Sejauh kaki melangkah, Bagus tetap menatap ke depan. Pria tampan itu berjalan dengan wajah datar. Rumaisa menjadi enggan untuk bertanya lagi karena sungkan. Setelah keduanya sampai di toko yang lain, Bagus segera menarik pinggang gadis itu untuk lebih dekat lagi. "Kamu mau yang mana?" Rumaisa bisa melihat mood Bagus yang sedang tak baik itu. Tidak seceria tadi sebelum mereka sampai di toko perhiasan. "Aku ... aku enggak ingin apa-apa, Mas. Ini terlalu mewah untukku." "Mai, jangan menolak lagi! Pilihlah apa yang kamu sukai. Apa yang mau lain?" "Mas, aku ingin keluar dari sini. Sepertinya kita butuh bicara dulu," ajak gadis itu. Setelah menghela napas panjang, akhirnya Bagus mau juga menuruti permintaan istrinya. Ia pasrah dengan langkah Rumaisa yang mengajaknya berhenti di kedai es

