Bagus membuka pintu kamar. Ia melihat kakaknya ada di depan pintu itu. Dengan malas, Bagus bertanya, "Ada apa?" "Aku mau pulang." Ammar hanya berusaha menghargai keberadaan sang adik. "Baguslah kalau begitu. Buru-buru pulang ya, Mas! Soalnya aku sama Rumaisa jadi enggak enak. Masa satu rumah sama ipar. Kan begitu." Ammar menahan dirinya. Jika bukan adiknya sendiri, mungkin dia juga sudah mencekik Bagus karena saking gemasnya. "Ya udah, assalamualaikum." Ammar langsung berjalan ke depan. "Wa'alaykumsalam warahmatullahi wa barokatuh, siap." Dalam hati Bagus bersorak melihat kakaknya kembali ke Jakarta. Ia hanya bisa mengintip dari balik pintu kamar karena belum memiliki pakaian. Bagus bisa melihat Rumaisa datang dari luar dengan menenteng plastik. Berpapasan dengan Ammar, gadis

