Pria itu terus tersenyum dan memandangku. Kenapa dia terus memandangku? Ada yang salah dengan wajahku? Aku baru menyadari kalau aku sudah melepas cadarku, apa karena ini? Aduuhhh.. Memang malapetaka nih kalau ga pake cadar. sSeharusnya aku tetap memakai cadarku, tapi sudahlah, aku sudah sesak napas juga memakai cadar itu terus menerus. Ini kan sudah di kamar, jadi saat aku membuka cadar itu.
“Siapa itu Aira?” tanya ibuku.
“Saya bu, Ziyad.” Loh kok dia yang jawab ya, dan bukan aku.
“Ziyad, masuk nak.” ibuku menimpali lagi, dan ibu segera duduk di atas tempat tidurnya dan merapikan sedikit kerudungnya.
“Baik ibu.” dengan tersenyum dan tanpa ragu-ragu pria itu masuk. Aku terheran-heran, kenapa kok ibu begitu ramah pada pria ini. Siapa pria ini? Aku seperti pernah melihatnya. Seperti, seperti, suami mbak Astri, mereka berdua memang mirip. Sama sama tinggi, mungkin sekitar 178 cm hingga 180 cm. Ukuran yang cukup tinggi buat orang Saudia. Badannya tang atletik pun sama seperti badan Zayn. Aku membayangkan otot yang membayang dibalik throbe putih panjangnya itu.
“Ayo duduk, please sit”
Ziyad duduk di sofa di samping tempat tidur, di dekat ke arah balkon.
“Kamu belajar bahasa Indonesia?” tanya ibuku lagi.
“Iya bu, aku suka belajar bahasa indonesia.”
“Belajar dimana?” tanya ibuku lagi.
“Saya memanggil orang kedutaan, untuk mengajariku.” jawabnya lagi.
“Bagus, “ jawab ibuku.
“Ibu, tidak mau sholat ke masjid.? Biar nanti saya antar.”
“Ya mau, sebentar lagi, tadi saya hanya istirahat saja dulu. Memang rencananya kami akan sholat di masjid.” Ibuku menjelaskan
“Kalau begitu saya ke toilet dulu.” Pintaku. Aku perlu ke toilet, tidak ingin soerti perjalanan tadi dimana aku harus menahan diri untuk tidak mencari toilet.
Toiletnya cantik, rapi dan bersih, bergaya modern. Dan tentu saja toilet kering. Tidak seperti di tempatku di Jogja, toilet dengan bak mandi, bukan bath tube.
Setelah melepas hajatku buang air kecil, aku merapikan kerudungku yang sudah mulai acak acakan. Dan aku segera keluar dari kamar mandi itu. Aku tidak mengenakan kembali cadarku, karena cadarku tertinggal di atas tempat tidur yang tadi aku tiduran sebentar.
“Ayo, kita berangkat.”kataku.
“Tunggu Aira, ibu juga mau ke toilet.”
“Baik bu. Aira tunggu. Hm.. mbak Astri mau ikut juga ga ya.?”
“Coba kamu tanya dulu.”
“Eihh, dia di kamar berapa ya?” Tanyaku sendiri.
“512” jawab Prince Ziyad tiba tiba. Rupanya ia menyimak pembicaraan kami dalam bahasa Indonesia, dan ia bisa memahaminya.
“Baiklah, aku coba menghubunginya.” Aku langsung mengangkat gagang telpon yang ada di kamar itu dan menekan tombol 512. Dari ujung sana terdengar nada panggilan tersambung. Dan kemudian telpon diangkat. Dan yang mengangkat suara anak laki laki.
“Halo, man?” Terdengar suara dengan logat bahasa Arab. Aku menduga ini pasti Thariq.
“Thariq? Ini tante Aira. Bunda mau ikut ke mesjid ndak? Tolong tanyakan ya?”
Dari sana terdengar suara laki laki berbahasa Arab. Dan Thariq menjawabnya dengan bahasa Arab juga. Kemudian Thariq bertanya “tante pergi sama siapa? Ada Uncle Ziyad kah di sana?” Tanyanya.
Loh kok mereka tahu ada Prince Ziyad di sini?. Hadeuh…”Ada nih, uncle Ziyad mau antarin. Thariq mau ikut nggak? Tanyaku lagi.?
Thariq kemudian memberitahukan ayahnya bahwa kami akan berangkat dengan Ziyad. Kemudian terdengar suara Aisya dalam bahasa Indonesia, “mau ikut.” Tapi aku dengar jawaban pria itu yang aku duga pasti adalah ayah mereka. Dan yang aku tangkap hanya “La, La.” Kayaknya ndak boleh nih.
“Tante Aira, kata ayah, tante berangkat saja dulu dengan uncle Ziyad. Nanti kita nyusul, bunda juga masih di kamar mandi.” Jawab keponakan ku itu.
“Okay, baiklah tante duluan ya sama nenek dan uncle Ziyad. Salam..”
Aku menutup telpon. “Mereka menyusul.” aku menjelaskan.
Ketika kami akan keluar kamar, Prince Ziyad menunjuk ke arah muka ku dan berkata “Cover, cover.”
“What ?” tanyaku
Prince Ziyad memperagakan tangannya menutupi wajahnya dan kemudian seperti menarik tali ke belakang kepalanya dan mengikat tali. Aku paham, ia menyuruhku memakai cadar.
“Harus? It’s a must?” kataku mengulang dalam bahasa Inggris. Aku tahu dia akan lebih paham dengan bahasa Inggris.
“HARUS !” katanya mantap.
Mata ku membelalak. Enak saja dia memerintahku, emang dia siapa? Tanyaku dalam hati.
