22. DiBegal

1018 Words
Darren sedikit menurunkan kaca mobilnya. "Kenapa?" tanyanya singkat. Salah satu pria di luar tersenyum tipis, tapi entah kenapa senyum itu terasa tidak tulus. "Mas, mobilnya kenapa berhenti di sini? Bahaya loh kalau sendirian malam-malam begini," ucap pria itu dengan nada ramah yang dipaksakan. Darren hanya mengangguk kecil. "Nggak apa-apa. Saya cuma istirahat sebentar." Pria kedua mendekat sedikit lagi, tapi terlalu dekat sehingga tatapan Darren langsung berubah tajam. Instingnya mengatakan jika kedua pria yang ada di luar mobil memiliki niat buruk padanya. "Mas kelihatan pucat. Turun dulu aja, kita bantu cek mobilnya," ucap pria kedua sambil melirik cepat ke arah jalan kosong di belakang. Darren menelan saliva pelan, dia melihat keadaan sekitar yang memang sepi. Ditambah dengan lampu jalan yang redup, dan suara air hujan yang menetes dari pepohonan. Seketika itulah Darren sadar, kalau dua pria itu tidak terlihat seperti orang yang benar-benar ingin membantu. Tatapan mereka terlalu fokus ke dalam mobil. Tepatnya ke arah jam tangan mahal yang melingkar di pergelangan tangan Darren, dan kursi sebelah tempat ponselnya tergeletak. Refleks Darren langsung kembali menaikkan kaca mobil. Namun terlambat. Salah satu pria menahan kaca dengan tangannya. "Eh… santai aja, Mas. Kita cuma mau bantu," kata pria itu, tapi nada suaranya kini berubah dingin. Jantung Darren berdetak lebih cepat. Tanpa pikir panjang, dia menginjak pedal gas, sehingga tangan pria itu terlepas dari kaca saat mobil melaju mendadak. Darren langsung membelokkan setir, meninggalkan kedua pria itu di belakang. Napasnya memburu, tangannya mencengkeram setir kuat sampai buku-buku jarinya memutih. "b******k!" Darren mengumpat saat melihat ke kaca spion. Kedua pria itu berlari menuju motor yang terparkir di pinggir jalan. "Serius?!" Darren langsung menambah kecepatan mobil ketika motor Kedua pria itu mengejarnya. Mesin mobil meraung saat melaju di jalan basah. Ban sedikit tergelincir, membuat jantung Darren hampir melonjak keluar. Dia harus fokus di tengah keadaan genting seperti ini. Lampu kendaraan lain mulai terlihat di kejauhan, pertanda area yang lebih ramai. Darren mengambil keputusan cepat. Dia membunyikan klakson berkali-kali, menyalakan lampu hazard, menarik perhatian pengendara lain. Motor yang ada di belakangnya mulai menjauh dan tak lama menghilang dari pandangan mata Darren. Mungkin karena area sudah tidak terlalu sepi. Atau mereka takut tertangkap kamera CCTV jalan. Darren baru berani menghentikan mobilnya di parkiran mini market yang bersebelahan dengan kantor polisi. Tangannya gemetar saat memastikan jika dia telah aman dari bahaya. Sial! Ternyata jalanan ibukota sudah tidak aman meskipun belum lewat tengah malam. Pikiran Darren langsung melayang pada ucapan Giovanni beberapa menit lalu. 'Hati-hati bawa mobilnya, Nak …' Darren kembali menelan saliva, karena ternyata Giovanni seperti memberikan peringatan kepada dirinya. Refleks tangan Darren meraih ponsel di kursi sebelah. Dengan terpaksa dia menghubungi Morgan. "Ada apa kamu meneleponku?" tanya Morgan dengan nada heran. "Bisa jemput aku?" tanya Darren. "Hah?! Jemput? Kamu kan bukan anak kecil. Masa harus aku jemput?" Suara penuh sindiran tak lama terdengar, dan Darren pasti akan langsung membalas sindiran itu jika dalam situasi normal. "Morgan. Jangan banyak bicara. Cepat jemput aku sekarang. Aku nyaris jadi korban perampokan." Terdengar hembusan napas panjang di balik sambungan telepon sebelum Morgan kembali berbicara. "Oke. Cepat share lock, aku ke sana sekarang." Darren memijit pelipisnya setelah panggilan itu berakhir. Meskipun Morgan adalah sepupu yang menyebalkan dan suka mengganggunya, harus Darren akui jika pria itu adalah orang yang dapat diandalkan. Jantung Darren yang berpacu cepat membuat napasnya belum stabil. Dia sepenuhnya belum dapat percaya akan kejadian buruk yang menimpanya. Lampu neon mini market di depannya terasa terlalu terang setelah melewati jalanan gelap tadi. Beberapa orang keluar masuk toko, suara kendaraan lalu lalang membuatnya sedikit lebih tenang. Setidaknya di sini ramai, jadi tak mungkin ada penjahat yang nekat melakukan aksinya. Darren membuka pintu mobil dan keluar. Udara dingin langsung menyambut, membuatnya mengusap tengkuk yang basah oleh keringat. Tangan Darren sedikit gemetar saat mengingat aksi kejar-kejaran yang baru saja terjadi antara dirinya dan kedua penjahat itu. "b******k…," gumam Darren yang kini menyalakan sebatang rokok. Pria itu merasa syarafnya yang tegang mulai mengendur ketika menghirup asap nikotin. Meskipun tangannya masih sedikit bergetar, tapi denyut jantungnya mulai stabil. Dia berdiri di dekat mobil, bersandar santai seolah tidak terjadi apa-apa. Tapi sorot matanya terus bergerak, memperhatikan sekitar dengan waspada. Suara motor yang melintas membuat Darren sedikit menoleh. Tubuhnya refleks menegang sebelum sadar itu hanya pengendara biasa. "Tenang Darren …," gumamnya pada diri sendiri. Ponselnya yang ada di tangan tak lama berbunyi, sebuah pesan dari Morgan. 'Aku sudah dekat.' Darren menghela napas lega setelah membacanya. Beberapa menit kemudian, sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan mini market. Lampu depan menyala terang sebelum mati perlahan. Morgan keluar dari mobil dengan langkah cepat. Biasanya pria itu terlihat santai dan menyebalkan, tapi malam ini ekspresinya serius. "Kamu kelihatan kayak habis dikejar setan," kata Morgan sambil menatap Darren dari atas ke bawah. Darren mendecih. "Aku hampir saja dirampok." Morgan mengangkat alis. "Serius? Untung saja kamu nggak apa-apa. Bisa jelaskan detail kejadiannya?" Darren mengangguk pelan. "Ada dua orang. Awalnya mereka pura-pura mau bantu. Dan begitu aku sadar, salah satu dari mereka tahan kaca mobilku. Aku langsung tancap gas dan mereka ngejar pakai motor. Untungnya nggak lama aku sampai di tempat ramai dan mereka nggak kelihatan lagi." Morgan mengangguk paham setelah Darren menghentikan ceritanya. Dia menghampiri sang sepupu yang masih terlihat kacau. "Untung saja kamu nggak apa-apa. Sekarang cepat naik ke mobilku, aku antar pulang," ucap Morgan sembari menepuk bahu Darren. "Bagaimana dengan mobilku?" tanya Darren begitu teringat dengan mobilnya. "Tenang saja, biar aku yang urus," sahut Morgan yang kini mendorong punggung Darren menuju mobilnya. Darren mengembuskan napas panjang, lalu mematikan rokoknya sebelum masuk ke dalam mobil Morgan. Pintu tertutup dengan bunyi pelan. Begitu duduk, tubuh Darren langsung terasa lebih berat, seolah seluruh energi yang tadi menopangnya akhirnya runtuh. Morgan tidak langsung menjalankan mobil. Dia justru menatap Darren beberapa detik, mengamati wajah sepupunya yang biasanya penuh percaya diri tapi kini terlihat lelah. "Kamu kelihatan pucat," ucap Morgan yang segera menyalakan mesin mobil. "Aku hampir dibegal, jadi wajar kalau kelihatan pucat," sahut Darren datar. Morgan menghela napas pendek, lalu melajukan mobilnya keluar dari area parkiran mini market. Beberapa menit pertama diisi oleh keheningan. Hanya suara hujan tipis dan gesekan wiper yang terdengar. Menciptakan suasana canggung di antara sepasang sepupu yang biasanya selalu berseteru itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD