"Buk, boleh enggak kalau saya ajak Rumaisa keluar sebentar. Soalnya, saya enggak ada baju lagi. Besok saya harus kembali ke Jakarta," ucap Bagus pada mertuanya yang sedang menjahit di pojok ruang tamu. "Ajaklah, Nak Bagus! Dia tidak akan menolak. Dia kan istrinya Nak Bagus," balas Fatimah dengan suara khasnya. Serah dan terasa berat karena renta. "Tapi, dia seperti menjauhi saya terus, Buk. Saya sudah minta maaf. Sudah juga memohon pada dia supaya memaafkan saya. Tetap saja dia tidak mau." "Tidak mau apa? Apakah Rumaisa bilang dia ingin berpisah?" Fatimah menghentikan gerakan tangannya. Ia memutar badan lalu menatap Bagus yang duduk tepat di sampingnya. "Tadi saya dengar dia bicara sama Mbak Ana. Saya harus bagaimana, Buk? Sepertinya hatinya juga sudah keras. Saya sudah terlalu jaha

