Laras menatap wajah Biru yang masih tertawa dalam gendongan Bu Rini. Anak itu tidak tahu bahwa dunia ibunya baru saja runtuh. Dadanya terasa sesak, tetapi ia menelan rasa takut dan kesedihan yang hendak meluap.
Bu Rini menatapnya penuh perhatian. “Laras, kau kenapa? Kau terlihat pucat.”
Laras menarik napas panjang, mencoba menenangkan dirinya. “Bu… saya dipecat.”
Bu Rini terkejut. “Apa? Kenapa?”
“Saya ceroboh… sup panas tumpah, dan kepala dapur langsung memecat saya,” suara Laras bergetar. “Saya tidak tahu harus bagaimana sekarang, Bu.”
Bu Rini menghela napas panjang, mengusap punggung tangan Laras. “Sabar, Nak. Rezeki sudah diatur. Mungkin ini memang bukan jalanmu. Tapi kau harus tetap semangat demi Biru.”
Laras mengangguk, meski hatinya masih berat. Ia tak bisa menyerah, bukan saat ini. Tapi… pekerjaan apa yang bisa ia dapatkan dengan cepat?
“Kau bisa coba cari kerja di warung-warung sekitar,” usul Bu Rini. “Atau mungkin di tempat laundry. Setidaknya, sampai kau dapat yang lebih baik.”
Laras mengangguk pelan. Ia tak punya banyak pilihan. “Baik, Bu. Saya akan cari.”
Bu Rini tersenyum, lalu melirik Biru yang mulai mengusap matanya. “Kau bisa tinggalkan Biru di sini dulu. Aku akan menjaganya.”
“Terima kasih, Bu.”
Dengan langkah berat, Laras keluar dari gang kecil tempat kontrakannya berada dan mulai berjalan dari satu toko ke toko lain. Namun, jawaban yang ia dapatkan selalu sama—“Kami tidak butuh karyawan saat ini.” atau “Maaf, kami mencari yang lebih berpengalaman.”
Hingga akhirnya, di sebuah warung makan kecil di pinggir jalan, seorang pemilik warung bersedia menerimanya.
“Tapi upahnya kecil, ya,” kata pemilik warung, seorang wanita paruh baya bernama Bu Darsi. “Kau hanya akan dapat lima puluh ribu per hari. Kalau tidak masalah, kau bisa mulai besok.”
Laras tersenyum tipis. Lima puluh ribu memang jauh dari cukup, tetapi lebih baik daripada tidak sama sekali. “Terima kasih, Bu. Saya siap bekerja besok.”
Ketika ia pulang ke rumah Bu Rini untuk menjemput Biru, anak itu langsung berlari ke arahnya. “Ibu!”
Laras memeluknya erat, merasakan kehangatan yang begitu menenangkan. “Ibu sudah pulang, Nak.”
Ia menatap langit yang mulai gelap. Hari ini terasa begitu panjang dan melelahkan. Tapi ia tak boleh menyerah.
Malam itu, Laras duduk di kasurnya yang tipis, menatap Biru yang sudah tertidur. Cahaya redup dari lampu kecil di sudut ruangan menerangi wajah anaknya yang damai.
Laras memegang tangannya yang masih terasa perih akibat tumpahan sup panas. Luka itu mungkin akan sembuh dalam beberapa hari, tetapi luka di hatinya tidak.
Pikirannya kembali pada Januar.
"Aku tidak pernah memilih pergi. Aku dipaksa pergi, Laras."
Apa maksudnya?
Selama ini, ia selalu percaya bahwa Januar pergi dengan kesadaran sendiri. Bahwa pria itu meninggalkannya begitu saja. Tapi jika benar ada sesuatu yang memaksa Januar pergi… apakah itu berarti selama ini ia telah salah memahami semuanya?
Laras menggeleng, mencoba mengusir pikiran itu. Tapi ia tahu, ia tak bisa terus lari dari kenyataan. Jika Januar benar-benar ingin kembali dalam hidupnya, bagaimana ia harus menghadapinya?
Laras mendesah pelan. “Aku hanya ingin hidup tenang bersama Biru,” bisiknya.
Namun, takdir seolah punya rencana lain.
Keesokan harinya, Laras bangun lebih awal. Ia menitipkan Biru ke Bu Rini, lalu berangkat ke warung Bu Darsi.
Hari pertama bekerja cukup melelahkan, tetapi ia berusaha sebisa mungkin untuk tidak melakukan kesalahan. Ia mencuci piring, mengantar pesanan, bahkan membantu meracik bumbu meski tangannya masih terasa sakit.
Ketika hari hampir sore, seorang pelanggan datang dan duduk di salah satu meja di sudut warung. Laras berjalan ke arahnya, membawa buku catatan kecil.
“Selamat siang, mau pesan apa?” tanyanya sopan.
Namun, saat pelanggan itu menoleh, jantung Laras langsung berhenti berdetak.
Januar.
Laras ingin pergi, tetapi kakinya seolah terpaku di tempat. Mata Januar menatapnya dalam, lalu pria itu tersenyum tipis.
“Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini,” katanya pelan.
Laras menggigit bibir. “Apa yang kau lakukan di sini?”
Januar menatapnya sejenak sebelum menjawab, “Makan.”
Laras menghela napas, berusaha menjaga profesionalitas. “Apa yang ingin kau pesan?”
