Nah, untuk yang itu mbak tidak paham juga.” Jawab Astri dengan hati-hati. Sejujurnya ia agak takut mengungkapkan kejadian itu.”
“Aku rasa ia Ziyad menyukai mbak “.
“Mungkin..!”
“Wah seru nih mbak ceritanya. Gimana tuh akhirnya mbak bisa lepas dari penculikan nya? Kan katanya tadi mbak diculik?”
“Seru apanya neng?.. sport jantung aku.. Yang jelas aku kemudian dilepaskan oleh Ziyad.
"Lah kenapa ? Emang motifnya apa menculik mbak?"
"Ndak tau de.. hanya dia yang tahu, yang jelas dia ingin menikahi mbak, sedangkan Zayn tidak."
"Bundaa… " tiba tiba terdengar suara Aisya dibalik pintu. Dan tak lama kemudian pintu kamar terbuka. Gadis kecil blasteran Jawa Arab itu muncul dengan rambut keriting spiral terjuntai di bahunya. "Bunda kemana aja sih? I m looking for you" kata gadis kecil itu dengan bahasa yang campur aduk,
"Kenapa sayang?"
"Bunda dicari eyang."
"Aihh sampai lupa, baik bunda keluar, kamu disini saja dek, mbak bawa ibu kesini ya biar sekalian tahu kamarnya."
"Oya Aisya. Eyang dimana?"
"Di ruang duduk bunda."
Astri keluar kamar mencari ibunya di ruang duduk.
Di ruang duduk itu ada Ziyad, Zayn dan Tari. Astri tersenyum pada ibunya, "Maaf ya Bu tadi keasyikan ngobrol sama Aira."
"Apakah kamu memberitahukannya?" Tanya Ziyad, dalam bahasa Arab.
"Tentu saja tidak. Aku bisa menyimpan rahasia. Tapi sampai kapan kamu akan merahasiakannya?"
"Yang jelas sekarang belum saatnya, dia tak mengenalku, nanti ketika dia sudah mengenalku, baru aku akan melamarnya."
“Ziyad, apakah Keluargamu yang lain, selain Zayn adakah yang tahu tentang pernikahan ini?” Tanya Tari tiba tiba. Pertanyaan yang tak pernah Ziyad kira akan ditanya oleh Tari.
“Belum bu, aku tidak mau terjadi kehebohan, sedangkan Aira sendiri belum mengenalku, apalagi mencintai ku.” Ziyad menarik napas panjang.
“Ibu tidak usah khawatir, aku tidak akan memaksa putri ibu. Dan aku bersabar hingga ia pun menyukaiku dan mau menerima pinangan ku.”
“Baiklah kalau begitu, ibu ikut saja, ibu hanya ingin tahu.”
Semua terdiam.
“Bu, kalau ibu berkenan, aku berniat mengajak Aira dan ibu jalan-jalan. Mungkin ke Yordania, Mesir, dan Kota Riyadh tentunya.”
Mata Tari berbinar-binar, selama hidupnya, dia memang belum pernah diajak jalan-jalan keluar dari kota Jogjakarta, dan kini ia diajak jalan-jalan ke negara yang terkenal dengan tempat-tempat bersejarahnya. “Serius? Kamu tidak bercanda kan ? Kami sudah amat bersyukur di ajak umroh dan sekarang diajak lagi ke Yordan dan Mesir.
Sedangkan Astri hampir tak percaya apa yang ia dengar, Ziyad mau mengajak ibunya dan adiknya jalan-jalan. Enak bener ya Aira, belum resmi secara terang terangan menjadi istri tapi sudah diajak jalan-jalan sejauh itu. Hmm… tapi akukan dulu juga begitu, Zayn mengajakku ke London ketika aku masih menjadi pengurus Thariq, anak pertama Zayn dari perkawinannya yang pertama.
"Aku ikut boleh ndak?" Pandangan Astri dengan penuh permohonan.
Sesaat Zayn terdiam memandang istrinya itu. Selalu terlintas keraguan dalam hatinya ketika harus melepas istrinya itu sendirian tanpa ia ikut serta. Ia akui dirinya seorang yang sangat posesif. “Nanti aku pikirkan dulu.” Jawab Zayn akhirnya.
