Chapter 7 : Penculikan

2029 Words
Author's POV Hari ini adalah hari terakhir Aira dan keluarganya berada di Mekah, dan hari ini juga mereka akan bertolak menuju Riyadh, kota dimana Zayn dan Astri tinggal. Setelah melakukan tawaf wada’ mereka berencana menuju Riyadh. Sebelum ke Riyadh mereka ke Jeddah dulu tempat pesawat pribadi Zayn parkir. Perjalanan ke Jeddah memerlukan waktu sekitar 1 jam naik mobil dan Perjalanan menuju Riyadh dengan pesawat dari Jeddah menghabiskan waktu sekitar 1 jam 35 menit. Tapi, jika mereka menggunakan mobil akan menghabiskan 8 jam perjalanan dan itu akan sangat melelahkan. Karena itulah Zayn dan Ziyad memutuskan untuk menggunakan pesawat jet pribadi saja. Pesawat itu tidak besar, tapi cukup untuk mengangkut mereka bertujuh ditambah 2 orang pengawal mereka. Sedangkan mobil besar yang mengangkut mereka, ditinggal di Jeddah, di rumah Zayn. Zayn memiliki tiga rumah di kota pelabuhan itu. Mereka langsung menuju lapangan terbang khusus, tempat pesawat pesawat terbang private milik para bangsawan Saudi diparkir. Dua orang pria Arab pengawal Zayn mengambil mobil itu dan seorang pria Arab lain lagi menyapa Ziyad dengan hormat dan kemudian mengikuti mereka menaiki tangga sebuah pesawat pribadi yang terlihat sangat modern. Bangkunya lebar-lebar dan diatur berhadapan, sehingga mereka bisa saling bercakap-cakap dengan nyaman. Perjalanan hanya satu setengah jam menuju Riyadh. Riyadh, ibukota Arab Saudi itu merupakan kota yang modern. Jalan tol melintang di mana mana, demikian pula jalan layang. Belum lagi gedung gedung tinggi pencakar langit. Aira tak pernah menyangka bahwa kota di negeri Arab bisa sebagus itu dan semodern itu. Belum lagi ketertakjubannya mengendarai pesawat terbang pribadi milik keluarga kerajaan. Hari-hari yang dilaluinya semenjak pergi umroh dan terus ke ibukota Saudia benar-benar sesuatu yang tak pernah ia perkirakan sebelumnya. Ketika sampai di Riyadh, hari sudah sore. Mereka berhenti di sebuah rumah dengan tembok tinggi di depannya. Pintu pagarnya pun tinggi, dan Aira terkejut ketika pintu gerbangnya itu terbuka secara otomatis. “Wow.. keren..” bisik Aira tertahan. Tapi, Ziyad yang duduk di belakangnya mendengar itu dan ia tersenyum. ‘Pasti ia belum pernah melihat hal seperti ini sebelumnya di negerinya’ gumam Ziyad dalam hatinya. “Nggak pernah lihat hal seperti ini sebelumnya?” Tanya Ziyad dalam bahasa Inggris. “Pernah… aku pernah melihatnya di film.” Jawab Aira juga dalam bahasa Inggris yang lancar. Mereka turun dari mobil Itu. Zayn dan Ziyad memerintahkan pengawal-pengawal mereka untuk mengeluarkan koper koper dan barang barang bawaan mereka yang lain. Astri kemudian memandu ibu dan adiknya serta anak anaknya berjalan melewati taman kering di samping pelataran parkir yg lumayan luas di rumah megah itu. "Bu, di sinilah aku tinggal, semoga ibu berkenan.” “MasyaAllah nduuk, cantik sekali..” “Alhamdulillah bu…” jawab Astri sambil tersenyum, “Dan, Aira di rumah ini juga saat aku pertama kali bekerja pada Zayn, suamiku.” “Ih, mbak tuh kerja disini waktu itu sebagai apa sih? Mbak kan Sarjana Loh” Tahu ga dia itu sebenarnya menculikku dari rumah Saudarinya, princess Ameera." "Lah, terus kenapa dia menculik mbak?" Tanya