“Apa pun yang kau rekomendasikan.”
Laras menuliskan sesuatu di bukunya, lalu segera pergi ke dapur untuk menghindari percakapan lebih lanjut. Jantungnya masih berdegup kencang. Mengapa Januar muncul di tempat ini? Apakah ia sengaja mencarinya?
Setelah beberapa menit, ia kembali dengan sepiring nasi dan ayam goreng. Ia meletakkannya di meja dengan cepat. “Ini pesanannya.”
Januar menatap makanan itu, lalu kembali menatap Laras. “Terima kasih.”
Laras berbalik, hendak pergi, tetapi suara Januar menahannya.
“Laras, aku ingin bicara.”
Laras mengepalkan tangannya. “Aku sedang bekerja.”
Januar menghela napas. “Aku tahu ini sulit bagimu. Tapi aku ingin menjelaskan semuanya.”
Laras tetap diam. Ia tidak ingin mendengarkan. Namun, sebelum ia bisa mengatakan sesuatu, Bu Darsi memanggilnya dari dapur.
“Laras! Ada yang perlu diantar ke meja lain!”
Laras mengambil kesempatan itu untuk pergi, meninggalkan Januar tanpa jawaban.
Namun, ia tahu… pria itu tidak akan menyerah begitu saja.
Dan ia mulai takut akan apa yang terjadi selanjutnya.
Malam itu, Laras tidak bisa tidur. Ia memikirkan pekerjaannya, kehidupannya, dan yang terpenting—Biru.
Laras menggenggam tangan kecil Biru yang tertidur di sampingnya.
“Aku harus tahu kebenarannya,” bisiknya.
Besok, ia akan menemui Januar.
Dan kali ini, ia akan menuntut jawaban.
Namun, sebelum ia sempat memejamkan mata, ponselnya bergetar.
Sebuah pesan masuk.
Januar: Aku ingin bicara. Kumohon, Laras. Beri aku kesempatan untuk menjelaskan.
Laras menatap pesan itu lama. Hatinya bergejolak. Januar selalu bisa menemukan jalannya kembali ke dalam hidupnya, meskipun ia sudah berusaha menghindar.
Tangannya gemetar saat mengetik balasan.
Laras: Tidak ada yang perlu dijelaskan. Pergilah, Januar.
Ia ragu sebelum menekan tombol kirim, tetapi akhirnya ia melakukannya.
Beberapa detik kemudian, ponselnya kembali bergetar.
Januar: Aku tidak akan pergi, Laras. Aku akan tetap mencari cara untuk berbicara denganmu.
Laras menutup matanya, mencoba mengusir kegelisahan yang tiba-tiba menyergapnya.
Besok, ia akan menghadapi hari yang baru. Ia harus tetap kuat, demi Biru.
Keesokan paginya, Laras berangkat lebih awal untuk mencari pekerjaan. Ia berjalan dari satu restoran ke restoran lain, bertanya apakah ada lowongan. Namun, jawabannya selalu sama.
“Maaf, kami tidak sedang membutuhkan karyawan.”
“Kami hanya menerima pelamar dengan pengalaman minimal satu tahun.”
“Maaf, posisi sudah terisi.”
Laras mulai merasa putus asa. Ia sudah berjalan hampir seharian, dan kakinya mulai terasa sakit.
Saat ia tengah berdiri di depan sebuah kafe, berpikir apakah ia harus mencoba bertanya lagi, sebuah suara yang familiar terdengar dari belakangnya.
"Laras?"
Laras membeku. Ia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang memanggilnya.
"Januar!"
"Apa yang kau lakukan di sini?" suara pria itu terdengar lembut, tetapi juga penuh rasa ingin tahu.
Laras menelan ludah, lalu berbalik perlahan. Januar berdiri tidak jauh darinya, mengenakan kemeja putih dengan lengan yang tergulung hingga siku. Matanya yang tajam menelusuri wajahnya, mencari jawaban yang tidak bisa Laras berikan.
"Apakah kau sedang mencari pekerjaan?" tanya Januar lagi, kali ini dengan nada lebih serius.
Laras tidak menjawab.
Januar menghela napas. "Laras, jika kau butuh bantuan, kau bisa—"
"Tidak," potong Laras cepat. "Aku tidak butuh bantuanmu."
Januar menatapnya lama sebelum akhirnya mengangguk pelan. "Baik. Kalau begitu, setidaknya izinkan aku membantumu menemukan pekerjaan."
Laras mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"
"Aku punya beberapa koneksi. Mungkin aku bisa membantumu mendapatkan pekerjaan yang lebih baik," ujar Januar.
Laras tertawa kecil, tetapi nada tawanya lebih mirip kepahitan. "Januar, kau pikir aku akan menerima bantuanmu begitu saja setelah semua yang terjadi?"
"Aku hanya ingin menebus kesalahanku, Laras," suara Januar terdengar tulus, tetapi Laras tidak ingin membiarkan dirinya terpengaruh.
"Tidak ada yang bisa kau tebus," ujar Laras dingin. "Aku bisa mencari pekerjaan sendiri. Aku tidak butuh belas kasihanmu."
Januar menatapnya dalam diam, seolah ingin mengatakan sesuatu, tetapi ia menahan diri.
"Baiklah," katanya akhirnya. "Tapi jika kau berubah pikiran, kau tahu di mana mencariku."