Wajah Astri langsung kelam, ia tahu apa yang jawaban akhir yang akan diberikan suaminya itu. Dasar Arab, curigaan, posesif gila! Gerutunya dalam hati. Mulutnya pun langsung mengerucut. “Udah lah bu, mari aku antar ke kamar, Aira menunggu di sana. Dan ibu juga butuh istirahat. Nanti malam kita keluar makan, begit ya Zayn… bolehkan? Aku agak lelah nih dan seperti nya tidak akan sanggup menyiapkan makan malam.”
Kali ini suaminya itu tersenyum dan mengangguk. “Baiklah, kau bisa mengantarkan ibumu ke kamar.”
"Mari buu…" Astri kemudian berjalan terlebih dahulu ke pintu diikuti oleh ibunya dan kemudian Ziyad juga mengikuti. Pria itu mengambil koper koper yang masih terletak di hall rumah itu dan mendorongnya ke kamar tamu tempat dimana Tari dan Aira akan tidur selama mereka di kota Riyadh.
Aira menunggu ibunya sambil memainkan handphonenya.
“Aira, tolong bawakan koper koper kita, lihat mungkin sudah diturunkan dari mobil, tapi seperti nya masih di dekat pintu depan, ibu juga tidak tahu diturunkan dimana, coba kamu cek dulu.”
"Baik Bu.. sebentar nih si Diana nanya melulu.." kata Aira sambil masih memencet layar handphonenya. Tapi setelah itu ia beranjak dari sofa kecil tempat tadi ia duduk. Kamar tamu itu juga dilengkapi sofa kecil 1 dudukan dan meja coffea tabel bulat seperti layaknya kamar hotel saja. Aira beranjak sambil tetap menatap layar handphonenya sehingga ia tak melihat Ziyad yang tiba-tiba memasuki kamar yang pintunya memang masih terbuka itu.
Bukkk..! Mereka bertumbukan.
“Maaf.. “
“Sorry.”
Hampir bersamaan mereka mengatakannya. Wajah Aira memerah seketika, ia menabrak d**a bidang pria itu. Bau parfum mahal semerbak menerpa hidung Aira. Busyeet… wangi banget nih.
“Permisi, aku hanya ingin mengantarkan barang barang ini.” Kata Ziyad menunjuk koper koper Tari dan Aira yang berjejer berada di belakangnya.
“Oya silahkan..” jawab Aira masih dengan perasaan malu yang mendalam karena menabrak d**a Ziyad.
Ziyad sebenarnya terpana melihat kecantikan Aira. Rambut yang terurai sepundak itu, adalah pemandangan yang belum pernah ia saksikan sebelumnya. Ditambah lagi saat mereka bertubrukan tadi ia mencium harum lembut wangi rambut gadis Indonesia itu. Seketika darah lelakinya naik.
Selama perjalanan umroh mereka, Madinah, Mekkah, Ziyad belum pernah melihat penampilan Aira dengan rambut yang dilepas alami. Hmm…. MasyaAllah.. cantik.. gumamnya dalam hati.
Ziyad mendorong koper koper itu masuk ke kamar ibu dan anak itu. Setelah itu ia pamit keluar kamar dengan sebelumnya mengucapkan salam.
Di dalam kamar, Tari dan Aira.
Aira masih berdiri di depan pintu begitu juga dengan ibunya berdiri di belakang Aira.
"Nanti malam kita makan di luar." Kata Tari.
"Iya Bu, tapi sekarang itu masih jam setengah empat bu dan aku lapar banget bu.Tadi di pesawat makan makannya nggak enak yaa, aku cuman makan sedikit.”
“Aduh.. ibu nggak tau disini kalau mau masak bagaimana. Tapi dapur pasti ada. Cobalah kamu tanya ke kakakmu. Sana keluar cari kakakmu.”
“Yaa ibu, aku malas bu, nanti ketemu mamang mamang Arab tadi.”
“Huss.. kamu, mamang mamang!.. dia pangeran loohh.”
“Ahh biar aja..emang mamang-mamang.. lagian ngapain juga dia nganterin koper ke kamar kita, kayak mamang-mamang aja, kenapa ga suruh orang lain aja anterin. Kan bisa.” Cetus Aira.
“Jangan-jangan dia suka kamu tuh Ra.” Ledek ibunya.
“Ueeek..” Sambil memperagakan seakan akan mau muntah.
“Eh .. kualat nanti kamu.. awas loh nanti kalau kepincut.”
“Udah bu.. aku lapar.”
“Ya sudah kalau begitu, kamu keluar, tanya saja kepada siapa yg ketemu di luar, minta tunjukan dapur dimana. Dah pergi sana” kata Tari sambil sedikit mendorong anaknya itu.
“Nanti kalau sudah ketemu, aku ngapain bu?”
“Ya masak lah..”
“Emang ada Indomie?”
“Ada.., masa sih mbak mu nggak punya stok Indomie? Udah sana!”
Dengan malas-malasan, Aira akhirnya mengangkat kakinya yang sudah serasa menempel di lantai kamar itu, keluar kamar.
Di luar kamar, Aira mulai celingak celinguk, melihat keberadaan orang di rumah itu, ia tak melihat siapa-siapapun. Ia melangkah maju, dan menemukan sebuah pintu yang terbuka, tapi ia tak melanjutkan langkahnya karena ia melihat Ziyad yang duduk di situ sambil membaca di handphonenya. Tapi yang dipandang segera menyadari kehadiran Aira di luar pintu dan langsung tersenyum, bangkit dari sofa dimana ia duduk, menghampiri Aira.
Aira tak sempat berputar balik. Aihh sial, dia sudah melihatku. Entah kenapa Aira begitu enggan bertemu dan berurusan apapun dengan pria ganteng ini.
“Aira… !”
Aira berbalik arah, ia memutuskan untuk menahan lapar nya saja. Tapi Ziyad mengejarnya dan dengan sangat cepat ia memegang lengannya menahan Aira yang siap berlari.
“Ada apa? Kamu butuh sesuatu?”
“Nnngg..aku.. aku mau ke dapur.. aku lapar.” Jawabnya terbata-bata.
“Baik aku antarkan.. “ jawab Ziyad tersenyum, ia kemudian berjalan di sisi kiri Aira sedikit mendahului gadis itu.
Mereka melewati ruang makan dulu baru menemukan dapur di sebelah belakang ruang makan.
Aira diam, sambil mengikuti langkah Ziyad, ia kini di belakang Ziyad.
“Kau mau makan apa?” Tanya Ziyad sambil menoleh ke belakang ke arah Aira.
“Indomie! Apakah kakakku menyimpan itu?”
“Indomie.. ya aku tahu itu. Makanan Indonesia yang sangat terkenal, dan gampang dibuat.”
“Ya ya itu..”
“Baiklah, kita lihat apakah di dapur kakakmu ini ada Indomie.”
Dapur itu sepi, entah dimana pelayan pelayan di rumah itu. Ziyad mulai memeriksa laci laci dapur. Semua laci, lemari sudah diperiksa tapi ia tak menemukan Indomie yang dicarinya. Aira pun ikut membantu. Tapi nihil.
“Bagaimana mungkin mbakku itu tak menyimpan satupun Indomie. Dia orang Indonesia loh.. setiap orang Indonesia itu pasti menyimpan Indomie di rumahnya, meskipun dia di luar negeri. Begitu yang aku tahu.” Aira tak percaya, padahal dia sudah lapar.
“Tenang, tenang, aku menemukan ini.” Ziyad menunjukkan sebungkus mie spageti yang masih terbungkus dalam kemasannya. “Aku buatkan sesuatu ya, kamu pasti suka. Kamu bantu ya.. kita buat sama sama.”
Ziyad memang modus, meminta Aira untuk membantunya, sengaja! Untuk membangun kedekatan.
Aira hanya tergugu saja, tidak bisa berkata apa apa. Saat itu ia tak perduli juga, karena dia lapar.
Ziyad mengambil panci, mengisinya dengan air, dan menjerangnya di atas kompor dan kemudian menyalakan api kompor itu. Ziyad menunggu sampai airnya mulai membentuk titik titik udara di dasar panci dan mulai memasukkan spagheti kering ke dalam nya dan menuangkan setengah sendok makan garam dapur. Panci ditutup.
“Nah Aira sekarang kupas bawang putih ini, cincang sampai halus. Kamu bisa kan. Atau kamu belum pernah melakukannya?”
“Tentu pernah dong. Aku sering kok membantu ibuku di dapur. Mana pisaunya, alas potongnya?”
“Nih..!” Ziyad menyerahkan barang-barang yang Aira minta.
Dengan cepat Aira mencincang bawang putih itu.
“Nih sekalian, daging asapnya di potong kecil kecil sesuai selera kamu.”
Sementara itu Ziyad memeriksa rebusan spageti. “Sudah.” Kata Ziyad. Ia kemudian meniriskan mie Italia itu.
Ziyad mengambil pan lain yang cukup besar diameternya, menuangkan sedikit minyak zaitun bening.
“Aira, tolong tuangkan bawang putihnya?”
“Baik.”