Aira penasaran." Astri mengangkat bahunya. "Tanyalah sama dia." Kata Astri sambil melirik suaminya tapi dengan ekspresi muka yang menggoda. "Baik, akan kutanyakan mbak.. mbakku.” Aira kemudian melihat ke kakak iparnya itu dengan ekspresi muka yang benar benar penasaran. “Mas… mas Zayn." “Ha ha ha …. Mas Zayn…” seketika tawa Astri menggelegar, tapi ia langsung menutup mulutnya kembali dengan kedua tangannya. “Mbak Astri! Kenapa sih? Salah kalau kupanggil mas Zayn?” “Nggak sih… cuman kan dia orang Arab, dan nggak dipanggil mas. Aneh aja mas..digandeng dengan Zayn." Zayn baru saja memasuki ruangan foyer yang merupakan ruangan paling depan dari bangunan rumah itu dan merupakan ruangan tempat menggantung abaya dan tempat meletakkan sepatu. Mendengar suara riuh tertawa Astri dan percakapan antara dua kakak beradik itu, ia bertanya , “What’s happened?” Apa yang terjadi, begitu tanyanya dalam bahasa Inggris. “I don’t understand!” Aku tak mengerti begitu tanyanya. "Why..did you……uppphhh". Astri dengan cepat menutup mulut adiknya. "Nothing… it's just between sisters." "Apa artinya menculik, bunda? Dan mengapa Ayah. menculik?." Seru Aisya tiba-tiba yang sejak tadi memperhatikan bunda dan Bulek-nya bercakap-cakap.. "Ayah menculik bunda?" Gadis kecil itu mengucapkan menculik dalam bahasa Indonesia. Aisya memanggil kedua orang tuanya dengan panggilan Indonesia, ayah dan bunda karena memang Astri yang mengajarkannya dan Zayn tidak masalah tentang itu, ia membiarkan saja. "What is menculik Astri? " Tanya Zayn. "Hmm …." Masih ditengah kebingungan menjawabnya, "Kidnap!" Seru Aira tiba tiba. "What? Kidnap?" Muka Zayn terkejut sesaat dan sedikit Shock. Tapi kemudian ia tersenyum, “Aku menculiknya untuk Aisya, kasihan Aisya.. kalau ibunya tidak kuculik, dia tak akan lahir ke muka bumi ini.” Tidak tergambar sedikitpun perasaan bersalah dalam raut wajah pangeran Arab itu. Justru pandangan sayang mendalam terlihat jelas di matanya. Zayn memang mencintai istrinya itu, ia benar benar telah menemukan belahan jiwanya. Aira takjub mendengar penjelasan kakak iparnya itu dalam bahasa Inggris. Zayn sengaja menjelaskan itu dalam bahasa Inggris agar Aira mengerti. “Ooh so sweet… “ Aira memandang mbaknya itu pun dengan tersenyum…”Mbak, kayaknya dia cinta mati nih sama mbak.” Aira berkata pada mbak nya itu sambil mengedipkan satu matanya. “Hahahaha… Astri tertawa gelak.” “Ada cerita apa nih sampai tertawa-tawa seperti ini?” Tanya Ziyad nimbrung. “Ayo kita masuk dulu.” Mereka memang berhenti di ruang depan dan nyaris menutupi jalan masuk ke rumah itu. “Ya dek, sebaiknya kita beres-beres barang dulu, baru nanti setelah kita duduk sambil minum teh dan ngobrol-ngobrol.” Mereka kemudian berjalan masuk rumah itu lebih dalam lagi. “Sini dek, aku tunjukkan kamarmu.. aku sampai lupa menunjukkan kamarmu saking asyiknya ngobrol.” Aira tersenyum… “Cerita mbak seru sih. Wah mbak, aku pingin dengar versi lengkapnya.. janjinya cerita ke aku.” “Tenang dek, ada saatnya.” Kata Astri, tersenyum. “Kamu tidur sama ibu ya dek. Kamarnya luas kok.” “Percaya aku mbak.. pasti kamar di rumah ini wow wow semua. Rumah sultan..!” “Ah bisa aja kamu dek..” “Sungguh mbak, mbak beruntung banget.” Tanpa mereka