4. Sepupu Menyebalkan

1139 Words
"Aku nggak menyangka bakal bertemu kamu di sini. Ternyata omongan Papaku benar kalau kamu udah pulang ke Indonesia." Darren menggeram kasar saat mengetahui jika Morgan, sang sepupu yang berbicara. Sepupu yang sejak dulu tidak pernah akur dengannya. "Sejak kapan kamu peduli ke mana aku akan pergi?" tanya Darren dengan nada provokatif. "Whoaaa. Chill down, bro. Aku hanya menyapamu. Apa itu salah?" ucap Morgan sembari mengangkat kedua tangan ke atas. "Tidak salah dan sekarang aku akan pergi karena kamu udah menyapaku," sahut Darren dengan nada dingin. "Tidak semudah itu, Bro. Mulai saat ini aku aku akan peduli apapun yang kamu lakukan, termasuk ke mana dan dengan siapa kamu pergi," sahut Morgan dengan senyum mengejek. "Baik hati sekali kamu mau memperhatikan aku." Kathleen hanya mengerutkan dahi, sebab tak mengerti apa yang dibicarakan oleh kedua pria itu. Namun melihat gesture Darren yang tidak bersahabat, membuatnya yakin hubungan keduanya tidak baik. "Babe. Aku lapar, ayo kita makan malam." Kathleen yang muak mendengar bahasa yang tidak dia pahami, akhirnya menyela perdebatan sepasang sepupu itu. Morgan menaikkan sebelah alis saat mendengar Kathleen berbicara dalam bahasa inggris. "Wah. Ternyata pacarmu orang asing, tadinya aku kira dia itu blasteran," ucap Morgan masih dengan nada mengejek. Darren memejamkan mata sejenak sebelum berbicara dengan sang sepupu. "Morgan. Kalau kamu mau ribut, kita lakukan lain kali. Kamu dengar sendiri 'kan kalau pacarku lapar." Namun Morgan tak berniat mengakhiri percakapan ini, pria itu menatap Kathleen dengan cengiran nakal. "Halo. Pacarnya Darren, perkenalkan namaku Morgan, sepupunya Darren. Bagaimana kalau kita makan malam bersama. Aku yang traktir," ucap Morgan dalam bahasa inggris. "Dalam rangka apa kamu mau mentraktir kami?" tanya Darren yang tak menurunkan kewaspadaannya. "Anggap saja ini hadiah selamat datang dariku," jawab Morgan dengan nada santai. "Babe. Terima saja niat baik sepupumu ini. Apa kamu nggak kasihan melihat aku yang sudah kelaparan?" sela Kathleen sembari memegang perutnya. Helaan napas berat tak lama keluar dari bibir Darren, tubuhnya sudah semakin lelah dan dia hanya ingin tidur secepatnya. Tapi tidak mungkin juga Darren membiarkan Kathleen makan malam berdua dengan Morgan. "Oke. Hanya makan malam, setelah itu aku pulang," ucap Darren dengan nada tak ingin terbantahkan. "Nah. Begitu dong, Bro. Lagi pula aku heran sama kamu, sekarang 'kan masih jam 07.00 lewat, tapi kamu kok kayak kita masih kecil dulu yang takut pulang malam," sindir Morgan yang hanya ditanggapi diam oleh Darren. Morgan yang menyadari kekesalan Darren, bersemangat mengejek sang sepupu di depan kekasih pria itu. "Ternyata kamu masih tetap anak papa, ya." "Tutup mulutmu, Morgan. Papaku 'kan lagi sakit, jadi aku nggak mau pulang terlalu malam," sahut Darren dengan berdesis. "Ya. Anggap saja begitu," ucap Morgan yang kini berjalan mendahului keduanya. "Babe. Apa benar dia sepupumu? Kenapa kalian lebih terlihat seperti musuh?" tanya Kathleen dengan berbisik. "Panjang kalau mau diceritakan, Khat. Lain kali akan aku ceritakan semua. Sekarang ayo kita ikuti Morgan," ajak Darren sembari menggenggam tangan sang kekasih. Keduanya lalu mengikuti langkah Morgan yang ternyata memilih restoran hotel sebagai tempat makan malam mereka. "Silakan pilih menu makan malam kalian," ucap Morgan setelah ketiganya duduk. Baru saja Darren akan menyebutkan pesanan, ponselnya berdering. Decakan kesal langsung keluar dari bibir Darren yang merasa terganggu. "Mau apalagi cewek jutek ini menelepon," geram Darren saat melihat nama Cecilia tertera pada layar ponsel. "Angkat saja teleponnya, siapa tahu penting. Biar aku yang pesan, seleramu masih sama 'kan?" Meski awalnya sempat ragu, Darren akhirnya mengangguk dan bergegas keluar restoran untuk menerima panggilan itu. "Ada apa kamu meneleponku, Cecil?" tanya Darren dengan nada dingin. "Justru saya yang harus bertanya kenapa Bapak masih berkeliaran di luar rumah? Padahal tadi di kantor mengeluh ngantuk," balas Cecilia dengan sinis. Seketika Darren tertegun saat mendengar suara omelan Cecilia. Namun dengan cepat pria itu kembali pada fokusnya dan menyahuti perkataan sekertaris jutek itu. "Memangnya siapa kamu sampai bertanya seperti itu pada saya?" tanya Darren dengan nada ketus. "Meskipun saya bukan siapa-siapa Bapak, tapi sekarang Bapak di bawah pengawasan saya. Dan saya tidak ingin ada hal sekecil apapun yang dapat menghambat pelatihan Bapak," tutur Cecilia yang membuat Darren kembali terdiam. "Pak Darren. Apa Bapak masih mendengar ucapan saya?" Darren otomatis menjauhkan ponselnya dari telinga saat Cecilia berteriak kencang. "Saya tidak tuli, jadi kamu tidak perlu teriak-teriak seperti itu. Oke. Setelah makan malam saya akan pulang. Apa kamu sudah puas?" "Puas sekali, karena besok saya akan memberikan materi yang lebih berat daripada hari ini." Telinga Darren terasa panas saat Cecilia kembali menyindirnya. "Cecilia. Saya capek, jadi jangan ajak saya berdebat lagi untuk sekarang. "Baik. Selamat menikmati makan malam Bapak dan sampai jumpa besok di kantor." Setelah mengatakan itu Cecilia memutuskan sambungan telepon secara sepihak. Darren menatap layar ponselnya beberapa detik, rahang pria itu mengeras seiring dengan tarikan napasnya yang dalam. Berusaha menahan emosi yang mengelegak. "Cewek itu … benar-benar bikin tekanan darahku naik," gerutu Darren pelan. Tak lama kemudian, Darren kembali masuk ke dalam restoran dengan wajah masam. Morgan yang baru saja menyelesaikan pesanan mereka, langsung melirik sepupu dengan dengan senyum jenaka. "Telepon dari siapa? Kelihatannya penting banget, sampai wajahmu langsung berubah kayak habis ditegur dosen killer," sindir Morgan. "Bukan urusanmu," jawab Darren singkat setelah duduk. Kathleen menoleh pada Darren dengan tatapan cemas. "Apa ada masalah, Babe?" "Tidak ada," sahut Darren singkat. Tak lama kemudian, pelayan datang membawa semua pesanan ketiganya. Suasana diantara ketiganya sempat hening beberapa saat, sampai akhirnya Morgan kembali membuka suara. "Jadi … kamu sekarang ngapain aja?" tanya Morgan santai, tapi sorot matanya tajam. "Aku kerja di perusahaan Papa," jawab Darren tanpa menatap. "Enak sekali yang baru pulang dari Boston, langsung kerja di perusahaan Om Giovanni." Morgan menyandarkan punggung ke kursi, lalu memotong steak dengan santai, seolah topik itu sama sekali tidak sensitif. Pisau dan garpu Darren berhenti bergerak. Rahangnya mengeras, tapi dia tetap berusaha tenang. "Lebih baik kamu diam saja, kalau cuma mau membicarakan hal nggak berguna." Morgan terkekeh pelan. "Santai saja, Bro. Aku cuma bercanda." "Morgan, sebaiknya kita ganti topik lain. Aku nggak mau makan malam ini menjadi canggung," ucap Kathleen yang mulai tak nyaman saat merasakan ketegangan di antara keduanya. "Oh, tentu saja. Maaf kalau membuat suasana nggak nyaman," ucap Morgan dengan berpura-pura menyesal. Kathleen tersenyum tipis dan memilih fokus pada makanannya. Namun lain halnya dengan Darren, dia sudah kehilangan selera makannya. Karena suara jutek Cecilia yang bercampur dengan suara ejekan Morgan silih berganti memenuhi kepalanya. Membuat dadanya terasa sesak. Darren akhirnya meletakkan garpu dan sendok di atas piring tanpa benar-benar menyentuh makanannya. Dia menarik napas berulang kali, menahan emosi bergolak di dalam d**a. Morgan menyadari perubahan ekspresi Darren, senyum tipis kembali terbit di sudut bibirnya. "Kamu kelihatannya nggak menikmati makanannya, Darren," ucap Morgan santai. "Apa karena capek … atau karena ada hal lain yang mengganggu pikiranmu?" Darren menoleh perlahan. "Nggak usah basa-basi, Morgan. Aku sudah muak mendengar omong kosongmu." Morgan terkekeh kecil saat mendengar sindiran balik dari Darren. Rasanya menyenangkan melihat Darren yang menanggapi leluconnya dengan ekspresif. Namun sebelum Morgan bereaksi lebih jauh, terdengar suara dering ponsel yang memekakan telinga.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD