Chapter 4 : Masih di Madinah

1778 Words
Sambil menempelkan telapak Tangan kanannya ke d**a,“Saya Ziyad bin Mohammed Al Thalal, kakakku Zayn,.” Ziyad tersenyum. “Sudah?” Tanya Aira. “Is that all?” “Yes”. “Saya Sudah Tahu itu”. Jawab Aira. Ah bercanda nih cowo. Gerutu ku dalam hati. “Please eat. Ayo makan.” Pangeran Ziyad meminta kami berdua segera makan. Aku mencoba makan dengan cara yang Pangeran Ziyad beritahu padaku. Dengan susah payah Aira mencoba menyuapkan makanannya. Ia menyobek nyobek dulu ayam itu, kemudian mengangkat cadarnya sedikit dan menyuapkan ayam itu bersama nasinya. Ia melihat ke Ziyad. Pria itu tersenyum. “Ya begitu.” Kata Ziyad, sambil mengangguk. Sedangkan Tari, ibuku makan seperti biasa. Karena ibu makan tanpa harus menggunakan cadar. Tapi sebenarnya ibuku juga dilihat orang orang. Ibuku itu sebenarnya tidak bisa dibilang tua, kecantikannya masih terlihat jelas. Ibuku itu wajahnya mirip denganku. Badan ibuku juga bukanlah wanita yang gemuk, tubuhnya masih bagus, meski tidak kurus seperti aku, tapi badannya berisi dan sexy. Tak urung ibu juga dilihatin banyak pria pria di sana. Ziyad memperhatikan itu. ia melihat Ke sekitarnya, “hmm.. ibu, nanti pakai cadar juga ya.” Kata Ziyad. “Apa ?” Tanyaku heran. “Coba perhatikan. Pria pria yang lewat, memperhatikan ibu. Ibu tidak sadar?” Ibuku celingak celinguk, mencoba mencari apakah benar yang dikatakan oleh Ziyad. “Heh.. sepertinya betul.” Kata ibuku lagi. “Padahal kan ibu sudah tua ya, Ra.” Kata Tari, mempertanyakan tentang dirinya sendiri. “Ibu masih cantik, seperti Aira.” Kata Ziyad dengan jujur. Dan itu membuat mukaku memerah seketika. Untung ya pake cadar, sehingga ia tak melihat perubahan itu. Kami menghabiskan makanan itu dengan sedikit tergesa gesa, karena ingin menunaikan sholat zuhur dan mungkin juga sekalian dengan Ashar. Ziyad tidak seperti laki laki Saudi yang ada dalam benakku. Yang aku tahu dari buku buku dan dari berita berita, pria pria Saudi sangat merendahkan kaum wanita. Mereka diktator dan mau menang sendiri. Tapi sepertinya Pamgeran Ziyad, jauh dari jenis itu. Ia memperkenalkan dirinya dengan tutur kata bahasa Indonesia baku dan suara yang lembut. Selain itu ia juga menunjukkan sikap yang ramah. Aku berharap itu karakter aslinya, bukan sekedar pencitraan saja. Tempat kami makan tidak jauh dari masjid Nabawi, begitu keluar dari mall tempat food court berada, kami langsung memasuki pelataran masjid Nabawi. Aku terpana ketika melihat ke atas, payung-payung putih raksasa terkembang menaungi pengunjung masjid agar tidak kepanasan. Prince Ziyad berjalan di samping kanan ku, Ibuku di samping kiriku. Keberadaan kami bertiga cukup menarik perhatian karena Ziyad yang berbaju pakaian lokal dan berjalan di samping kami yang terlihat jelas sebagai orang asing, peziarah. Baju kami saja lain, tidak hitam, dan ibuku tidak memakai cadar. Beberapa pasang mata memandang kami tajam, baik laki-laki maupun perempuan. Tapi Ziyad terlihat santai. Ia seperti tidak perduli. Tiba-tiba seorang Askar menyetop kami dan menyapanya. Kami berhenti sebentar karena Askar itu berbicara dengan Ziyad. Askar itu melihat ke arah aku dan ibuku. Ziyad berbicara cukup intens, ia sampai mengeluarkan sebuah kartu. Setelah itu aku melihat Askar itu tersenyum. Dan ia melepaskan Ziyad. Aku bertanya dalam hati, bukankah dia pangeran, kenapa Askar itu tidak mengenalnya? Aku kemudian bertanya pada Ziyad, “Apa yang dikatakannya, mengapa kita disuruh berhenti? Apakah dia tidak tahu kalau kamu Pangeran?” Ziyad tersenyum. “Aku memang pangeran, tapi aku bukan putera mahkota, dan pangeran di Saudia ini banyak, keturunan As Saud itu sudah banyak. Sebenarnya kami adalah rakyat biasa.” “Terus kenapa kita diberhentikan?” “Ya karena kita terlihat.. hmm aneh, saya orang Saudi, dan kalian adalah peziarah, pasti dicurigai.” “Dicurigai apa?” “Dicurigai hubungannya sebagai apa?” “Terus kamu bilang apa?” tanyaku balik. “Aku bilang kalian keluargaku, ibu adalah ibu mertuaku, dan dia percaya, dan saya memperlihatkan kartu identitasku.” “Ibu mertua?” tanyaku. “Ya, ibu mertua. Ingat, aku pernah menikahi Astri. In Islam, once we married, the mother inlaw status will remain forever.” “O ya?” “Ya seperti itu. I’m not lying. You can search on the internet. Or ask your teacher, ustadz.” Sementara kami sambil berjalan menuju pintu masuk masjid. “Bukan itu maksudku, jadi yang malam itu, you are the one who…. Menikahi mbak ku?” “Ya.. kamu tidak sadar?” “Wajah kalian berdua mirip.” Aku berusaha mencerna apa sebenarnya yang terjadi. “Terus kenapa kemudian bercerai?” “I will tell you later.” kata Ziyad. Kami sampai di pintu masuk masjid Nabawi, Ziyad mengatakan bahwa ini adalah pintu untuk perempuan. “Nanti tunggu saya di sini, laki laki pintunya lain. Kalian belum bisa ke Raudhah, besok pagi, jam wanita masuk” Ziyad menjelaskan singkat Ibuku mengangguk mengerti. Aku hanya mengikuti saja. “Jam berapa?” tanyaku. Ziyad melihat ke jam tangan nya. “Sekarang jam dua, nanti jam 3, ba’da ashar.” Ziyad memberi tanda menyuruhku dan ibu segera masuk. “Bu, Raudhah itu apaan sih?” tanyaku bingung, kenapa Pangeran Ziyad menyebutkan itu. “Raudhah itu suatu tempat antara mimbar dan makam Rasulullah SAW. Dikatakan nama Raudah itu adalah suatu taman di surga.” Jelas ibuku. Aku mengangguk angguk. Kami berdua sholat Zuhur dan kemudian menunggu waktu Ashar tiba. Dan setelah sholat ashar kami kembali ke pintu tempat kami masuk tadi. Dan aku melihat Pangeran tampan itu sedang berdiri diam sendiri menunggu kami. “Let’s go back to the hotel.” kata Ziyad. “Mbak Astri bagaimana?” tanyaku. “Mereka tidak jadi sholat di masjid.” “Okay. oya Prince, you owe me the story” “Cerita apa?” jawab Ziyad dalam bahasa Indonesia. Terlihat Pangeran ini benar berusaha belajar bahasa Indonesia. “Pernikahanmu dengan mbak ku.” “Aku akan ceritakan nanti. There will be time to tell the story.” “Okay.” Ziyad mengantarkan kami hingga di depan pintu kamar hotel. Kemudian pria itu menghilang. Uuh aku lupa minta no Hp nya, bagaimana aku akan menghubunginya nanti. Tapi kenapa juga aku harus tahu nomor Hp nya. Aku mengutuk diriku sendiri. *** Menjelang sholat magrib, pintu kamarku kembali diketuk. Ternyata Prince Ziyad kembali ke kamarku dengan membawa kantong belanjaan besar. “Ini saya bawakan baju dan cadar.” Kata Ziyad sambil tersenyum. “Mudah-mudahkan kalian suka.” “Apa ini ?” Tanyaku sambil mengintip ke dalam isi kantong. Sekilas aku melihat Kain hitam. “Baju abaya, kerudung dan cadar, bisa dipakai saat sholat magrib.” Penjelasan Ziyad dalam bahasa Inggris. “Sholat Magrib di masjid ?” Tanya Ziyad? “Ya tentu saja” jawab ibuku. Aku berdiri agak di pinggir menahan pintu, dan Ziyad masih di depan pintu di koridor tepat di depan pintu kami menghadap ke dalam. “Kalau begitu saya pergi dulu, 15 menit lagi saya kembali, saya harap kalian berdua sudah siap berganti baju dengan abaya ini. Jangan lupa pakai cadarnya.” Ziyad kemudian pergi, meninggalkan kami untuk berganti baju dan bersiap siap ke mesjid untuk menunaikan sholat magrib. Aku mengaduk aduk kantong belanjaan itu. Aku intip intip dua helai baju yang dikatakan Ziyad. Bahannya bagus, halus. Pasti ini mahal sekali, pikirku. Pria itu seorang pangeran, ia pasti mempunyai banyak pengawal. Pertanyaanku, kenapa harus dia sendiri yang mengantarkan baju baju ini. Dia bisa saja menyuruh pengawal pengawalnya untuk mengantarkan barang-barang ini. Kenapa? Kenapa? Apakah mungkin ia tertarik padaku? Ah ge er sekali. Aku berusaha menepis sangkaan itu. Atau dia hanya sekedar menghormati ibu, sebagai ibu mertua yang ia katakan sebelumnya? Ahh sudah lah. Aku menggelengkan kepalaku dan menutup pintu kamar. Aku membuka kantong itu, dua helai abaya cantik dengan design simple tanpa banyak pernah pernik, dua kerudung persegi panjang, dan dua cadar hitam. Aku perhatikan bahannya, halus, ringan tidak terlalu tebal, tapi tidak tembus pandang. Sekali lagi aku pikir, pasti deh mahal. Ibu juga melihat lihat baju itu. Ibu langsung mengenali, mana yang untuknya dan mana yang untuk Aira. “Pintar sekali dia pilih baju ya Aira. Menurutmu mana yang buatmu.?” Aira langsung menunjuk. Ya persis, kelihatan Pangeran bisa memilih mana yang untuk anak seumurmu dan mana yang untuk wanita seumur ibu. “Ya udah bu, kita rapi rapi. Nanti sebentar lagi dia datang, katanya kan mau jemput.” aku mengambil baju itu dan membawanya ke kamar mandi, untuk sekalian buang air kecil dan kembali berwudhu. Ketika keluar kamar mandi aku berkata, “bu, kenapa sih dia repot-repot anterin kita? Kan ada mbak Astri.” “Wah itu ibu nggak tau, apa mbak Astri nggak bisa pergi ke masjid lagi ?” “Mungkin… kita lihat saja nanti.” Sementara ibu berganti baju, aku mencoba menelpon mbak Astri. Katanya ia akan pergi sholat Isya, dan janjian ketemu denganku di masjid. Setelah itu kita sama sama mencari makanan. Kamarku diketuk. Aku tahu itu pasti Ziyad. “Bu, ayo berangkat, ibu sudah siapkan. Jadi dia nggak usah masuk lagi.” Kataku pada ibu. Ibu berjalan menuju pintu. Aku membuka pintu, Prince Ziyad berdiri di depan pintu. Harus kuakui pria ini memang ganteng sekali, dengan menggunakan pakaian Saudi yang panjang berwarna putih, dengan tutup kepala kain bercorak kotak kotak merah putih dan ikat kepala hitam. Sempat terpana sebentar aku kemudian mengalihkan pandanganku pada ibu. Pangeran itu tersenyum tipis melihat kami, “bagus kalian sudah bercadar, begitu lebih aman.” Kata Ziyad. Kali ini diperjalanan, kami tidak terlalu menarik perhatian. Askar di pelataran masjid Nabawi tak lagi menyetop kami. Mungkin mereka menyangka kami keluarga Arab. Mungkin seorang pria dengan dua orang istri.. mungkin. Masalahnya disini pria beristri lebih dari satu adalah lazim. Aku tak peduli itu, yang jelas aku bukan bagian dari cerita orang Saudi beristri lebih dari satu. Dan aku pun belum terpikir untuk menikah dengan siapapun. Setelah selesai sholat Magrib, aku dan ibuku menunggu di dalam masjid. Tak lama kemudian dari kejauhan aku melihat seorang anak perempuan kecil berambut ikal dituntun oleh seorang perempuan berpakaian abaya hitam, bercadar, seperti layaknya perempuan Saudi. Aku yakin itu adalah Astri dan Aisya. Aku berdiri dan melambaikan tangan padanya. Tapi Astri mungkin tak mengenaliku karena aku bercadar. Aku berpikir cepat, cadarku buka atau aku berjalan menghampiri kakakku itu. Dari tadi aku tak melihat perempuan perempuan Saudi yang bercadar melepas cadarnya, bahkan ketika mereka sholat. Jadi aku memutuskan untuk menghampiri saja kakakku itu. Saat mendekatinya, aku berseru, “Mbak, mbak Astri..” beberapa perempuan Indonesia melihat ke arahku, tak apa apa, aku tak peduli. Kondisi masjid Nabawi saat itu masih sangat ramai, para pengunjung tampaknya sekali ingin menunaikan sholat isya. “Bulek Aira, ….” “Aisya..” teriakku. “Mbak sudah dapat tempat, kita kesana yuk, Eyang sudah nungguin tempat Aisya dan bunda.” “Mana Thariq ?” tanya ku “Ikut sama bapaknya. Ia sholat dengan ayahnya.” Mereka berempat duduk berderetan. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD