Makan Siang Bersama

1076 Words

Perasaan tenangku itu ternyata tidak bertahan lama. Saat pintu tertutup dan saat aku menyadari jika aku terjebak di ruangan asing yang hanya berdua dengan Tama. Tiba-tiba membuatku canggung. Lengannya yang mendekapku membuat sekeliling tubuhku memanas. Saat aku mendongak matanya sudah menatap ke mataku. Aku membeku berada di dekatnya. "Kamu kelihatan pucat hari ini." Dia mengangkat tangannya dan ingin memeriksaku tapi aku refleks mundur. Aku mendorong tangannya dan berdehaem. "Ini idenya Bi Susan," kataku cepat. "Soal makan siang ini maksudku, itu idenya dia." Mata cokelat Tama menyipit dan dia pun terkekeh geli. "Ah ... jadi begitu." Aku tidak sanggup lagi menatap matanya dan aku pun menoleh untuk menghindar. Aku terperanjat melihat ruangan Tama yang teramat lebar. Isinya super leng

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD