Gadis itu menggeleng kepalanya. Ia tak percaya Bagus akan bicara seperti itu. Rumaisa akhirnya berdiri lagi lalu mendekati ibunya yang baru saja meletakkan rantang berisi makanan di atas tikar. "Mai, ajak suamimu makan. Pasti dia lapar," kata Fatimah. "Biarin aja, Buk. Nanti kalau lapar juga nyari makan sendiri." Rumaisa membuka rantang lalu meraih satu pisang goreng dan menuang teh panas ke dalam gelasnya. Ia duduk di sana sambil menatap hamparan tanaman sawi yang ia tanam bersama ibunya. Tak lama, Bagus pun langsung duduk di dekat gadis itu. Sengaja dengan gaya senyuman yang menggoda. Mereka melihat Ammar di kejauhan yang datang membawa pepaya yang sudah berwarna kekuningan. "Nak Bagus, ayo dicicipi pisang gorengnya! Ini pisang goreng dari hasil kebun sendiri." Fatimah menuangkan

