Aku mengatakan kalimat itu dengan hati-hati. Aku tidak bermaksud untuk memojokkannya dan maksud kedatanganku ke sini bukan untuk menyalahkannya juga. Bahkan untuk sekedar tersenyum tipis pun rasanya sangat sulit. Dan saat aku menatapnya dia sudah tertawa keras tapi terdengar hampa. Dia bahkan tidak bersusah payah untuk menatap mataku. Jess tiba-tiba mengeluarkan kunci dari saku jeansnya dan menyerahkan benda itu padaku. "Gue nggak ngerti loe ngomong apa." Aku mengangguk. Dia tahu dan amat sangat mengetahui apa yang aku maksud. Karena dia yang sengaja bungkam aku langsung memasang wajah dinginku. Tanganku ikutan mengepal di samping tubuhku. Jess akhirnya menatapku. Dia sengaja membunyikan kunci-kunci yang ada di tangannya sambil memiringkan kepalanya. "Kalau nggak ada yang mau loe bica