menyadari ada seseorang yang terus menerus memperhatikan mereka. Interaksi kakak beradik itu tak lepas dari pandangan orang tersebut. Ya, orang tersebut adalah Ziyad. Tapi Ziyad tidak mengikuti kakak beradik itu yang sekarang naik ke lantai atas hendak menunjukkan kamar yang akan dipergunakan Aira dan ibunya. Ziyad berkata pada kakaknya, “Sementara aku akan tinggal di sini.” “Ya aku paham. Mudah-mudah2an berhasil.” Jawab Zayn si empunya rumah. Sebenarnya Ziyad punya rumah sendiri. Rumahnya pun tak kalah megahnya dari rumah kakaknya ini. Tapi ia berpendapat, untuk mencapai tujuannya, ia harus ikut menginap di sini.” Ziyad bersama ibunya Aira di ruang tamu, demikian juga dengan Thariq dan Aisya. Ruang tempat Aira dan Astri berbicara tadi adalah ruang Foyer, atau bisa disebut sebagai ruang penerimaan. Sedangkan ruang tamu di rumah itu masuk lagi ke satu ruangan lain yang lebih ke dalam, melalui sebuah pintu. Ruang tamu atau ruang tempat mereka menjamu para tamu, merupakan ruangan yang boleh dibilang luas.. lumayan sangat luas untuk ukuran sebuah ruang tamu, mungkin sekitar 5 x 6 meter persegi, dilengkapi beberapa sofa panjang tiga dudukan, dua dudukan dan satu dudukan. Dan juga beberapa coffea table yang ditata apik, dan lantainya dilapisi permadani. Gaya ruang tamu itu lebih bergaya klasik eropa tapi dengan nuansa warna yang netral, bahkan permadani pun memakai tone warna netral, krem. Hanya bantal-bantal asesoris yang diberi warna agak mencolok sebagai center perhatian. Selain itu dindingnya dihiasi beberapa lukisan bergambar bangunan khas Arab, beberapa lampu gantung dengan style Maroko menambah nuansa Timur tengah, sehingga tidak hanya Eropa yang dirasakan, tapi juga Timur tengah. Ruang tamu itu benar-benar didesign dengan selera tinggi. Sementara itu, Astri membawa Aira ke kamar tidur yang akan menjadi tempat istirahat adiknya itu selama di Riyadh. "Nah dek.. ini kamarmu bersama ibu. Ini memang kamar tamu. Ada satu lagi kamar tamu di lantai atas tempat adiknya Zayn tidur jika ia menginap disini. Maha memang sering menginap disini, ia sangat menyukai Aisya." Aira mengangguk anggukkan kepalanya. “Oya dek, kamu kan lagi liburan.. agak lamaan aja disini ya..” “Iya sih mbak, aku liburan, tapi akukan lagi mempersiapkan mau kuliah.” "Ya ndak apa apa lah dek.. sambil belajar saja di sini." "Ya ndak bisa lah mbak… aku ndak mau gagal, aku mau jadi dokter." "Iyaa.. aka tahu.. Insyaallah.. kamu lulus.. kamu kan pintar.." "Amiiin aamiin..". “Mbak, suami mbak itu kayaknya sayang banget sama mbak. Mbak itu beruntung banget. Aneh… ya mbak.. setahu aku pria Arab tuh ndak ada yang kayak gitu.. mereka Play boy, dan suka mempermainkan perempuan.” Aira bertanya dengan Herman. “Ya memang dek, aku pikir juga begitu. Dulu aku bahkan sudah pasrah dengan nasibku, kupikir aku hanya akan jadi barang mainannya saja.” “Barang mainan ?” Maksudnya apa? kalau kamu tau perjalanan ceritaku menjadi istrinya, itu sangat menakutkan. Aku ini dulu budaknya.. benar-benar budaknya. Dalam arti aku mengerjakan semua apa yang dia perintahkan, aku melayaninya dari dia bangun sampai dia tidur lagi dan itu terserah-serah dia mau ngapain.” “Ihhh.. mengerikan amat ya mbak.” Timpal Aira. “Parah