5. Kecurigaan Darren

1128 Words
Morgan berdecih saat menyadari jika ponselnya yang berdering. Pria itu mengeluarkan ponselnya dari saku kemeja dan menolak panggilan itu sebelum kembali menatap Darren. "Aku dengar kamu sekarang kerja di kantor Om Giovanni. Apa itu betul?" "Iya. Aku kerja di kantor Papa," jawab Darren setelah meneguk habis wine-nya. Darren merasa tidak nyaman saat Morgan langsung menampilkan raut wajah tak percaya bercampur ejekan, tapi tak lama dia menghela napas lega saat melihat Kathleen yang baru saja menghabiskan makanannya. "Aku sudah selesai makan dan mau pulang sekarang," ucap Darren dengan nada yang tidak ingin terbantahkan. "Kamu yakin mau pulang sekarang? Baru jam delapan lewat," tanya Morgan dengan wajah yang terlihat mengesalkan menurut Darren. "Iya. Aku capek dan mau tidur. Ayo Khat, aku antar kamu sampai ke kamar."Tanpa menunggu respon Morgan, Darren segera mengajak Kathleen untuk meninggalkan restoran. "Terima kasih atas makan malamnya. Senang bisa berjumpa denganmu, Morgan," ucap Kathleen dengan senyum tipis. "Aku pulang dulu, Khat. Besok setelah pulang kerja, aku akan datang ke sini," ucap Darren setelah keduanya berada di depan kamar Kathleen. "Oke. Hati-hati di jalan, Babe," kata Kathleen dengan nada manja. "Cepat masuk kamar dan kunci pintunya." Darren menunggu sampai pintu kamar Kathleen benar-benar tertutup rapat. Setelahnya, dia baru berbalik dan melangkah menjauh dengan wajah mengantuk. Kedatangan Kathleen dan pertemuannya dengan Morgan membuat rasa lelahnya semakin menumpuk. Apalagi besok dia harus menghadapi Cecilia dan segala kerumitan di kantor. "Darren." Darren yang akan keluar dari hotel, mengembuskan napas panjang saat Morgan memanggilnya. Dengan setengah hari pria itu menoleh, dia juga tidak berpura-pura ramah kepada sang sepupu. "Ada apa lagi kamu memanggilku? Apa kamu lupa kalau aku mau pulang dan tidur," tanya Darren dengan ketus. "Tidak ada apa-apa. Aku hanya senang melihatmu kesal," jawab Morgan dengan nada mengejek. Geraman kesal keluar dari bibir Darren, dia menatap tajam Morgan di sela rasa lelah yang semakin mendera. "Apa kamu menganggur sampai mencari kegiatan yang tak berguna seperti ini?" Namun bukannya tersinggung, Morgan malah tertawa kencang, seakan perkataan Darren adalah sebuah lelucon. "Aku pulang sekarang," ucap Darren yang lalu meninggalkan Morgan. Morgan masih tertawa saat punggung Darren menjauh. Tawanya baru mereda ketika pintu otomatis hotel tertutup, menyisakan pantulan bayangan dirinya di kaca. Senyum di wajahnya perlahan menghilang, berganti sorot mata yang tajam dan penuh perhitungan. "Kamu tidak akan pernah mendapatkan jabatan CEO itu, Darren," gumam Morgan dengan nada dingin. *** Sementara itu, Darren memilih untuk memejamkan mata di kursi belakang. Pundaknya terasa berat, seakan ditimpa oleh batu seberat ratusan kilo. "Aku ingin pelatihan ini cepat berlalu," gumam Darren tanpa sadar. Tak lama ponselnya berdering, dia mengambil dari saku vest dan melihat panggilan dari Kathleen. "Babe. Apa kamu baik-baik saja?" tanya Kathleen lembut. "Aku baik-baik saja," jawab Darren. "Syukurlah kalau kamu baik-baik saja, aku tadi cemas sekali. Sepupumu itu ... Morgan, dia agak menyebalkan, ya?" Darren tersenyum tipis. "Kamu nggak usah terlalu cemas, Khat. Namanya juga saudara, terkadang ada saat di mana kami bertengkar." "Benar kamu nggak apa-apa? Soalnya kamu juga Kelihatan capek sekali," tanya Kathleen yang belum puas dengan jawaban Darren. "Aku bener nggak apa-apa, Khat. Aku cuma butuh tidur," jawab Darren sembari menguap. "Kalau begitu aku tutup dulu teleponnya. Cepat tidur setelah sampai di rumah. Sampai ketemu besok," ujar Kathleen. "Iya. Kamu juga cepat tidur." Panggilan terputus, tapi rasa berat di d**a Darren tidak ikut menghilang. Ada sesuatu dari tatapan Morgan tadi, bukan sekadar ejekan. Dan Darren merasa hari-harinya setelah ini akan jauh lebih berat. Karena terlalu lelah, membuat Darren tak lama