Arda POV Setelah pembicaraan terakhir dengan Tifa, aku berpikir keras. Apa benar Tifa sebahagia itu karena akan menikah dengan Topan? Padahal yang aku tahu Tifa tidak tertarik dengan Topan. Sama sekali tidak terakhir. Oke, Tifa pernah makan malam dengan Topan di hotel waktu itu. Namun, saat itu pun aku tahu Tifa belum ada ketertarikan dengan Topan. Bagaimana bisa dia berubah hanya dalam hitungan hari? Rasanya sulit percaya. Pertanyaan itu membuatku tidak nyenyak tidur, tidak bisa fokus saat berusaha bekerja. Daripada semakin tidak tenang, kuberanikan menghubunginya. Sayangnya Tifa tidak menjawab panggilanku. Apa boleh buat. Aku datangi saja toko bunganya. Saat aku sampai di toko, tentu saja tokonya masih tutup karena memang masih terlalu pagi. Aku coba telepon Tifa berkali-kali. Rasany