dek… dia menyiksaku dengan memindahkan semua pelayannya ke rumahnya yang lain dan hanya menyisakan aku sendiri di rumah sebesar ini, dan aku disuruh mengerjakan semua pekerjaan rumah dari A sampai Z, bahkan dulu aku punya madu, Zayn pernah menikah saat aku menjadi budaknya.” "Maksud mbak gimana? Madu ? Mbak sudah menikah saat jadi budaknya? Gimana sih maksudnya ? Mbak dinikahi dulu?' Seketika wajah Astri pucat. Ia baru menyadari kalau ia telah salah berbicara, dan adiknya yang cerdas itu menangkap kejanggalan itu. "Uuh…hmm…duh…" Astri menggaruk garukkan kepalanya. Tidak tahu harus menjelaskan bagaimana, ia sudah keceplosan ngomong. "Kenapa mbak? Kok mbak jadi pias gitu mukanya.? Jadi sebenarnya kapan kalian pertama kali menikah?" Astri tak punya pilihan. “Kamu ingat ketika aku bilang bahwa aku mengerjakan pekerjaan di rumah ini dari A sampai Z dan aku melayaninya dari bangun tidur hingga tidur lagi di malam hari? Aira mengangguk. “Nah itu, aku juga melayaninya di..” “Stop!, tidak usah dilanjutkan, aku sudah paham.” “Tapi ia berdalih, katanya, Zayn maksudku, bahwa karena aku itu budaknya dan didapatkan dengan cara dibeli, maka ikatan itu lebih kuat, lebih dari seorang istri, aku ini miliknya sepenuhnya, tidak akan berpindah tangan kecuali dia menjualnya atau melepaskannya ke orang lain. Aku ini hak nya, memang posisi b***k itu di bawah istri. Tapi kepemilikannya lebih kuat dari istri. Gimana ya.. aku juga susah menjelaskannya.” Astri kembali menggaruk-garukkan kepalanya yang masih tertutup hijab berwarna hitam. Astri melanjutkan, “Kalau istri kan boleh meminta cerai, tapi b***k tidak. Jadi dia justru tak mau menikahiku pada awalnya. Aira terpana mendengar penjelasan kakaknya itu. “Aahh mbak ini kok naif banget sih.. mau aja nih dikelabui sama pria, itu kan namanya modus mbak, yaa kecuali mbak memang suka dan mau sama dia.” Kata Aira jengkel. Tapi kemudian wajah iseng nya muncul, “Aku rasa mbak memang ada hati nih sama dia, jadi mau aja diperdaya sama dia.” “Aku memang diperdaya dek. Kalau mengingat peristiwa itu tentu aku akan berpikir bahwa dia itu jahat. Dia mendapatkan ku pun dengan penipuan. Dia menipu iparnya dan dia juga menipuku.” “Menipu mbak?” “Ya.. mana mungkin dia mendapatkanku kalau tidak dengan menipuku, atau dia memaksaku dengan pemerkosaan, tapi dia tidak melakukan itu, tapi dia menipuku dengan menaruh obat di minumanku..” “Maksud mbak, obat perangsang ?” “Tuh kamu bisa nebak.” “Serius mbak itu yang dia lakukan?” “Ya tapi setelah itu aku pasrah de.. dia mencuci otakku dengan konsep budaknya itu, tapi sementara itu dia memperlakukanku dengan baik, bak istrinya, dia memenuhi semua kebutuhan keuangan kita, dia mengirimkan uang ke ibu. Dan dia tidak mempunyai perempuan lain selain aku.” “Tapi tetap saja mbak, status b***k itu kan tidak ada kebebasan di dalamnya.. mbak hanya properti dia.” “Nah untuk itu aku berterima kasih pada Ziyad.” “Ziyad? Apa urusannya pria itu?” “Dia mengancam Zayn, dengan menculikku dan mengancam akan menikahiku jika Zayn tak menikahiku.” “Wow.. super hero sekali..” “Ya memang.. aku pantas bersyukur.” “Terus pertanyaan selanjutnya, kenapa Ziyad mau melakukan itu?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD