Apa yang kucintai dari seorang wanita kurasa merupakan manifestasiku sebagai pria normal yang membutuhkan lawan jenis. Jika kau atau siapa pun bertanya padaku mengapa aku bisa mencintai wanita yang telah mati ini, kurasa cinta itu tak memerlukan alasan untuk bisa terpatri di dalam diri seseorang.
Lagi pula, dulu ia adalah wanita yang cantik, baik, jika diserupakan dengan barang bagiku dia amat apik, kalis, manis, bagaikan rintik gerimis yang dipandang indah oleh sebagian orang atau etnis. Aku tak pernah mencintai wanita seperti mencintainya. Dulu, dia selalu menyemangatiku, memberiku motivasi saat hampir semua orang menjulukiku Sang Mayat, yang sampai sekarang aku juga tak mengerti kenapa mereka menjulukiku demikian, apakah karena wajahku yang selalu tampak pucat, karena aroma tubuhku ataukah karena aku memang pantas digelari seperti itu.
Namun sekarang, sudah lebih dari dua bulan dia meninggalkanku, dia mati bersama harapan-harapan semuku ingin memilikinya, namun di sisi lain tetap hidup menjadi langkah di setiap perjalananku, sebuah perjalanan yang kusebut sebagai perjuanganku menghidupkannya kembali, dengan cara mematikan banyak orang.
Sabtu, pukul 14.00
"Bagaimana, Dok?" tanya Heri, komisaris polisi Sektor Barat. "Apakah ada informasi terbaru dari mayat ini?"
Dani yang menjawab. "Kurasa takkan semudah itu, Pak Komisaris."
"Kau, diamlah sejenak dari kicauanmu itu!" Heri agak jenuh melihat sikap Dani yang terkadang memang banyak bicara. "Sebaiknya kita dengarkan pendapat ahli. Ada saatnya nanti kau akan berbicara banyak hal tentang teori-teori detektifmu yang cuma kamu yang mengetahuinya. Ini di rumah sakit. Bukan areamu untuk itu."
Dani sedikit memiringkan kepalanya. "Ok, fine, fine!"
Heri kembali melayangkan pandangannya ke dokter Fajar. "Silakan penjelasannya, Dok!"
"Kami sudah memeriksanya di laboratorium, Pak," ungkap Fajar. "Hasilnya sama sekali tidak ditemukan senyawa-senyawa kimia yang menjadi unsur dalam sebuah racun. Dan seperti yang Bapak telah ketahui mayat ini bukanlah korban kekerasan atau penganiayaan. Andaikan jantungnya masih ada mungkin kita bisa memeriksanya dengan EKG*."
Dani terkejut. "Hei, untuk apa kita menggunakan alat itu?"
Fajar tersenyum, "Kita bisa saja mendeteksi adanya serangan jantung atau tidak, tapi permasalahan utamanya adalah jantung itu sendiri raib."
-----------
*EKG adalah kependekan dari Elektrokardiograf yaitu sebuah alat untuk mendeteksi aktivitas jantung
Heri punya pendapat. "Apa mungkin mayat ini mati karena serangan jantung, ya?"
"Itu mustahil, Pak," Fajar menggeleng pelan. "Jantung yang terinfeksi suatu penyakit tidak mungkin dapat dimanfaatkan dengan baik, sedangkan pembunuhnya justru mengincar jantung korban. Kurasa pelaku memerlukan organ tersebut dalam keadaan sehat dan berfungsi dengan baik. Seharusnya analisa seperti ini diutarakan oleh seorang detektif, ya, Pak," Fajar lalu tersenyum renyah ke arah Dani, tapi Dani menganggapnya sebagai ejekan.
"Itu masih wilayah mengenai kesehatan," Dani tak terima disindir. "Tidak ada salahnya jika seorang dokter spesialis punya teori. Lagi pula seorang detektif tidak semuanya paham tentang dunia kesehatan."
Dokter lulusan Jerman itu tersenyum kecil, "Aku hanya bercanda, kok, Detektif. Rupanya kamu sensitif, ya!"
Komisaris Heri yang menyambung, "Sudahlah, Dok, abaikan saja dia. Sifatnya yang sensitif itu karena di usianya yang hampir kepala empat belum mendapatkan jodoh."
Dani memalingkan wajahnya, "Huh!"
Heri melanjutkan, "Jadi informasinya hanya itu, Dok?"
"Ya, hanya ini. Kami bingung harus memeriksa apa lagi dari mayat yang steril ini."
Heri berpaling ke arah Dani, "Jadi bagaimana, Dan?"
"Terserah kaulah, Pak Komisaris!" sahut Dani ketus.
"Kali ini kami butuh pendapat seorang detektif. Kau tersinggung?"
Dani mendesah, "Huh, kau selalu saja mengungkit hal yang sama, Pak Polisi yang menyebalkan."
"Hei, aku tadi hanya bercanda. Ayolah, keluarkan ide-ide cemerlangmu seperti hari itu kau berhasil mengungkapkan siapa yang memerkosa anak di bawah umur daerah Jumpi!"
Fajar sedikit tertawa mendengar itu. Dani menangkapnya dengan baik, "Tidak ada yang lucu, Dok. Baiklah, akan kukeluarkan ideku daripada kalian menyebutku detektif c***l yang cuma bisa menyelesaikan kasus pemerkosaan."
Sementara Fajar tertawa lagi, Heri berkata sambil tersenyum, "Hey, siapa yang menyebutmu demikian? Rupanya betul kata dokter, kau terlalu sensitif. Apakah itu salah satu gejala penyakit jantung, Dok?"
Fajar semakin nyaring tertawa.
"Cukup, Pak!" Dani menyudahi obrolan itu dan langsung melangkah ke ambang pintu ruangan yang tak jauh dari mereka. "Sebaiknya kita selidiki siapa keluarga atau mencari kenalan dari mayat ini di Kampung Baru untuk mendapatkan informasi lebih jauh."