"Sungguh ?" tanya Astri senang. Tentu saja ia senang sekali suaminya bisa ikut jalan jalan. Meskipun ia akan bertambah repot mengurus 3 makhluk Tuhan itu. "Katanya tadi nggak bisa ikut.., kok sekarang jadi ikut?"
"Aku berubah pikiran." Mana mungkin aku membiarkan adikku yang play boy itu bersenang senang dengan dua perempuan yang ia gandrungi. Yang satu boleh saja itu istri gelapnya,tapi yang satu lagi itu adalah istriku yang juga ia pernah tergila gila padanya. No way.. biarpun aku tahu ia tak mungkin mengganggu istriku. Tapi rasa cemburu ini susah aku tangani. Aku teringat bagaimana adikku itu ingin merebut Astri dariku hanya karena aku belum mau menikahinya.
“Hey Zayn, aku tambah senang kok kalau kamu bisa ikut.. kita bisa double date kan hehehe..” kata Ziyad terkekeh.
Mereka bertiga tertawa, kecuali Aira, karena. Ziyad mengucapkan itu dalam bahasa Arab. Membuat Aira bengong dan bertanya-tanya. “Apa yang dia katakan? Kenapa kalian tertawa? Curang nih mengapa pakai bahasa Arab, aku tak mengerti. “Mbak, apa yang kalian bicarakan?”
“Kasih tau ga Ziyad?” Tanya Astri.
“Hmmm… kasih tau ga ya? Jawab Ziyad.. kali ini dalam bahasa Inggris. “Okay, kasih tau.”
"Double date." Kata Ziyad sambil menunjuk Zayn dan Astri, kemudian dirinya dan Aira.
"What??" Aira membelalakkan matanya. "I'm not his gf".
"Yes. You are not my gf, but you are my…. Hahaha…"
Aira menatap Ziyad bingung.
"Well, lebih baik kamu habiskan makanan mu dan beristirahat setelah itu, nanti malam kita dinner." Kata Ziyad berusaha menghindar.
Aira menghabiskan makanannya, kemudian ia membawa piring bekas makannya ke dapur dan hendak mencucinya, tapi Astri melarang,"biarkan saja di sana, nanti biar pelayanku yang akan mencucinya."
“Baiklah mbak, kalau gitu aku istirahat dulu.”
———
Setelah sholat maghrib, mereka berangkat bersama-sama ke sebuah restoran mewah di tengah kota Riyadh. Kota Riyadh tidak seperti 2 kota suci Mekkah dan Madinah yang banyak pembatasan antar pria dan wanita, di kota ini masyarakat lebih bebas bercampur. Restoran itu bernuansa Arab Classic, didesain seperti dalam tenda mewah, dengan lantai dilapisi karpet merah bercorak geometris khas Saudi. Restoran itu terbagi dalam ruangan-ruangan yang lebih kecil sebagai ruangan privat. Setiap tamu mendapatkan ruangannya sendiri sendiri.
Zayn memesan satu ruangan privat, mereka memasukinya setelah melepas sepatu dan meletakkannya di depan pintu masuk ruangan privat yang mereka pilih. Ziyad langsung mengajak Aira untuk duduk di sebelahnya, bahkan ia setengah memaksa Aira dengan cara menarik lengan Aira agar bisa duduk berdekatan dengan gadis itu. Bahkan Sejak turun mobil, Ziyad selalu menempeli Aira, dia takkan beranjak jauh dari belakang atau samping Aira. Hingga membuat Aira sedikit risih. Kenapa sih pria ini selalu nempel di belakangku ? Desis Aira dalam hatinya.
Sementara Tari hanya tersenyum sendiri melihat kelakuan menantunya itu. Pasti pria Arab ini sudah tak sabar ingin berduaan dengan putriku, hihihi jelas sekali dari gerak geriknya. Mungkin kalau ada kesempatan pasti putriku itu akan diterkamnya.
Mereka duduk berhadapan, Zayn, Astri, Thariq, Aisya dalam satu barisan dan di seberang mereka duduk Ziyad, Aira dan Tari.
Aira mengenakan baju seperti perempuan-perempuan Saudi, abaya hitam dan kerudung hitam yang waktu itu dibelikan oleh Ziyad. Tapi ia tak mau menggunakan cadar. Sehingga Ziyad berkata. “MasyaAllah,….cantik. Kau membuat pria pria yang memandangmu jadi pusing. Mungkin mereka akan protes nanti?” Komentar Ziyad ketika mereka sudah duduk bersebelahan dan Ziyad membisikkan itu di telinga Aira.
Aira mendelik kan matanya. “Bagaimana bisa mereka protes? Kamu kali yang protes. Nggak suka ya?”
“Aku suka kok, kalau pemandangan itu hanya untukku. Kalau berbagi dengan yang lain ya nggak suka. I m an egois person.” Balas Ziyad sambil tersenyum manis. Tak kunjung pernyataan itu membuat muka Aira merah tersipu malu. Ada sedikit kesenangan ketika Ziyad menyebutnya cantik. Ia mulai paham kalau pria Arab ini menyukainya, tapi Aira pura pura bego.
“Maksudnya apa?” Masih dengan berbisik.
“Hmm… masih kurang jelas ya?” Jawab Ziyad.
Mancing-mancing nih perempuan, Awas nanti biar kuberikan pelajaran.
“Belum paham.” Jawab Aira pelan, sambil nyengir.
“Apa nih bisik bisik..” tanya Astri dalam bahasa Indonesia sambil mengedipkan mata.
“Ndak pa pa mbak. Katanya wajahku bikin pusing. Tega bener ya mbak.” Jawab Aira dalam bahasa Indonesia.
“Apa apa nih, kok pake bahasa Indonesia?” Tanya Ziyad gusar.
“Rahasia! Mau tau aja.” Aira memonyongkan bibirnya, memgejek Ziyad.
Melihat bibir Aira itu, seketika membangkitkan hasratnya sebagai seorang lelaki. Awas ya… kuhisap nanti itu bibir. Untung saja dibalik thobe nya yang panjang itu Ziyad mengenakan celana panjang sehingga apa yang tiba-tiba menonjol itu tidak kelihatan.
Sejak sampai di Riyadh Ziyad selalu berusaha akrab dengan Aira, dan itu terkadang membuat Aira jengah bercampur senang tapi juga sebal. Karena pada dasarnya ia tak terlalu menyukai pria Saudi, dan ketika Ziyad mulai mendekatinya ia tidak terlalu senang. Tapi karena sikap Ziyad yang baik dan perhatian, membuat perasaannya tergugah.
Seorang pelayan pria berwajah Asia Tenggara, memasuki ruangan mereka dan menyodorkan dua set menu makanan. Zayn dan Astri melihat menu makanan itu bersama-sama. Sedangkan di hadapan mereka Ziyad dan Aira melihat menu makanan yang sama. Sementara Tari menunggu anak-anak dan menantunya memilih makanan.
Mereka akhirnya memilih nasi Mandhi sebagai makanan utama dan kambing bakar sebagai lauk pauknya disertai acar ketimun dan bawang besar. Mereka juga memesan Sambosa, atau pastel Arab Saudi. Untuk minuman mereka memesan teh yang disajikan dengan gelas-gelas kecil Saudi.
Ketika makanan itu datang, sebuah nampan besar terhidang, dengan toping daging kambing bakar.
“Gimana makannya nih? Mereka ndak kasih kita piring makan ya?”
Zayn dan. Iyas mengerti tentang ke khawatirkan mereka itu. “Makannya pakai tangan. Cantik.” Ziyad berkata dengan suara lembut dan pelan pada Aira. Tapi Astri juga bisa mendengarkan perkataan Ziyad itu.
“Kita makan langsung bersama sama di nampan itu. Itu cara makan khas Saudi, ya cara makan orang Arab sih… masa’ kamu tidak tahu Aira.” Astri menjelaskan dalam bahasa Indonesia. Sehingga membuat wajah Ziyad dan Zayn bertanya tanya. “Aku hanya menjelaskan cara makan orang Saudi.” Kata Astri lagi kepada Suami dan ipar Saudinya itu, dan ia menjelaskannya dalam bahasa Arab.
“Tidak ka, aku tidak tahu.” Sahut Aira. Baru kali ini kan aku ke Saudi dan baru kali ini aku berinteraksi dengan orang Saudi. Dan selama di tanah air, apa peduli ku dengan segala macam hal tentang Saudi.” Jawab Aira sedikit memberingut.
“Ya sudah sekarang cobain ya..," jawab Astri dan "Ayo Bu duluan.." pada ibunya.
"Yes mam, please, you first." Kedua pria Saudi yang notabene adalah menantu Tari, mempersilahkan ibu mertuanya untuk mencicipi makanan.
Di depan tiap orang disiapkan mangkok kobokan.
“Thariq, Aisya, cuci tangan dulu.” Kata Astri pada kedua anaknya yang duduk di sampingnya.
Kedua anak itu mencuci tangan nya. Aira ikut mencuci tangannya di kobokan yang ada di depannya.
"Mbak bisakah kita minta piring saja..aku tidak biasa ..makan bersama seperti itu."
"Dicoba dulu dek." Mereka berbicara dalam bahasa Indonesia.