terlelap. Hingga sebuah guncangan pelan pada bahu membangunkannya. "Arghhh!" Teriakan kesakitan meluncur dari bibir Darren, sebab kepalanya terasa sakit. Dan butuh beberapa detik baginya untuk sadar jika dia masih berada di dalam mobil. "Maafkan saya kalau bangunin Bapak. Sekarang sudah jam 9 malam, dan saya juga mau siap-siap pulang," ucap sang sopir dengan raut wajah bersalah. "Nggak apa-apa, justru saya yang harus minta maaf sama Bapak karena pulang larut terus," sahut Darren cepat. Sang sopir tersenyum tipis, lalu turun dari mobil setelah memarkirkannya dengan rapi di garasi rumah mewah Giovani. Sopir itu lalu membuka pintu belakang, dan Darren melangkah turun dengan tubuh yang masih terasa berat. "Terima kasih, Pak. Hati-hati di jalan," ucap Darren sambil menepuk bahu sopirnya ringan. "Sama-sama. Selamat istirahat Pak Darren." Sopir itu melangkah menuju motornya, meninggalkan Darren seorang diri di garasi mobil yang terang benderang karena sinar lampu. Darren menghela napas panjang sebelum membuka pintu dan masuk. Gelap menyambut ketika pria itu membuka pintu. Kedua orang tuanya pasti sudah terlelap, Darren pun memaklumi itu. Apalagi Giovani sedang dalam masa pemulihan. "Apakah keputusanku menggantikan Ayah sudah tepat?" tanya Darren lebih kepada dirinya sendiri. Namun tentu tak ada jawaban, sebab hanya Darren sendiri yang ada di dalam kamar bernuansa monokrom itu. Dia lalu merebahkan tubuh dan langsung terlelap, kali ini tidak ada gangguan lagi sampai alarm ponselnya berbunyi nyaring. Darren memaksakan diri untuk bangkit dari ranjangnya yang empuk, meski harus melawan rasa pegal di sekujur tubuh. Suara alarm yang memekakkan telinga serasa menjadi cambuk bagi Darren untuk melawan semua rasa tak nyaman pada tubuhnya. Setelah berhasil meraih ponselnya, Darren mematikan alarm. Dia lalu duduk di tepi ranjang beberapa saat, menghela napas panjang sambil memijat tengkuknya yang pegal. "Semoga hari ini berjalan lancar," gumamnya lirih. Darren lalu beranjak ke kamar mandi, membasuh wajah dengan air dingin. Bayangan wajah Cecilia yang jutek seketika terlintas di benaknya. Tanpa sadar Darren menghela napas kasar, sejujurnya dia tak ingin berdebat dengan Cecilia, tapi wanita itu selalu memandangnya seperti musuh. "Selamat pagi, Darren. Wajahmu kelihatan kusut, apa terjadi sesuatu kemarin?" tanya Giovanni yang sedang menyantap sarapannya. Darren mengangguk lemah, lalu duduk di depan sang ayah. "Banyak, Yah. Kemarin pacarku baru datang dari Boston dan aku juga ketemu sama Morgan." Giovanni segera menghentikan sarapannya, dia menatap sang putra dengan sebelah alis terangkat. "Terus apa yang kalian bicarakan?" tanya Giovanni. "Hanya basa-basi, Yah. Morgan mentraktir aku dan pacarku makan malam, katanya hadiah selamat datang buatku," jawab Darren yang memulai sarapannya. Namun saat mengambil lauk tambahan, mata Darren terpaku dengan tangan Giovanni yang gemetar saat memegang sendok. Dia langsung meletakkan sendok. "Ayah kenapa?" Raut wajah Darren berubah cemas. Dia bangkit sedikit dari kursinya refleks ingin membantu. Giovanni menarik napas pelan, lalu berusaha menenangkan tangannya sendiri. "Tidak apa-apa," jawabnya singkat, meski jelas terdengar dipaksakan. Darren tak langsung percaya. "Ayah yakin nggak apa-apa? Tangan Ayah gemetar." Giovanni tersenyum tipis, senyum yang lebih banyak ditujukan untuk menenangkan Darren ketimbang dirinya sendiri. "Ini hanya efek obat. Dokter bilang ini hal wajar selama masa pemulihan." "Iya. Kamu nggak usah cemas, Ayah memang harus banyak istirahat." Darren menoleh saat mendengar suara Fanny, dia melihat sang ibu yang baru memasuki ruang makan dengan sebuah piring berisi buah apel potong. Darren akhirnya mengangguk, meski hatinya masih terasa tidak tenang. Dia kembali duduk, namun sorot matanya tak lepas dari sang ayah. 'Aku harus mencari tahu apa yang terjadi sama Ayah,' gumam Darren di dalam hatinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD