"Melihat dari reaksi kalian berdua, Ayah dapat menebak jika ini bukan pertemuan pertama kalian. Tapi biar Ayah perkenalkan sekali lagi, Darren ini Cecilia sekretaris Ayah sekaligus mentor kamu," ucap Giovani.
Darren segera melancarkan protes mengenai keputusan sepihak Giovani, bahkan dia memberitahu sang ayah tentang kejadian tempo hari, di mana taksi daring yang dia tumpangi menabrak motor Nmax milik Cecilia.
Sementara Cecilia memilih melihat ke arah lain saat pria yang telah membuat pinggangnya cedera itu bercerita.
"Jadi apakah aku bisa membatalkan pelatihan ini dengannya?" ucap Darren dengan ketus.
"Iya Pak. Saya mau membatalkan pelatihan ini kalau orangnya 'Dia'." Sambar Cecilia mendukung perkataan Darren.
Giovani menatap kedua anak muda yang ada di hadapannya, lalu menarik napas panjang seraya menatap sang sekretaris.
''Kalau itu sayangnya tidak bisa, Cecil. Kamu akan tetap menjadi mentornya Darrenn. Dan satu hal lagi, mulai sekarang kamu kerja di ruangannya Darren."
Cecilia hanya berdecih dalam hatinya saat mendengar perkataan Giovani.
"Ayah tidak bisa sembarangan membuat keputusan secara sepihak!" pekik Darren dengan raut wajah kesal.
"Darren. Ini sudah keputusan Ayah. Jadi suka tidak suka, kamu harus menerimanya. Sekarang kamu bisa keluar bersama Cecilia, karena masih banyak yang harus Ayah kerjakan," ucap Giovani yang terdengar seperti titah di telinga keduanya.
"Baik Pak." Hanya Cecilia yang menyahut, sebab Darren masih tenggelam di dalam amarahnya.
"Darren. Mau sampai kapan kamu berdiri di situ?" ucap Giovani dengan suara agak keras.
Darren menggeram kasar lalu meninggalkan ruangan Giovani tanpa sepatah kata pun. Menyusul Cecilia di belakang pria itu.
Keduanya segera menuju ke ruangan Darren yang masih terletak di lantai yang sama dengan ruangan Giovani.
Suara ketukan sepatu hak tinggi Cecilia yang beradu dengan lantai, membuat telinga Darren merasa terganggu. Pria itu menoleh dan menggeram.
Cecilia yang tak mau kalah segera memasang raut wajah sinis dan bertanya dengan nada ketus. "Ada masalah apa sampai Bapak harus menggeram seperti itu?"
"Bisa nggak matanya enggak usah melotot kayak Suzana?" sindir Darren saat menyadari tatapan tajam Cecilia.
"Itu cuma perasaan Bapak saja, mata saya memang begini!" sahut Cecilia dengan setengah berteriak.
"Jadi apa ini perasaan saya juga, kalau kamu sepertinya sinis sama saya?" tanya Darren setelah berdecak kesal.
"Iya, itu memang hanya perasaan Bapak." Darren kembali dibuat kesal karena jawaban Cecilia yang terbilang singkat.
Karena terlalu kesal Cecilia sampai tidak memperhatikan langkahnya sehingga tersandung. Dia nyaris terjatuh, jika tidak langsung berpegangan kepada Darren.
Sementara Darren yang berada dalam posisi lengah, otomatis terkejut dan memeluk pinggang Cecilia tanpa sadar agar keduanya tidak terjatuh di lantai yang keras.
'Apa yang terjadi denganku?' tanya Darren di dalam hatinya.
'Sialan! Kenapa pria manja ini wangi banget, sih!' Sungut Cecilia di dalam hatinya.
Keduanya saling bertatapan dan merasa seolah hanya ada mereka berdua di koridor sampai terdengar suara ponsel yang memekakkan telinga.
Cecilia yang pertama sadar langsung membentak Darren. "Lepaskan tangan Bapak dari tubuh saya!"
Tanpa banyak kata Darren segera melepasnya, sehingga Cecilia yang belum bersiap-siap langsung terjatuh dengan posisi duduk serta menimbulkan suara dentuman keras.
"Sialan! Kalau saja Bapak bukan anak Pak Giovani, sudah habis Bapak di tangan saya!"
Mungkin jika Darren baru pertama kali bertemu dengan Cecilia, sudah pasti pria itu terkejut dengan tingkah kasar dari sekertaris sang ayah. Tapi kenyataannya pertemuan pertama mereka memang diisi oleh pertengkaran dan caci maki yang keluar dari bibir Cecilia.
Tadinya Darren ingin membiarkan Cecilia yang masih terduduk di lantai. Akan tetapi, ringisan kecil yang keluar dari bibir Cecilia membuat Darren memfokuskan pandangan kepada gadis yang memakai setelan blazer dan rok berwarna merah.