Ziyad dan Zayn memperhatikan dan mereka berdua menangkap ketakutan Aira karena Aira memperagakan bentuk bulat seperti piring.
Tari pun terlihat kebingungan.
Zayn mengambil inisiatif,"baiklah, saya contohkan dulu". Pria Arab itu mencuci tangannya dulu. Kemudian ia mulai memotek sebagian daging kambing, menaruhnya di atas nasi Mandhi yang tepat di depannya dan kemudian menyuapkannya ke mulutnya. "Hmm.. begini Bu.." kata Zayn pada ibu mertuanya. “Ayo bu dicobain.” Pinta Zayn lagi.
Setelah mencuci tangannya, Tari mencoba menirukan apa yang dicontohkan menantunya itu.
“Ya bu, seperti itu.” Kata Ziyad. Ia sendiri kemudian mengambil sepotong daging kambing. “Ayo Aira, makan..”
Astri mulai mengambil nasi dan kambing bakar, begitu juga kedua anak anak Zayn dan Astri, tinggal Aira yang belum mulai makan. “Ayo Aira, makan. Apa aku bantu suapin?” Tanya Ziyad lagi.
Aira mendelikkan matanya ke arah Ziyad yang menggodanya. “Terima kasih, tapi aku bisa sendiri kok.”
Saat ia hendak mengambil makanan, tangannya dana tangan. Ziyad bersentuhan, dan ia merasakan getaran getaran aneh yang ia tak mengerti. Aira kembali menarik tangannya, hendak membiarkan Ziyad mengambil makanan terlebih dahulu, tapi Ziyad juga menarik tangannya. Kesannya mereka seperti berebutan di tempat yang sama.
“Eeh maaf.” Kata Ziyad.. Wuzzz… seperti listrik.. Ziyad pun merasakan getaran aneh itu.
Ia membiarkan Aira mengambil kembali makanannya. “Ambil potongan kambingnya dulu Aira, baru diambil nasinya.”
Aira mengerjakan seperti yang dikatakan Ziyad. “Nah seperti itu.”
Zayn, Astri dan Tari yang melihat kejadian itu hanya tersenyum memperhatikan tingkah mereka.
“Bulek Aira dan Uncle Ziyad, jangan berebutan makannya.” Kata Thariq dalam bahasa Arab. Mendengar itu, Astri, Zayn dan Ziyad tertawa.
“Apa ? Kok pada tertawa?” Tanya Tari dan Aira.
“Kata Thariq Aira dan Ziyad berebutan makanan.”
“Ahh nggak ko.. kita nggak rebutan makanan.” Kata Aira.
Sejak kejadian sentuhan tangan itu, Aira berusaha sedikit menjauh, ia tak mau mengambil resiko bersentuhan lagi dan merasakan getaran listrik itu. Meskipun begitu, tangan mereka beberapa kali bersentuhan, dan tiap kali itu terjadi, getaran getaran listrik itu terjadi diantar mereka berdua.
“Mbak, kita jalan-jalannya ke Yordania kapan? Cepat-cepat aja deh, aku mau cepat juga pulang ke tanah air, aku mau belajar.” Tanya Aira dalam bahasa Indonesia.
“Wah mesti tanya Ziyad tuh, kapan dia mau membawa kita.”
Mendengar namanya disebut Ziyad langsung menyahut, “What did you both say?”
“Dia bertanya, kapan jalan-jalannya ke Yordania?” Astri menjelaskan dalam bahasa Inggris, agar Aira juga mengerti.
“Kamu maunya kapan?” Tanya Ziyad pada Aira. “Zayn kalau jadwalmu tidak pas, nanti menyusul saja.” Lanjut Ziyad
Zayn diam saja. Ia tak begitu suka menyusul.
“Kok tanya aku.. kenapa nggak tanya ibu sih? Bukannya kamu mau ngajak ibu?”
“Yee..ss, tentu ngajak ibu, ngajak kamu juga.”
“Aku terserah saja, lebih cepat lebih baik, soalnya aku mau persiapan test masuk universitas.”
“Okay, kalau begitu lusa ya.”
Aira dan ibunya mengangguk.
“Asyiikkk… kita jalan-jalan lagi ya bunda..horeee..” Thariq berteriak senang.
Astri tersenyum lebar.
Mereka begitu menikmati makan malam bersama itu, dan ketika berakhir, perut mereka sudah kekenyangan. Hari telah cukup larut ketika mereka sampai di rumah. Aira langsung masuk ke kamar tidur beserta ibunya, Tari. Sedangkan Aisya dan Thariq sekarang mereka tidur satu kamar di sebelah kamar kedua orang tuanya. Zayn dan Astri sudah memiliki kebebasannya untuk menikmati setiap malam-malam mereka.
——