"Bukan begitu caranya, Pak."
Cecilia benar-benar merealisasikan tentang dirinya yang pendendam. Gadis itu terus menerus memberikan berbagai tugas, mulai dari yang sangat mudah sampai sukar dengan tujuan merepotkan Darren.
Pertengkaran demi pertengkaran kerap menghiasi kebersamaan keduanya yang kadang berlangsung hampir 11 jam dalam sehari.
Itu semua berkat sikap perfeksionis yang dimiliki oleh Cecilia. Gadis itu ingin mengejar ketertinggalan Darren, sekaligus melampiaskan rasa kesal tiap bertatapan dengan pria itu.
Mungkin bagi Cecilia yang memang sudah terbiasa bekerja keras, waktu bekerja sampai 12 jam dalam sehari
itu tidak terasa.
Tapi lain halnya dengan Darren yang mulai merasa lelah, dan rasa kantuknya kerap datang setelah jam makan siang berakhir. Entah pengaruh kekenyangan atau sugesti dari tubuhnya, Darren juga tidak tahu.
"Sudah istirahatnya, Pak? Mari kita lanjutkan pelatihan ini," jawab Cecilia dengan nada datar.
"Seriously, Cecil! Ini sudah hampir jam 6 sore dan sudah waktunya pulang. Tapi kamu masih mau melanjutkan pelatihan ini, memangnya kamu tidak lelah jika harus pulang lewat dari jam 8 malam setiap harinya?"
Darren yang mengantuk melancarkan protes, tubuhnya merasa lelah karena dua minggu ini bangun jam setengah 6 pagi dan tidur jam 12 malam.
"Bapak itu lemah banget, sih. Baru segini saja sudah mengeluh. Lagian Bapak ini cowok apa cewek, sih? Kenapa sepertinya takut sekali untuk pulang malam? Pulang juga ada mobil dan supir pribadi."
Darren hanya berdecak pelan saat Cecilia menyindirnya.
"Saya ingin pulang dan tidur. Apakah jawaban itu cukup memuaskan untuk kamu?'' sahut Darren ketus.
"Apakah dengan ini Bapak mau mengakui jika tidak sanggup menjalani pelatihan ini?" ucap Cecilia dengan mengejek.
"Cecilia!" bentakan pun keluar dari mulut Darren saat merasa Cecilia sudah sangat keterlaluan.
"Saya tidak sedang ingin bertengkar saat ini. Jadi bagaimana? Apa kamu bersikeras untuk melanjutkan pelatihan ini dengan saya yang sedang mengantuk, atau biarkan saya pulang sekarang juga?" Darren meninggikan suaranya karena sudah terlalu lelah.
"Oke, untuk hari ini kita sampai di sini, tapi saya harap Bapak bisa cepat menguasai materi, sehingga kita tidak harus pulang malam setiap harinya!" balas Cecilia dengan nada yang tidak kalah tinggi.
"Dasar perempuan angkuh!" desis Darren di sela rasa kantuk yang mulai mendominasi tubuhnya.
"Ya, katakan itu setelah Bapak sadar dari rasa kantuk," ucap Cecilia sambil bersedekap.
"Cecilia Wijaya, tutup mulut kamu. Saya sudah mengantuk dan tidak ingin bertengkar lagi."
Darren berkata dengan geram yang hanya ditanggapi Cecilia dengan gedikan pada bahunya, sejujurnya gadis itu mulai menikmati saat Darren menunjukkan kemarahannya.
Hitung-hitung sebagai pelampiasan rasa kesalnya terhadap Darren yang turut andil merusak motor NMAX-nya.
Darren yang tak ingin menanggapi Cecilia langsung membereskan meja kerjanya, dia sudah membayangkan berbaring di kasur yang empuk.
Saat berada di depan lift, ponsel Darren berdering. Dia segera mengambil benda itu dari saku vest dan langsung menghela napas panjang saat melihat nama Kathleen-kekasihnya yang tertera di layar.
"Kath, ada apa kamu menelepon jam segini? Tumben kamu sudah bangun sepagi ini?"
Darren langsung menepuk bibir saat menyadari pertanyaan konyol yang dia lontarkan.
Bisa-bisanya Darren mengucapkan kalimat seperti itu disaat keduanya tidak berkomunikasi sejak dia tiba di Jakarta.
Semua itu terjadi karena Kathleen yang sempat merajuk saat Darren akan pulang ke Jakarta secara mendadak.
Kathleen menganggap jika Darren mengingkari janji mereka berdua untuk terus bersama selamanya.
"Maaf jika aku sempat marah pada kamu, Babe. Padahal kamu juga terpaksa harus pulang karena ayahmu sakit, jadi setelah aku pikir-pikir lebih baik aku menyusul kamu ke Jakarta. Kebetulan aku mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan yang berafiliasi dengan kampus kita," ucap Kathleen dengan nada ceria.
"Secepat itu? Terus bagaimana dengan rencana S2 kamu?" tanya Darren yang terkejut mendengar keputusan dari sang kekasih.
''Tentu saja aku membatalkannya, lagipula bagus juga jika aku bekerja dulu untuk saat ini. Anggap saja aku menambah pengalaman kerja," jelas Kathleen.
"Kalau begitu aku tunggu kedatangan kamu. Kapan kamu akan ke sini? Biar aku usahakan untuk menjemput kamu," tanya Darren yang kini masuk ke dalam lift.
"Aku sudah di hotel, Babe," jawab Kathleen singkat.
"Oke. Besok aku akan luangkan waktu untuk jemput kamu," kata Darren setelah melihat jam tangannya.
"Babe. Aku 'kan tadi bilang aku di hotel. Jadi aku sudah sampai di Jakarta," ucap Kathleen yang membuat mata Darren melebar.
"Kath. Kamu nggak lagi bercanda 'kan?" tanya Darren dengan nada tak percaya.
"Aku nggak bercanda, Beb. Kalau kamu ragu aku akan mengubah panggilan ini menjadi panggilan video."
Setelah Kathleen mengatakan itu, layar ponsel Darren menunjukkan permintaan untuk panggilan video.
Darren sempat terkejut saat Kathleen menunjukkan sebuah kamar hotel sederhana. Sementara pemandangan kota Jakarta di malam hari terlihat melalui jendela besar di belakang gadis itu.
"Bagaimana, Babe? Kamu sekarang percaya 'kan kalau aku sudah ada di Jakarta?"ucap Kathleen sembari mengulas senyum lebar.
"Oke. Kasih tahu aku di mana kamu menginap, besok aku akan ke sana sepulang kerja," sahut Darren.
"Apa kamu nggak bisa ke sini sekarang, Babe? Aku udah kangen sama kamu," tanya Kathleen dengan wajah memelas.
Darren seketika meneguk saliva dengan susah payah, sejujurnya dia ingin bertemu Kathleen tapi tubuhnya terlalu lelah. Yang dia inginkan saat ini hanya tidur.
"Kath. Aku juga kangen sama kamu, cuma sekarang aku capek banget. Aku takut nggak bakal konsen nanti pas kamu bicara," ujar Darren memberi alasan.
Wajah Kathleen berubah menjadi muram, dan sang kekasih hanya terdiam. Membuat Darren semakin merasa bersalah.
"Padahal aku terbang puluhan jam demi ketemu kamu, tapi kok kamu nggak mau ketemu aku sekarang? Apa kamu sudah mulai bosan sama aku?" tanya Kathleen dengan nada sedih.
"Baiklah. Aku ke hotel tempat kamu menginap sekarang. Kasih tahu saja alamatnya." Darren yang tak mau Kathleen bertambah sedih akhirnya bersedia menemui Kathleen.
Untung saja jarak dari gedung kantor dengan hotel tempat Kathleen menginap hanya berjarak 3 kilometer, tidak terlalu jauh.
Setelah menempuh perjalanan selama 45 menit, akhirnya Darren tiba di hotel yang terletak di bilangan Jakarta Pusat.
"Tunggu di sini, saya tidak akan sampai jam 8 malam," ucap Darren pada sopir yang berusia 35 tahun itu.
Darren turun dari mobil dengan langkah gontai. Matanya terasa perih, kepalanya sedikit pening, tapi bayangan wajah Kathleen yang rindu membuatnya tetap memaksa diri masuk ke dalam hotel.
Lobi hotel tampak lengang. Hanya ada seorang resepsionis dan dua tamu asing yang duduk berjauhan. Darren segera menuju lift menekan angka menuju lantai di mana kamar Kathleen berada.
Begitu pintu lift terbuka, Darren langsung melihat Kathleen berdiri dalam jarak yang tak terlalu jauh dari tempatnya berdiri.
Gadis itu mengenakan sweater tipis berwarna krem dan celana jeans, rambut panjangnya dibiarkan tergerai. Begitu mata mereka bertemu, Kathleen langsung tersenyum lebar.
"Babe!" serunya sambil berlari kecil menghampiri Darren.
Tanpa memberi waktu Darren bereaksi, Kathleen sudah memeluknya erat. Tubuh Darren sedikit kaku, bukan karena tak rindu, melainkan karena lelah yang benar-benar menggerogoti seluruh sendinya.
"Aku kangen banget," ucap Kathleen lirih di d**a Darren.
"Iya, aku juga," jawab Darren pelan, lalu menepuk punggung Kathleen beberapa kali.
Kathleen mendongak, menatap wajah Darren dengan saksama. "Kamu kelihatan capek banget."
Namun belum sempat Darren menyahut, terdengar suara bariton yang memanggilnya.
"Darren?"
Dia menoleh dan mendengus kesal saat melihat siapa orang yang memanggilnya.