6. Konfrontasi

1115 Words
"Selamat pagi, Pak. Apa Bapak sudah siap dengan materi selanjutnya?" tanya Cecilia begitu Darren memasuki ruangannya. "Cecil. Saya baru datang, tapi kamu sudah mencecar saya dengan pekerjaan. Sungguh murah hati sekali kamu," sindir Darren dengan sedikit tawa sinis. "Ya. Saya memang murah hati, jadi cepat kita mulai pekerjaan hari ini," ucap Cecilia yang kini menyalakan laptopnya. Meski agak kesal, Darren tak dapat membantah Cecilia, karena wanita itu telah diberi mandat penuh oleh Giovanni untuk mementori dirinya selama setahun ke depan. "Pak. Besok kita akan ikut dalam proses syuting iklan makanan ringan merek "Erdnuss-Schokolade". Kita harus ada di lokasi syuting tepat jam 9," ucap Cecilia di tengah pekerjaan mereka. Darren berhenti menganalisa data, lalu menatap Cecilia yang fokus dengan laptopnya. Untuk sesaat, dia merasa waktu berhenti berputar. Tanpa sadar Darren mengagumi kecantikan alami Cecilia yang hanya berdandan sederhana, hanya lipstik dan blus on yang membuat wajah wanita itu terlihat kuat dan segar secara bersamaan. "Apa Bapak punya waktu luang sampai bisa melamun seperti ini?" Sindiran itu menarik kembali kesadaran Darren, dia menoleh ke arah Cecilia yang menatapnya sinis. "Cecil. Ini masih pagi dan kamu mau ngajakin saya ribut? Yang benar aja kamu," sahut Darren dengan nada tak kalah sinisnya. "Salah sendiri kenapa Bapak melamun, padahal kerjaan masih banyak." Cecilia yang tak mau mengalah jelas langsung menyahut perkataan Darren. Baru saja Darren akan kembali bersuara, ponsel Cecilia yang tergeletak di meja bergetar, namun itu hanya berlangsung sebentar karena Cecilia langsung menolak panggilan itu. Darren mengerutkan dahi saat melihat ekspresi tegang Cecilia, bahkan wanita itu mengetuk keras meja dengan telunjuk kanannya. "Angkat saja kalau itu telepon penting," ucap Darren yang ikut merasa tak nyaman dengan ketegangan Cecilia. "Ekh ... ini hanya telepon tidak penting." Namun Darren tak percaya, sebab Cecilia sempat salah tingkah dalam menanggapi ucapannya. "Ya sudah, kalau itu bukan telepon penting. Hampir saja saya lupa, kenapa besok kita harus ada di lokasi syuting? Bukannya sudah ada tim Adverting yang bertanggung jawab atas iklan itu?" Bukannya menjawab Cecilia malah melempar tatapan sinis, membuat Darren akhirnya tak tahan untuk mengebrak meja. Pria itu membalas tatapan Cecilia dengan arogansi yang tinggi. "Kamu itu kenapa sih nggak bisa membedakan urusan personal dan pekerjaan? Motor kamu juga sudah saya tanggung perbaikannya, jadi sekarang apa mau kamu?!" tanya Darren dengan suara meninggi. "Mau saya Bapak menyerah saja kalau merasa tidak kuat, setahun itu bukan waktu yang singkat," jawab Cecilia dengan nada menantang. Setelah itu tak ada ucapan yang keluar dari bibir keduanya, sebab mereka melakukan pertarungan mental melalui tatapan mata. Tak ada yang mau mengalah meskipun lima menit sudah berlalu. Sampai terdengar suara ketukan pintu yang disertai suara derap langkah kaki. Orang yang mengetuk pintu langsung meneguk saliva dengan susah payah saat melihat Darren dan Cecilia yang melakukan perang dingin. Sementara pria yang berada di belakang hanya terkekeh kecil, seakan pemandangan yang dia lihat adalah film komedi yang berhasil mengocok perut. Orang yang tadi mengetuk pintu akhirnya memberanikan diri untuk memulai pembicaraan. "Maaf Mbak Cecil. Ini ada Pak Morgan mau bertemu sama Pak Darren." Keduanya langsung memutus kontak mata dan menatap pada satu orang. Morgan. "Hai Cecilia. Aku nggak sangka kalau bertemu kamu di sini," ucap Morgan yang jelas hanya berbasa-basi. Cecilia otomatis mendengus, raut wajahnya pun menunjukkan ketidaksukaan saat mengetahui Morgan menyapanya. Darren yang melihatnya tak tahan untuk berkomentar. "Wah. Ternyata kalian sudah saling mengenal." "Kayaknya nggak ada orang di Sanjaya Group yang nggak kenal sama Cecilia, sekretarisnya Om Giovanni yang paling lama dan kompeten," ucap Morgan dengan senyuman miring. Sementara orang yang mengetuk pintu langsung keluar dari ruangan Darren begitu selesai berpamitan dengan Cecilia. Morgan melangkah mendekati keduanya dengan santai, seolah ruangan itu miliknya sendiri. Jas abu-abu mudanya tampak rapi, kontras dengan senyum tipis yang tak pernah benar-benar hangat di wajahnya. Darren menegakkan punggung, sementara Cecilia kembali memasang ekspresi profesional, meski sorot matanya jelas menyimpan ketidaksukaan pada Morgan. "Ada perlu apa kamu ke sini?" tanya Darren memecah keheningan yang menyesakkan. Morgan melirik sekilas ke arah Cecilia yang menatap ke arah lain sebelum kembali berbicara dengan Darren. "Santai saja. Aku cuma mau ngobrol sebentar sama kamu, 'kan kemarin malam aku belum puas ngobrol sama kamu. Tapi kelihatannya aku datang di waktu yang ... kurang tepat." Cecilia berdiri dari kursinya. "Kalau ini urusan keluarga, saya bisa keluar dulu," ucapnya datar, meski jelas ada tekanan di balik suaranya. "Tidak perlu," potong Darren cepat. "Apa pun yang mau dia bicarakan, sudah pasti bukan urusan keluarga, karena ini jam kerja." Morgan terkekeh kecil. "Kamu sudah mulai terdengar seperti eksekutif sungguhan, Bro." "Langsung ke intinya saja. Kamu ke sini bukan cuma mau basa-basi 'kan?" tanya Darren dengan nada menuntut. Morgan mengangguk pelan, lalu menyandarkan tubuh ke meja kerja Darren tanpa izin. "Sudah aku bilang tadi 'kan kalau aku belum puas bicara sama kamu tadi malam." "Kalau begitu kamu bisa pergi sekarang. Apa kamu nggak lihat kalau aku sedang sibuk," ucap Darren dengan ketus. Morgan langsung berpura-pura sedih, membuat Darren semakin muak dengan tingkah pria itu. Sementara Cecilia yang merasa Morgan mulai mengganggu pekerjaan Darren langsung bertindak. "Mohon maaf, Pak Morgan. Bisakah Bapak menemui Pak Darren saat jam istirahat? Kami sedang ada pekerjaan penting yang harus segera diselesaikan." Morgan beralih menatap Cecilia, wajahnya menunjukkan minat berlebih kepada sekertaris pamannya itu. "Cecilia. Mulutmu masih tajam seperti biasanya, tapi lebih baik kamu gunakan mulutmu itu untuk memuaskan aku." Wajah Cecilia otomatis merah padam saat mendengar ucapan Morgan yang jelas-jelas melecehkannya itu. Namun dia memilih untuk diam, karena tidak ada gunanya meladeni orang yang jelas-jelas menganggap wanita hanya sebatas hiburan. "Gila kamu, Morgan! Bisa-bisanya kamu bicara seperti itu sama seorang perempuan. Apa Tante Georgia nggak pernah mengajarkan sopan santun sama kamu?" Darren spontan berdiri dari kursinya, dia bahkan menunjuk Morgan dengan raut wajah marah. Kursi kerja pria itu bahkan terdorong ke belakang, menciptakan suara kasar yang memecah ketegangan di ruangan itu. Cecilia yang melihat Darren membelanya hanya diam, tak tahu harus merespon apa. "Apa kamu nggak bisa menjaga perkataanmu?" tanya Darren dingin, tapi jelas mengandung ancaman. "Ini di kantor. Dan dia sekertarisnya Ayah, bukan bahan lelucon murahan kamu." Morgan menoleh santai, seolah sama sekali tidak merasa bersalah. "Santai aja, Bro. Aku cuma bercanda." "Tapi bercanda kamu sangat keterlaluan," ucap Darren dengan nada tajam. Cecilia lalu tersadar dari lamunan, menatap Morgan dengan sorot mata tajam. "Kalau Bapak sudah selesai bicara dengan Pak Darren, silakan keluar dari ruangan ini." Morgan terkekeh kecil, lalu mengangkat kedua tangannya seolah menyerah. "Oke, oke. Aku salah. Jangan langsung panas begitu, Cecil." Rahang Darren mengeras, matanya menatap Morgan tanpa berkedip. "Jangan harap aku diam saja saat kamu bersikap kurang ajar sama perempuan." "Terus kamu mau apa sekarang?" tanya Morgan dengan nada santai. "Cepat minta maaf sama Cecilia," jawab Darren dengan nada tegas. "Bagaimana kalau aku tidak mau?" ucap Morgan yang membuat suasana ruangan mendadak terasa lebih berat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD