*
*
Raffa masih sibuk mencari keberadaan Bunda dari bocah kecil yang masih nyaman dalam gendongannya. Sedangkan Angga tampak biasa saja, seolah tidak begitu peduli dimana Bundanya sekarang berada.
"Bundamu tadi duduk dimana?" tanya Raffa kesekian kali, dan tanpa dijawab kembali oleh Angga, membuat Raffa harus lebih bersabar. Bagaimana ia bisa mencari Bunda dari Angga, ketika wajahnyapun Raffa tidak tahu.
"Disa?" panggil Raffa pada seorang wanita cantik yang sedang sibuk dengan ponselnya.
Kepala Disa mendongak, "Loh Raffa, kok Angga sama kamu?" Disa terkejut ketika melihat ponakannya sedang menempel dalam gendongan sahabat kekasihnya.
Raffa yang menyadari reaksi terkejut dari Disa, agak merenggakan pelukan Angga pada lehernya. "Saya melihat Angga kebiungan tadi, jadi saya membantunya mencari kalian." Jelas Raffa,
Disa menghela nafas lega mendengarnya, "Untunglah, setidaknya Angga tidak bertemu dengan orang jahat. Makasih ya Raffa."
Raffa mengangguk, "Sama-sama."
"Angga," suara halus seorang wanita dari arah belakang, membuat Raffa dan bocah di gendongannya sedikit terkejut.
"Bunda," cicit Angga pelan. Membuat Raffa melirik Angga sekilas, sebelum berbalik melihat wanita yang dipanggil Bunda oleh Angga.
DEG
Mata Raffa melebar, tubuhnya menegang dengan debaran jantungnya seakan berhenti sejenak. Apalagi ketika mata bernetra coklat milik Aira itu menatapnya, Raffa seakan tertimpa palu godam yang menghantam jantungnya.
"Ai," panggil Disa. Akhirnya membuat wanita itu mengalihkan tatapannya pada pria asing yang ada di depannya sekarang.
"Ai kenalin, ini Raffa sahabatnya Revon. Dan Raffa ini Aira Bundanya, Angga."
"Hai, Aira." Kata wanita cantik itu memperkenalkan diri yang membuat Raffa semakin diam membisu. Mata cantik itu berbinar bahagia, dengan senyum yang membuat Raffa seakan tak bisa mengalihkan tatapannya sedetikpun.
"Kenapa?" tanya Aira yang mulai sedikit salah tingkah ketika ditatap seperti itu.
"Oh maaf, Raffa teman Revon." Jawab Raffa datar, tangannya menyambut tangan Aira yang membuat deberan jantungnya semakin menggila.
Ada apa dengan jantungnya dan wanita ini, batin Raffa.
"Loh Raff, lo disini bukannya ada meeting?" Tiba-tiba Revon datang, dan membuat tiga orang dewasa itu melihat padanya.
"Cancel." Jawab Raffa datar, raut wajahnya tak terbaca.
"Dan kamu bocah darimana saja? Om mencarimu tapi tidak ketemu." Kata Revon yang melihat Angga sudah menjulurkan tangan padanya minta digendong. Raffa yang melihat itu sedikit tidak rela, entahlah mungkin hari ini ada yang salah dengan hatinya.
"Dasar sukanya om-om," gerutu Disa membuat Aira tertawa cekikikan sedangkan Revon hanya memutar matanya malas.
"I'm listen, honey." Seru Revon tidak terima, tetapi tunangannya itu tampak tak peduli.
"Makan siang bareng dengan kita, Raff?" tanya Revon ketika melihat sahabatnya yang masih berdiam diri di tempatnya. Tanpa pikir panjang, Raffa langsung mengangguk setuju.
"Okey," jawabnya singkat. Lalu duduk disamping Aira karena hanya itu tempat duduk yang kosong.
***
Suasana cukup ramai untuk makan siang kali ini. Walaupun Raffa hanya diam menyimak dan sesekali melihat wanita disampinya yang menanggapi dari obrolan Disa.
"Kenapa, Raff?" tanya Revon yang sedari tadi melihat gelagat keanehan sahabatnya itu. Semua orang yang berada disitu, tak terkecuali Raffa terkejut dengan pertanyaan Revon yang sedikit keras itu.
"Gue, kenapa?" tanya Raffa seolah tidak mengerti, tetapi berbeda dengan Revon yang memgetahui ada yang salah dengan sahabatnya itu.
"Sudahlah," kata Revon kemudian melihat kearah Aira yang masih sibuk mengunyah dan menanggapi obrolan tunangannya.
"Ai, Randi jadi kesini?"
"Bilangnya si gitu dia," kata Aira sambil melihat kearah jam tangannya.
Angga yang sedari tadi diam menikmati cookies cokelat di pangkuan Revon, langsung terkejut mendengar nama itu disebut oleh Bundanya. "Papap?" tanya Angga pada om kesayangannya itu yang dijawab anggukan.
"Sorry, I'm late" seru seorang pria tampan, dengan kacamata transparan yang membuatnya terlihat semakin tampan.
"PAPAP!!" Seru bocah kecil itu yang langsung berdiri dan melompat kearah pria dewasa itu.