Malam itu ketika semua sudah berada di tempat tidurnya, demikian juga dengan Ziyad. Tapi, tenggorokannya terasa sedemikian kering, dan ia baru menyadari ternyata ia belum membawa air minum ke dalam kamarnya. Biasanya ia selalu membawa segelas air minum untuk persediaan jika terbangun di malam hari dan merasa haus.
Ia berjalan melintasi selasar gelap di lantai atas rumah kakaknya itu. Sunyi,.. Saat itu hari menunjukkan pukul 1 pagi di jam tangannya. Ketika ia melintasi kamar kakaknya, sayup-sayup ia mendengar suara desahan dan rintihan. “OMG, jangan sampai aku harus mendengarkannya di malam buta begini.” Tapi tak urung rasa penasaran menderanya. Ziyad berhenti di depan pintu kamar Zayn. Hmmm … hot sekali mereka, pikir Ziyad. Ia mendengar suara Astri merintih nikmat di tengah desahan Zayn. Seketika gairah Ziyad pun bangkit membayangkan bagaimana mereka berdua bergemul memacu dalam kenikmatan. Bagian yang sudah mengeras seperti terong itu tak mungkin dilunakkan begitu saja. Dan barang itu jelas tersembul menonjol mengacung di balik thobe putihnya ditambah lagi ia tak mengenakan apapun dibalik thobe itu.
Kepala Ziyad terasa pening. Ia segera berlalu dari pintu kamar kakaknya itu. "Sial."gerutu Ziyad. "Bagaimana aku harus menidurkannya." Tapi gniatnya ke dapur untuk mengambil air minum tak ia urungkan, ia pikir hari toh sudah malam, tak mungkin ada makhluk lain yang gentayangan ke dapur kecuali dia sendiri. Ternyata perkiraan Ziyad salah, memasuki dapur ia seperti mimpi melihat sosok putri yang siap naik ke peraduannya dengan gaun putih renda renda dan rambut ikal tergerai sempurna hingga ke punggungnya. Pemandangan membuat bagian tubuhnya itu makin keras berdiri tegak. Ohh shiit, tidak bisakah kau tenang dulu.. belum saatnya kau beraksi; maki Ziyad dalam hatinya. Seharusnya aku memakai celana di balik thobe ini. Ziyad memang tidak memakai apapun ketika keluar tadi.. dia pikir hanya sebentar saja, jadi untuk keriskasan ia hanya memasukkan badannya ke dalam thobe itu. Padahal biasanya ketika tidur ia akan menggunakan celana pendek saja dan juga tanpa apapun penutup lain di dalamnya.
Ketika akan berbalik mengurungkan niatnya mengambil air minum, gadis itu sudah melihatnya. "Hai.." sapanya.."Haus juga? Mau ambil air minum ya?" Tanya Aira dalam bahasa Inggris.
Ziyad cepat-cepat menekan tubuhnya yang mengeras itu dengan tangan kirinya dan dengan cepat ia berlindung di balik meja island yg berada di tengah tengah dapur itu. Uhhh… Ziyad sedikit lega, karena paling tidak gadis itu tidak melihat hal yang memalukan itu. Sial..seharusnya aku bisa bercinta dengannya, pikir Ziyad. Aku bisa saja memaksanya, membekapnya dan membawanya ke salah satu kamar di rumah ini, dan tak ada yang akan menghalangiku, karena semua yang ada disini tahu bahwa aku suaminya. Hanya sayang Aira tak tahu itu. Tapi aku tak akan melakukan itu. Ujar Ziyad dalam hatinya.
"Kau kenapa?" Tanya Aira.
"Memangnya kenapa?"
"Wajahmu meringis begitu. Seperti menahan sakit. Kamu kebentok?'tanya Aira.
"Tidak, tidak. Aku hanya haus, makanya turun kesini."
"Terus mengapa tidak mengambil air minumnya?, kok malah duduk. Atau mau kuambil kan?"cerocos Aira.
"Nggak. Terima kasih aku bisa ambil sendiri ko, hanya saja aku masih ingin menikmati pemandangan indah di dapur ini." Jawab Ziyad sekenanya. “aku tadi hanya terpana melihat gadis cantik di rumah ini."
Aira tahu siapa yang dimaksud Pangeran Saudi ini, karena tidak ada lagi perempuan di dapur ini. Tak urung perkataan itu membuat Aira gugup dan tersipu malu. Tapi, ia berusaha cepat menguasai dirinya, seolah-olah ia tak terpengaruh mendengarkan itu, bahkan seperti ia tak mendengarnya. Aira langsung mengambilkan segelas air minum untuk pria Saudi itu
“Eeee.. tak usah diambilkan Aira..sudah kukatakan, aku bisa sendiri.”
Tapi Aira sudah mengambilkannya dan segelas air minum di tangan Aira itu sedang menuju ke depan Ziyad, dan ditaruh Aira di atas meja Island itu.
“Terima kasih.” Jawab Ziyad sambil tersenyum.
“Your welcome. Kalau begitu saya kembali ke kamar ya mister.” Aira berkata dengan mimik muka cengengesan.
Aira berlalu ke luar dapur. Ingin sekali Ziyad menahannya untuk berbincang-bincang, tapi ia takut tak bisa mengendalikan nafsunya. Kalau dulu, dengan pacar-pacarnya ia berani langsung menyergap mereka dan tak ada satupun dari mereka yang menolaknya di ajak ke tempat tidur. Mereka semua terpesona dengan kegantengan dan mungkin juga statusnya sebagai seorang salah satu member the royal Saudian family. Tapi sepertinya itu tidak berlaku pada gadis Indonesia ini. Padahal, dilihat dari status ekonomi, gadis ini jauh dari pacar-pacarnya, tapi gadis ini terlihat sama sekali tidak tertarik baik dari kegantengan Ziyad, maupun status sosial dan ekonomi pria itu. Hal ini justru membuat Ziyad tambah penasaran. Sudah beberapa kode-kode yang ia luncurkan bahwa ia sangat menyukai Aira tapi gadis itu berlagak seperti gadis bodoh yang tidak tahu bahwa Ziyad menaruh hati padanya.
“Shit..!” Harusnya aku tahan dia. Aku yakin dia tak akan menolakku. Tapi kenapa diri ini tak sanggup.
Ziyad akhirnya kembali ke kamarnya dengan kepala yang masih berdenyut, pusing. Tadinya ia ingin mengetuk kamar Aira, tapi itupun tak ia lakukan. Ia takut berbuat tak pantas di saat yang tidak tepat.
Keesokan harinya, Ziyad sudah tidak ada di rumah kakaknya itu, ia pergi setelah subuh. Selama 2 hari pria itu membereskan semua urusan bisnisnya. Ia berusaha menghilangkan pikirannya pada istri rahasianya itu, karena setiap kali ia memikirkan Aira, maka gairahnya bangkit dan akan membuat kepalanya sakit seharian.
——-
Mereka take of dari bandara Riyadh internasional AirPort sekitar jam 7 malam. Mereka sepakat untuk tidak menggunakan pesawat pribadi mereka, melainkan menggunakan penerbangan komersial, supaya trip ini benar benar seru dan terasa natural. Meskipun begitu mereka mengambil tempat duduk kelas bisnis. Perjalanan itu akan memakan waktu lebih dari 2 jam.
Bagian First class ini terdiri dari 3 jejer tempat duduk yang masing-masing barisnya terdiri dari dua tempat duduk yang berdempetan. First class saat itu tidak tersisi banyak orang, hanya beberapa orang selain mereka yang duduk disitu, selebihnya hanya mereka bertujuh.
Saat menduduki kursi first class, Aira berkata, “Wow bu.. mewah sekali..” mata Aira berbinar.
“Kamu kampungan sekali.. memangnya jet pribadi tadi nggak mewah? Naik jet pribadi tadi kamu ndak komen.. sekarang malah komen. Aneh kamu..”
“Iya mewah bu.. jet tadi saking mewahnya.. mulutku ternganga bu.. tadi ibu ga lihat ya.. speechless tadi aku bu. tapi yang ini, first class pesawat komersial. Keren bu.. Bu, memangnya mereka sekaya itu ya?”
“Ya begitu, kamu lihat aja sendiri rumahnya mbakmu tadi. Kamu pingin? Ngiri?”
“Ndak bu.. ndak.. hanya kagum aja. Aku ndak ngiri kok, seperti kata ibu, rezeki orang itu masing-masing, Gusti Allah sudah menentukan rezeki orang dan ndak bakal ketuker.”
“Wah anak ibu,..” Tari tersenyum melihat anaknya itu.
Deru mesin pesawat meraung-raung memekakkan telinga ketika pesawat Royal Jordania itu take off ke udara. Kursi di crown bussineas class itu benar-benar besar. Aira duduk di samping ibunya, Zayn duduk dengan Aisya, Astri duduk dengan Thariq dan Ziyad duduk sendirian.
Setelah take off dan pesawat sudah di atas awan, Tari pergi ke toilet, ia meninggalkan bangku kosong di sampingnya. Melihat itu Ziyad langsung pindah ke kursi di samping Aira.
“Hai..” sapa Ziyad.
“Ehh.. kamu.. Nanti ibu duduk dimana?”
“Tenang, aku nanti balik kok.” jawab Ziyad santai. “Katanya kamu baru tamat SMA ya? Mau masuk jurusan mana? Universitas apa?”
“Ouu.. satu satu tanyanya. Betul, aku baru lulus SMA dan aku ingin kuliah di kedokteran. Tentu saja di Indonesia. Memangnya kenapa?”
“Nggak pengen kuliah di Saudi saja?”
“Hah..?!!” Aira menoleh bingung pada Ziyad. “Ndak.. Ndak.. Aku kuliah di Indonesia saja. Mau kuliah di Jogja saja.” Sahut Aira mantap. “Lagian kenapa juga aku mesti kuliah di Saudi.”
“Ya kalau kamu kuliah di Saudi, kan bisa kumpul dengan kakakmu dan juga dengan ibumu.
“Ibu? Ibu tak mungkin mau pindah kemari, dia punya komunitasnya sendiri.”
“Tapi kalau anaknya semua di Saudi, aku rasa ibumu ikut juga pindah ke mari.”
"Ndak. ndak., Aku mau di Jogja saja. kuliah kedokteran itu, aku dengar akan lebih baik di negeri sendiri.”
“Ahh kata siapa..?” Tanya Ziyad lagi. Sayang, Saudi akan jadi negeri mu juga, negeri dimana anak-anak kita akan lahir, negeri dimana kita akan membesarkan putera putri kita. Khayal Ziyad.
“Tunggu… tunggu… memangnya di sini ada fakultas kedokteran?”
“Ada dong,banyak!” Sahut Ziyad lagi. “kamu bisa belajar disini dan aku bisa bantu masukin kamu kuliah disini.”
“Ndak… ndak… aku lebih baik di Jogja. Di sini ribet ya, aku harus belajar bahasa Arab dulu. Malas ahh.. lagian nanti setelah lulus kalau aku pulang ke tanah air, aku harus adaptasi dulu.”
“Bagaimana kalau kejadiannya justru sebaliknya?”
“Maksudmu?”
“Kamu belajar di Indonesia, tapi kemudian justru kamu kerjanya di Saudia.”
“Kenapa aku harus kerja di Saudi. Aku ingin mengabdi di negara ku sendiri dan untuk negeriku, Indonesia.”
“Baik, coba kamu bayangkan kamu bisa kumpul dengan kakakmu dan juga ibumu di tanah perjuangan Rasulullah S.A.W, kan luar biasa. Tidak banyak loh orang yang bisa dapat kesempatan seperti ini.”
Aira tercenung.
“Mas, kuliah kedokteran saja udah susah, eh mesti pake pengantar bahasa Arab lagi.. nggak lah.. biarlah aku belajar di negeriku sendiri.”
“How did you call me? Mas? What does it mean?”
“Eh..maaf, maksudku Tuan Ziyad.”
