Tifa POV Aku duduk berhadapan dengan papa Arda, terpisah meja. Dia menatapku. Jujur saja, aku merasa grogi ditatap lurus oleh pria paruh baya yang pernah kupanggil dengan sebutan papa. Sebutan yang tak lagi berani kupakai saat bicara dengannya. “Selamat sore, Om.” Daripada hanya hening, dan terasa tidak nyaman menunggu pemilik ruangan bicara, kuputuskan untuk bicara terlebih dahulu. Kutarik pelan napasku. “Hmmm ….” Kuhembus samar karbondioksida dari celah bibir yang sedikit terbuka. Papa Arda hanya menggumam dengan sepasang mata yang masih menatapku. Ya Tuhan, apakah daya tarikku sedahsyat itu, hingga dia tidak mampu mengalihkan pandangan matanya? Haruskah kuingatkan jika aku ini mantan anak menantunya? Anak menantu yang katanya dianggap seperti anak kandung. Dulu bilangnya begitu.

