aku baik-baik saja, Bu. Terima kasih sudah mau menjaga Biru lagi.” Bu Rini mengelus kepala Biru yang masih mengantuk. “Tidak masalah. Tapi kalau kau butuh bantuan lain, jangan ragu untuk bilang.” Laras tersenyum samar. “Terima kasih, Bu.” Setelah memastikan Biru aman, Laras bergegas menuju restoran tempatnya bekerja. Sesampainya di sana, ia langsung mengenakan apron dan mulai bekerja seperti biasa, tetapi pikirannya masih dipenuhi kekhawatiran. Hari ini terasa lebih panjang dari biasanya. Kepala dapur tampak lebih ketat daripada kemarin, dan setiap perintah terasa lebih berat. Laras berusaha tetap fokus, tetapi sesekali ia merasa lelah dan lengah. Saat ia sedang mengangkat panci besar berisi sup panas, seorang rekan kerja secara tidak sengaja menabraknya dari belakang. Laras kehilangan keseimbangan, dan sebelum ia sempat mengendalikan situasi, panci itu miring, tumpah, dan air panasnya mengenai tangannya. “Agh!” Laras meringis, menjatuhkan panci ke lantai dengan suara berisik. Kepala dapur langsung menoleh tajam. “Laras! Apa yang kau lakukan?!” Laras memegangi tangannya yang memerah, menahan rasa sakit yang menjalar. “Saya… saya tidak sengaja…” Rekan kerja yang tadi menabraknya terlihat panik, tetapi tidak berani membela. Kepala dapur mendekat dengan ekspresi kesal. “Ini bukan pertama kalinya kau ceroboh, Laras! Aku sudah cukup sabar, tapi kalau kau tidak bisa bekerja dengan baik, mungkin kau sebaiknya mencari tempat lain.” Dada Laras terasa sesak. “Pak, saya—” “Tidak ada alasan! Pergi dari sini. Kau dipecat!” Dunia Laras seakan runtuh seketika. Dia dipecat? Tidak… Dia tidak bisa kehilangan pekerjaan ini. Bagaimana dengan Biru? Bagaimana mereka akan bertahan? Laras menatap kepala dapur dengan wajah memucat, ingin memohon, tetapi tatapan dingin pria itu memberinya jawaban. Dengan tangan gemetar, Laras melepas apron dan melangkah keluar dapur dengan hati yang terasa hancur. Di luar, udara pagi terasa menusuk, seolah ikut menghakimi nasibnya yang semakin terpuruk. Dengan langkah berat, ia berjalan menuju tempat Bu Rini, berusaha menahan air mata. Saat sampai, ia melihat Biru yang sedang tertawa kecil dalam gendongan Bu Rini. Melihat anaknya tersenyum membuat hatinya semakin nyeri. Ia tidak bisa mengecewakan Biru. Ia harus mencari jalan keluar. Laras menghela napas panjang, lalu menatap Biru dengan tekad baru. “Aku tidak akan menyerah,” bisiknya pelan. “Aku akan menemukan cara, Nak.” Dan dengan itu, ia tahu perjuangannya baru saja dimulai. "Kau dipecat? Lalu bagaimana kau akan menghidupi Biru?" Laras terus berfikir keras.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD