Bunda

488 Words
* *   "Om Faa!!!!" teriak bocah kecil itu berlari menuju pria dewasa yang sedang berbicara dengan tiga orang pria dewasa lainnya di ruang terpisah. "OM FAA!!" Lekingnya lagi yang membuat semua orang di tempat itu menoleh pada bocah kecil, yang tak lain adalah Angga. Wajahnya sudah memerah akibat panggilannya masih tidak dihiraukan oleh pria dewasa itu. Langkah kecil bocah tiga tahun itu menghampiri pria yang masih sibuk berbicara. Dan ketika sudah mendekati, seorang pramusaji mendekati Angga yang akan memasuki ruangan private di restoran itu. "Adik kecil mencari siapa?" tanya perempuan itu ramah, tanpa menjawab Angga menunjuk seorang yang sedari tadi dipanggilnya, tetapi tidak mendengarkannya sekalipun. "Oh, ayo kakak antar." Ujar pramusaji, sambil menuntun Angga pada pria yang di tunjuk anak itu. "Maaf mengganggu, anak ini katanya mencari ayahnya." Kata pramusaji sopa sambil menuntun Angga masuk ke ruangan tersebut. Semua perhatian orang yang sedang serius, beralih pada seorang pramusaji dan seorang anak kecil, tak terkecuali Raffa. "Dek, ayo!" dan tampaklah Angga yang sudah menampakan wajah cemberutnya yang membuatnya terlihat semakin lucu. "Angga?" Raffa terkejut melihat bocah kecil yang mulai kemarin menjadi pusat pikirannya, sekarang sedang berdiri di depannya sambil memasang wajah cemberut siap menangis. Belum sempat hilang keterkejutannya bocah kecil itu langsung berlari dan menubruk badan besar Raffa. "Hey, kenapa?" tanya Raffa sambil mencoba mengurai pelukan Angga di pangkuannya dan hal itu membuat semua orang yang sedang melakukan meeting dengan Raffa, menatap bingung dengan kehadiran bocah kecil itu. "Mungkin dia sedikit marah, karena sedari tadi anak itu memanggil bapak tapi tidak terdengar." Jelas perempuan pramusaji yang membuat Raffa mengangguk mengerti. Raffa mencoba membawa tubuh kecil itu dalam pangkuannya, "Terimakasih, sudah mengantarkan pada saya." Yang diangguki oleh perempuan itu dan dengan sopan pamit keluar dari ruangan itu. "Pak Raffa sudah memiliki putra?" tanya salah satu rekan bisnis Raffa yang sedari tadi dibuat penasaran. Karena setahunya, Raffa Soeteja belum menikah apalagi memiliki seorang anak. Raffa sedikit terkejut mendengarnya, ketika akan menjelaskan siapa bocah kecil di pangkuannya. Angga semakin merengek di perutnya, dan hal itu membuat rekan bisnisnya memperhatikan Raffa kembali. Dan akhirnya, karena merasa tidak enak, Raffa meminta maaf dan menyudahi meetingnya siang ini. "Saya minta maaf, sepertinya meetingnya ditunda terlebih dahulu." Kata Raffa sambil menggendong Angga yang masih menutup wajahnya. Dengan permohonan maaf Raffa keluar terlebih dahulu, dan meninggalkan ruangan itu "Hey, anak laki-laki tidak boleh menangis." Rayu Raffa pada bocah kecil yang sekarang sudah menenggelamkan kepala di lehernya. "Ndak tangis," cicit Angga sambil memainkan tangannya pada rambut pria dewasa itu. Raffa terkekeh mendengarnya, entah kenapa bocah kecil yang baru ia kenal kemarin itu sudah membuatnya nyaman begitu saja. "Okey, sekarang om tanya Angga kesini dengan siapa, kok sendirian?" tanya Raffa sabar sambil melerai pelukan Angga yang semakin mencekik lehernya. Angga mengangkat kepalanya, lalu mengedip lucu pada Raffa yang sedang menunggu jawabannya. "Bunda." Alis Raffa naik sebelah, "Bunda? Bunda Angga maksudnya?" tanyanya memastikan, dan kepala kecil itu mengangguk. "Hm, Bunda Angga." Dan Raffa mengangguk, "Baiklah, kita cari Bundanya Angga sekarang." Kata Raffa sambil berjalan mencari ke beradaan Bunda dari anak yang sedang bersandar nyaman di pelukannya.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD