*
*
''PAPAP!!''
''Hai jagoan,'' sapa pria tampan dengan senyum lebarnya, mengambil alih gendongan Angga pada Revon.
''Miss me, boy? '' yang dijawab ciuman brutal dari Angga. Sedangkan empat orang dewasa yang melihatnya hanya terkekeh geli. Melihat itu Randi lalu duduk di sebelah Aira yg hanya tersenyum tipis.
''Hai sayang, long time no see and i really miss you.'' Katanya sambil mengecup singkat pipi Aira. Dan membuat dua orang lainnya hanya menggeleng pelan melihat adegan itu. Disisi lain Raffa memandang tidak suka dengan kehadiran pria tersebut.
''Oh really??'' jawab Aira pura-pura terkejut, dan dijawab senyum genit oleh pria di sampingnya.
''Please, gak usah sok mesrah di depan kita okey.'' Ujar Disa yang dihadiahi pelototan tajam oleh Randi. Sedangkan Aira hanya terkikik geli.
''Jangan bilang jika kamu masih cemburu padaku honey.'' Tanya Randi pada Disa yang membuang muka sebal, dan mengundang tawa Aira.
''Shut up your mouth!! '' balas Disa sengit yang mendapat tatapan sengit dari tunangannya.
Aira yang mendengar itu langsung menatap tajam pada Disa. ''Words, Disa!!!'' ujar Aira tajam.
Disa yang baru menyadari ucapannya, meminta maaf lewat matanya karena mengatakan hal yang kurang baik di depan bocah lugu nan pintar meniru seperti Angga. Dan untungnya anak itu tidak begitu memperhatikan apa yang orang dewasa lakukan tadi.
''Om es krim??'' ucapan polos Angga pada Raffa, membuat semua mata beralih pada bocah kecil yang sedang berusaha menyendok es krim, dan memberikan kepada orang yang sedari tadi hanya diam melihat sesuatu di sekitarnya.
Raffa tersenyum, dengan perasaan hangat yang semerbak dalam dadanya. Raffa lalu mengangguk, dan membantu tangan mungil Angga untuk mendekat ke mulutnya.
''Oreo??'' tanya Raffa takjub, karena rasa es krim itu kesukaanya rasa favoritenya.
Angga mengangguk mantap, ''Enak, kan? Angga suka rasa oleo om.'' Jawabnya cadel sambil menyuapkan kembali es krim ke dalam mulut mungilnya. Dan semua itu tak luput dari perhatian Aira, Disa, Revon dan Randi yang sedikit terkejut dengan reaksi dua orang beda usia itu.
Merasa diperhatikan Raffa menyudahi interaksi dengan Angga yang sudah kembali sibuk dengan es krim oreonya. "Maaf," ujar Raffa tak enak.
''Siapa?'' tanya Randi yang tidak mengenal Raffa sebelumnya.
Raffa yang melihat itu, akhirnya memperkenalkan dirinya sendiri, ''Raffa, sahabat Revon.'' Raffa mengulurkan tangannya pada Randi yang langsung ditanggapi baik oleh pria di depannya.
''Randi, Papapnya Angga.'' Jawabnya singkat, yang mengundang banyak arti dalam benak Raffa.
***
Malam kian larut tapi Raffa masih setia duduk di sofa apartemenya, ada hal yang menurutnya salah dengan kejadian makan siang tadi, tapi apa?. Apakah tentang wanita tadi yang bernama Aira itu? apa mungkin karena itu. Tetapi hati dan pikirannya menolak bahwa bukan itu yang menjadi masalahnya. Atau Angga dan pria asing yang bernama Randi tadi, tapi mengapa? dan hal itulah membuatnya frustasi hingga saat ini.
Di tempat lain Aira sedang menidurkan Angga yang malam ini sedikit rewel, akibat tenggorokannya yang mulai gatal akibat es krim. Padahal Aira sudah memperingati Angga tadi, tapi namanya anak-anak dan didukung oleh Randi, Aira pun mengalah dengan membiarkan bocah berumur tiga tahun itu menghabiskan dua cup es krim.
''Malam, kesayangan Bunda.'' Aira mencium puncak kepala Angga dengan penuh kasih sayang. Sebelum beranjak meninggalkan putra semata wayangnya itu.
''Sudah tidur? '' tanya Disa ketika melihat Aira yang keluar dari kamar tamu apartementnya. Aira menghampiri dan mengambil tempat duduk di sebelah Disa yang sedang sibuk melihat undangan pernikahannya.
''Iya, walaupun harus merengek minta digaruk tenggorokannya, tapi gimana caranya coba?'' jelas Aira dan membuat sahabatnya itu terkekeh geli.
''Dasar Angga, dia itu terlalu cerdas apa gimana sih Ai? selalu aja yang gak masuk akal buat kita, menjadi bahan pertanyaan buat dia.'' Gerutu Disa yang membuat Aira setuju.
Benar kata orang, jika anak seusia Angga adalah masa emas untuk mendapatkan segala informasi yang belum pernah anak itu ketahui. Salah memberikan informasi, maka akan membuat memori buruk padanya di masa depan.
''Entahlah gue juga kadang heran baru tiga tahun loh dia, masih panjang perjalanan untuk pertanyaan teraneh lainnya.'' Dan membuat dua wanita cantik tersebut terkekeh geli.
''Eh Ai gimana baju gue, udah kan? untuk bridesmaid's nya, lo gue pasangin sama Raffa ya Ai.''
Dahi Aira sedikit mengernyit, ''Kok Raffa, bukan dengan Randi? '' tanya Aira pada Disa yang masih sibuk dengan undangan di atas meja.
Disa mendongak dan menatap Aira, ''Gue gak mau ya tu manusia bermulut nyinyir jadi bridesmaid's di pernikahan gue Ai, lagian Raffa lebih cocok dari pada dia untuk berdampingan dengan lo.'' Jelas Disa keki, yang membuat Aira hanya terkekeh geli.
''Lagian lo Dis udah mau nikah juga masih sebel aja sama dia, inget udah ada Revon sekarang.'' Aira mengingatkan, yang hanya dijawab dengusan sebal oleh Disa.
''Iya, gak usah diingetin juga tau. Lagian juga lo pake undang dia segala.''
''Ya, gimana lagi kan dia soulmate gue Dis, mantan pemilik hati lo.''
Disa cemberut mendengarnya, ''Soulmate, yang sering diselingkuhin sama wanita di luar sana. Dan please, itu masa lalu yang udah lama berlalu Ai!'' kata Disa tajam yang hanya mendapatkan gelengan kepala oleh Aira.
''Udah ah, ngomong sama lo gak ada ujungnya. Jadi mending gue tidur aja.'' Kata Aira sambil beranjak meninggalkan Disa yang menggerutu di belakangnya.
''Oh ya Aira besok temenin gue sama Revon fitting baju ya, sekalian punya Angga juga.''
''Okey, selamat malam Disa,'' Jawab Aira sebelum menghilang di balik pintu.
"Selamat malam, Aira."
***
Keesokan harinya Aira dan Disa sudah berada di sebuah butik mewah di salah satu mall di Jakarta pusat. Angga yang sedang merengek dengan tenggorokannya. Sedangkan Disa masih sibuk menggerutu dengan ponsel yang menempel pada telingannya.
''Bagaimana? '' tanya Aira setelah Disa mengakhiri panggilannya.
''Mereka sudah di parkiran, dan menuju kemari.''
''Nda gatel ini, hiks.'' Rengek Angga sambil terus menggaruk tenggorakannya yang sudah memerah. Akibat es krim, beginilah jadi.
''Jangan digaruk sayang, merah tuh kan lehernya.'' Tegur Aira sambil menjauhkan tangan mungil anaknya. Tapi Angga seolah sangat keras kepala untuk mendengar nasihat Bundanya.
''Maaf telat.'' Kata seseorang yang tak lain Revon dengan pakaian formalnya, dikuti Raffa di belakangnya.
''Lama banget sih, kamu!'' sebal Disa dan langsung menyeret Revon kearah kamar ganti, sedangkan Raffa masih berdiri di samping Aira yang sednag menimang Angga.
''Hai Aira, kenapa Angga?'' sapa Raffa, membuat Aira yang sedari tadi tidak menyadari keberadaan pria itu, tersenyum menyapanya.
''Hai, biasa agak rewel aja.'' Jawab Aira sambil terus mengelus punggung bocah itu.
Raffa bergerak ke samping, melihat wajah Angga yang tampak sayu dimatanya. ''Hai, Angga.''
''Om Fa?'' panggil Angga parau dan membuat Raffa meringis perih mendengarnya. Badan kecil itu berputar menghadap Raffa sepenuhnya, dengan tangan yang sudah menggapai minta digendong.
''Angga sakit?'' tanya Raffa yang menyambut uluran tangan Angga yang minta di gendong padahal Aira sudah melarangnya.
''Tidak apa-apa Ai, sini sama om.'' Raffa dengan ceketan mengambil alih Angga dari Aira, dan membawa bocah itu kepelukanya.
''Gatel om.'' Adu Angga yang akan menggaruk kembali lehernya, tetapi ditangkap langsung oleh Aira.
''Jangan digaruk Angga!!'' seru Aira dan hal tersebut tidak luput dari perhatian Raffa.
''Radangnya sedang kambuh, jadi rewel begini.'' Jelas Aira menjawab tatapan bertanya dari Raffa.
"Sejak kapan? Kemarin baik-baik saja." Kata Raffa sambil menimang Angga dalam gendongannya. Aira merapikan baju Angga yang sedikit tersingkap keatas, sebelum menjawab.
"Sejak tadi malam," Aira mendongak dan menatap tepat pada mata Raffa.
DEG
Dan seperti kemarin siang, jantung Raffa kembali berhenti sejenak. Dan ternyata, pertanyaan Raffa terjawab juga. Tatapan mata milik Aira lah, yang tadi malam membuatnya frustasi hingga bermimpi buruk. Dan sekarang, entah keyakinan darimana Raffa bertanya pada Aira yang masih menatapnya begitu dalam.
''Aira, apa sebelumnya kita pernah bertemu?''