“Bukan, bukan itu maksudku, apa artinya mas itu?”
“Ooo itu.. mas itu adalah panggilan buat saudara laki-laki yang lebih tua. Dan biasanya itu disematkan sebelum namanya jadi seperti mas Ziyad, gitu…”
“Oh Okay.. you can call me with that.” Kata Ziyad tersenyum. “I like it.”
“Uhuk Uhuk..” Aira terbatuk mendengarnya.. rasanya gimana… agak aneh menurut Aira, tapi ia tak sampai hati mengungkapkannya.
“Something wrong?”
“No..noo not at all“
I will call you that way. Of course..why not.” Sahut Aira.
”Back to the topic.” Lanjut Ziyad. “Pikirkan kemungkinan kamu sekolah disini.. i will help.”
“Okay, tapi pertanyaannya, why you want to help me?”
Ziyad menarik napas panjang. Suara deru mesin pesawat seperti terdengar lebih jelas, nyalinya tergilas oleh deruu itu. Ia menunduk sebentar, menarik napas panjang. ia menoleh ke arah Aira, matanya tajam menatap Aira. Dan pandangan itu seperti menembus ke dalam jantung Aira. Wajahnya serius, matanya berubah sayu.. melembut.. membuat Aira gelagapan.
“I cannot tell the reason..” kata Ziyad pelan sekali. Ziyad ingin sekali menyentuh pipi gadis itu dan mengatakan because I love, tapi mulutnya kelu. Ia ragu untuk mengatakan. apa yang ia rasakan, ia ragu karena ia takut ditolak jika ia mengatakannya.
Ziyad bangkit dan pergi meninggalkan Aira untuk kembali ke kursinya. Tapi ia melihat ibu mertuanya itu duduk di situ sedang asyik ngobrol dengan Aisya. Sebelumnya, kursi di sebelah Ziyad memang kosong. Entah kapan Aisyah pindah tempat duduk. “Bu aku sudah selesai.”
“Nggak Ziyad, kamu bisa duduk terus di samping Aira. Itu kesempatanmu.” Kata Tari dalam bahasa Inggris dengan suara pelan.
Ziyad merasa susah bernapas saat tadi, karena ia tak sanggup mengutarakan bagaimana perasaannya pada gadis yang ia cintai. Ia takut ditolak. Dan hatinya pun mengatakan ini belum saatnya. “Nggak papa bu, biar aku bersama Aisya.”
“Uncle Ziyad kenapa? Kesempatan duduk dengan Bulek Aira? Uncle pingin duduk dekat Bulek yaa?” Kata Aisya lugu dengan suaranya yang masih cadel.
“Sssstt…. Aisya, jangan keras-keras.” Kata Tari pada Aisya. Sambil menaruh telunjuknya di depan mulut gadis kecil itu sambil melirik ke arah Aira. “Kalem ya cantik..”
“Sudah sana, kembali duduk dekat Aira.” Perintah Tari.
“Baiklah, biar aku ke toilet dulu.”
“Uncle Ziyad likes Bulek Aira? Is it?” Tari terpaksa mengangguk. Tapi jangan bilang dulu yaa, biar Uncle yang bilang sendiri yaa..
“Kenapa?” Tanya Aisya lagi.
“Karena Bulek Aira belum tentu suka dengan Uncle. Jadi kita harus memberi kesempatan pada Uncle agar bisa membuat Bulek menyukainya.”
“Apa? Bulek Aira belum tentu menyukai Uncle? Pasti suka dong…! Uncle kan baik, ganteng lagi.”
Ziyad kemudian berjalan menuju toilet. Saat ia kembali, ia melihat bangku di samping Aira masih kosong.
Sementara ia harus melewati pramugari yang sedang membagi-bagikan makan malam. Pramugari cantik yang sepertinya berasal dari Lebanon itu tersenyum padanya. Ziyad tahu apa yang mereka pikirkan. Tapi wanita timur tengah bukanlah tipenya. Ia menyukai perempuan Asia Tenggara dengan kecantikan oriental nan seksi di matanya.