Tifa POV Gara-gara informasi sepotong dari Dina, aku jadi tidak bisa fokus bekerja. Sampai-sampai salah potong beberapa tangkai bunga. Mana bunga yang mahal lagi. Kuhentak napasku. Kesal pada diriku sendiri. Kutatap tangkai-tangkai bunga yang berserakan di atas meja kerjaku. “Mbak Tifa gimana, sih? Ini kan sayang, Mbak. Masa dipotong kayak gini" “Diam, lo, Rat. Gue lagi pusing. Jangan bangunin harimau yang lagi setengah tidur,”’ kataku kesal. Kuangkat kepala, kutatap kesal pegawaiku yang satu itu. Salah sih, sebenarnya. Ratna tidak bersalah. Dia hanya muncul di waktu yang tidak tepat, dan mengomentari sesuatu pada saat yang salah. Kuhembus napas saat Ratna menatapku dengan sorot mata yang membuatku merasa bersalah. Apalagi setelah beberapa detik, Ratna berbalik lalu berjalan menjauh

