Arda POV “Gue sudah punya jawabannya, Tifa. Soal ciuman kemarin.” Kueratkan pelukanku. Rasanya nyaman sekali. Seperti baru saja kembali menemukan rumahku. Kuhembus napas lega. Sangat lega. “Eh, lepas, Arda. Kita masih di jalan. Jangan sampai kita digeruduk warga dikira mesum.” “Biarin aja. Palingan kita diarak ke KUA. Bagus, kan?” kuangkat alis ketika Tifa menatapku. “Aduh. Kok malah nyubit sih, Tif.” Akhirnya kulepas pelukanku. Tifa baru saja mencubit pinggangku. Cubitannya tidak kira-kira. Sakit beneran. Tifa mendorong d*daku hingga mau tak mau kutarik langkah kaki ke belakang. Tidak banyak. Hanya satu langkah yang membuat kami kini menjadi berjarak. Kutatap dia yang kini sedikit mendongak, hingga aku bisa melihat kulit wajahnya yang diterangi lampu jalan. “Lo ngapain jam segini a