Tak lama Darren terkejut karena mendapati bekas memar yang sepertinya sudah berhari-hari pada betis kanan Cecilia.
'Apa memar itu karena tabrakan tempo hari?' tanya Darren dalam hatinya.
"Ckckck, sungguh merepotkan sekali." Dengan ketus Darren mengulurkan tangan untuk membantu Cecilia berdiri.
"Tidak perlu membantu kalau tidak ikhlas," timpal Cecilia dengan sinis.
"Ya sudah, kamu berdiri saja sendiri. Saya mau ke ruangan saya dulu," ucap Darren yang kembali menarik tangannya, lalu meninggalkan Cecilia.
Suara dering ponsel kembali terdengar, kali ini sang pemilik benar-benar menyadarinya. Cecilia segera merogoh saku blazer-nya dan mengambil benda pipih itu.
"Iya ada apa, Mah?" tanya Cecilia pada sang penelepon yang adalah sang ibu.
Hening sejenak sebelum wajah Cecilia berubah menjadi kesal. Berulang kali dia menghembuskan napas guna untuk mengurangi emosi yang menggelegak di dalam hatinya.
"Kalau Mama menelepon cuma buat ngomongin yang nggak penting, aku tutup sekarang teleponnya. Kerjaan aku masih banyak," ucap Cecilia dengan datar.
Sementara dari kejauhan Darren yang ternyata memperhatikan Cecilia, berdecak saat mendengar gadis itu berbicara kasar dengan orang tuanya.
Sebuah pemikiran pun terlintas di dalam benaknya, jika dia dapat menemukan bukti kesalahan Cecilia, bukan tidak mungkin Geovani akan membatalkan pelatihannya dengan gadis jutek itu. Dan yang paling membahagiakan baginya ... tentu saja melihat Cecilia akan dipecat dari perusahaan ini.
Seringai licik tercipta pada wajah Darren saat membayangkan Cecila akan berlutut dan memohon ampunan darinya.
"Astaga, Mbak Cecil kenapa bisa jatuh? Sini saya bantu berdiri."
Suara perempuan yang terdengar dari kejauhan membuat Darren tersadar dari lamunannya, dia melihat Cecilia sedang dibantu berdiri oleh dua orang karyawati. Tanpa banyak kata Darren kembali meneruskan langkah menuju ruangannya yang sudah berada di depan mata.
Dengan gerakan kasar Darren duduk di sofa berwarna cream. Gerutuan terus keluar dari bibirnya, tadinya dia ingin merokok tapi teringat jika sedang berada di ruangan ber-AC.
Tak lama terdengar suara pintu terbuka, disusul masuknya Cecilia yang membawa setumpuk berkas. Matanya menatap Darren seperti predator yang sedang mengawasi buruannya.
Namun Darren sama sekali tidak terusik dengan tatapan itu, malahan dengan santainya dia mengambil permen karet dari saku kemejanya lalu mengunyah permen beraroma mint itu.
"Makanya jadi perempuan jangan sok-sokan mau pakai high heels. Terima saja kenyataan kalau kamu itu pendek," ucap Darren dengan sarkas.
"Bapak body shaming!? Tidak bisa dipercaya jika seorang lulusan luar negeri nggak ada ahklaknya sama sekali." Cecilia membalas dengan mencibir, tanpa segan dia membanting berkas-berkas itu di depan Darren.
"Tidak usah bicara mengenai akhlak kalau kelakuan kamu saja seperti preman geng motor," sahut Darren yang tidak mau kalah.
"Karena siapa saya bertingkah seperti preman?! Ya karena supir taxi yang Bapak tumpangi tololnya bukan main!" bentak Cecilia.
"Apa maksud kamu mengungkit kejadian yang sudah lalu? Pendendam sekali jadi orang," cibir Darren.
"Saya memang pendendam dan mulai saat ini saya pastikan jika Bapak akan menerima pembalasan dendam saya," balas Cecilia dengan tatapan tajamnya.
"Ckck. Sudahlah! Mari kita hentikan perdebatan tidak berguna ini. Jadi dari mana saya harus pelajari?" kata Darren yang mulai lelah menghadapi kelakuan sinis Cecilia.
Cecilia hanya menyunggingkan senyum mengejek dan Darren merasa jika ini kekalahannya yang kedua. Tidak pernah terbayang dalam benaknya, jika dia yang bergelar S2 harus dimentori oleh seorang D3. Darren benar-benar tidak tahu harus meletakkan di mana wajahnya saat ini.
"Oke, tapi Bapak harus mendengarkan apa kata saya dan tidak boleh ada bantahan sedikitpun yang keluar dari mulut Bapak selama pelatihan ini," ucap Cecilia dengan mengembangkan senyum kemenangan.
Seketika itu juga Darren menyadari hari-harinya akan dipenuhi oleh perdebatan dengan sekertaris yang jutek ini.