Ibu yang ada di sampingku malah tersenyum geli. Ihh ada apa ini. “Bu, kok ibu ketawa sih? Males banget bu pake cadar, engap.”
Aku menggelengkan kepala ku pada Prince Ziyad. “Engap” kataku sambil memperagakan susah bernapas.
Dan pria itu menggelengkan kepalanya dan kemudian memutarkan kepala nya mencari-cari sesuatu, dan matanya tertumbuk pada cadar yang kutinggalkan di atas tempat tidurku. Dan dia berjalan ke arah cadar itu, mengambilnya dan membawanya kembali kepadaku. Dan aku hanya bisa terpana melihat apa yang dilakukannya. Bahkan tambah terpana ketika ia mengenakan cadar itu di wajahku dan mengikatkan talinya di belakang kepalaku.
“Pakai ini, please. Kamu akan diliatin orang, pria pria di luar sana, matanya tidak ramah, tidak baik. berbahaya” kata Pangeran Saudi itu.
Hal itu membuatku malu, dan tidak enak. Aku semakin membisu berada di samping pria ganteng ini. “Bagaimana dengan ibu?” tanyaku.
“Ibu boleh pakai, boleh tidak.” Jawabnya.
“Kenapa begitu?”
“Tapi sebaiknya sih pakai, tapi kita lihat saja nanti, kalau jadi perhatian orang, sebaiknya ibu juga pakai cadar ya.” jawabnya dengan bahasa Indonesia yang lumayan lancar.
Akhirnya kau Kami keluar kamar dan prince Ziyad terakhir kali menutup pintu kamar sebelumnya bertanya, “Kartunya sudah dipegang?”
Aku memperlihatkan access card yang ada di tanganku.
Kami berjalan beriringan, aku di samping ibuku dan Prince di samping ibuku.
“Kalian sudah pada makan siang?” tiba-tiba prince Ziyad bertanya.
Ya betul ternyata kita hampir melupakan makan. Aku menggelengkan kepala, “Belum” kataku.
“Kalian yakin mau langsung ke masjid dan sholat? Saya sarankan makan dulu, setelah itu baru sholat. Musafirun, shalatnya dijamak saja.”
“Ya” aku mengangguk. “Saya memang lapar.”
Prince Ziyad kemudian membawa kami ke area pertokoan yang ternyata di bagian bawah area pertokoan itu ada area food court. Ia memilihkan tempat duduk untuk kami berdua dan ia menyuruh kami duduk, “Saya pesankan makanan ya. Duduk saja di sini ya.”
Laki laki ganteng itu kemudian meninggalkan kami dan melihat ia berjalan ke arah counter pemesanan makanan. Disitu dari jauh aku bisa melihat makanan yang mereka sediakan adalah aneka macam nasi dan ayam. Makan semi cepat saja. Karena nasinya ternyata sudah jadi, dan mereka tinggal menyendokkan dan menambahkan ayamnya. Tak lama kemudian Prince Ziyad kembali sebuah nampan yang berisi dua piring nasi yang berwarna putih sedikit kekuning dan sepotong ayam di tiap piringnya serta 3 gelas teh es. . Ia kemudian meletakkan kedua piring itu di depan kami berdua, satu di depan ibu dan satu di depanku. Kemudian gelas es teh manis masing-masing di depan kami bertiga. Aku lihat potongan ayamnya cukup besar paling tidak buatku.
“Makanlah..” katanya.
“Nak Ziyad tidak makan?” tanya ibuku.
“Sudah bu,” jawabnya sambil memegang perutnya yang rata. Aku yakin perut itu jika terbuka akan terlihat perut sixpack yang sexy. Hmm…
“Makan miss.. Jangan pandangi saya terus.” kata Ziyad membuatku malu. Seketika ku tahu wajahku bak udang rebus. Untuk cadar masih terpasang di wajahku jadi dia tak mungkin tahu.
Aku mengangguk. Aku menunggu sebentar wajahku kembali normal. Tapi laki-laki itu tak sabar. “Ayo Aira makanlah.”
Aku melotot, “Prince bagaimana orang disini makan dengan cadar begini, bolehkan aku buka cadarku.?”
Kali ini Prince Ziyad yang kebingungan. “Kamu belum tahu?” tanyanya lagi. Kemudian ia mencontohkan. Cadar diangkat sedikit dan kemudian dengan sendok disuapkan makanan dan cadar kembali diturunkan dan makanan dikunyah dalam kondisi cadar tertutup kembali.
“OMG, repot sekali kataku.” aku memutar bola mataku tanda aku keberatan dan heran. “Oke, next time kalau makan di kamar hotel saja.” Aku menggerutu.
Dan untuk diketahui, pria arab ini duduk pas di depanku, yang membuat aku semakin salah tingkah, makan sambil diliatin. Tiba-tiba Prince Ziyad berkata, “Ibu, apakah Aira sudah mengenal siapa aku?” tanyanya pada ibuku.
Ibuku yang sedang makan, tersedak mendengar pertanyaan itu.
“Maaf, sorry..” Pria itu langsung minta maaf melihat ibuku tersedak. Prince Ziyad segera menyodorkan gelas es teh yang ada di depan ibu. “Minum dulu bu.” katanya dengan bahasa Indonesia yang canggung.
Setelah ibu selesai minum , Prince Ziyad melanjutkan. “Baiklah kalau ibu belum kasih tahu, aku akan menceritakannya.”
Aku melirik ke ibuku yang duduk di samping kiriku. Ibuku kelihatan tegang. Kenapa sih? Tanyaku dalam hati. Kulihat ibu bernapas panjang.