"Mbak Cecil. Saya tinggal dulu, ya? Mau ke kantor, nanti pulang kantor saya ke mari lagi."
Cecilia yang terbangun karena mau ke kamar mandi, menatap sekilas kru wanita itu. "Kalau nggak sempat, nggak usah ke mari, Mbak. Saya sudah lebih segar dari kemarin."
"Tapi—"
"Lihat. Muka saya nggak sepucat kemarin 'kan? Saya tidak enak kalau harus menyita waktu Mbak," potong Cecilia cepat.
Namun bukannya beranjak, kru wanita itu malah menatap Cecilia dengan penuh kecemasan. Cecilia lalu mengembuskan napas panjang, dia merasa semua ini tidak benar.
"Cepat pergi, Mbak. Waktu semakin beranjak siang," ucap Cecilia dengan tatapan penuh ketegasan.
"Baik, Mbak," ujar kru wanita yang lalu meninggalkan ruangan perawatan Cecilia.
Sepeninggal kru wanita itu, Cecilia mengembuskan napas kasar. Dia tidak boleh lagi merepotkan orang lain. Nanti saat dokter yang menanganinya datang untuk visit, Cecilia akan meminta untuk pulang.
Tak lama perut Cecilia terasa tak enak, gadis itu menarik napas panjang sadar jika dia terbangun karena ingin ke kamar mandi.
Cecilia bangkit perlahan dari ranjang, tangannya berpegangan pada sisi tempat tidur. Kepalanya sedikit berkunang, tapi kali ini dia menahan diri untuk tidak gegabah. Dia menunggu beberapa detik sampai rasa pusing itu mereda, barulah melangkah pelan menuju kamar mandi dengan langkah hati-hati.
Selesai dari kamar mandi, Cecilia membasuh wajahnya di wastafel kecil. Pantulan wajahnya di cermin membuat gadis itu terdiam sesaat. Memang tidak sepucat kemarin, tapi mata itu jelas terlihat lelah. Terlalu lelah untuk wanita seusianya.
"Sedikit lagi, Cecil. Bertahan sedikit lagi," gumamnya pada bayangan diri sendiri.
Saat kembali ke ranjang, seorang perawat masuk sambil mendorong troli berisi alat-alat kesehatan.
"Selamat pagi, Mbak Cecilia. Gimana kondisinya hari ini?" tanya perawat itu ramah.
"Lebih baik dari kemarin, Ners. Saya mau minta izin pulang nanti setelah dokter visit," jawab Cecilia jujur.
Perawat itu mengerutkan dahi. "Nanti kita lihat dulu apa kata dokter, ya, Mbak. Soalnya semalam tekanan darah Mbak sempat turun."
Cecilia hanya mengangguk pasrah. Lagi-lagi tentang tubuhnya yang tidak dapat diajak kompromi.
Tak lama kemudian, dokter yang menangani Cecilia datang bersama dua perawat. Setelah melakukan pemeriksaan singkat, dokter itu menatap Cecilia dengan raut wajah serius.
"Kondisi kamu memang membaik, tapi belum stabil sepenuhnya. Saya sarankan minimal diopname satu malam lagi."
Cecilia menelan saliva dengan susah payah. "Dok… kalau rawat jalan saja bagaimana?"
Dokter itu tersenyum tipis. "Kalau kamu memaksakan pulang sekarang, besar kemungkinan kamu akan kembali ke IGD dalam waktu dekat. Tubuh kamu sudah terlalu lama dipaksa bekerja tanpa istirahat."
Ucapan itu menusuk tepat di titik terlemah Cecilia.
"Setidaknya satu malam lagi. Setelah itu kalau kondisi stabil, besok sore kamu boleh pulang," lanjut dokter tersebut.
Cecilia terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk pasrah. "Baik, Dok."
Setelah dokter pergi, Cecilia menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang. Pandangannya lalu jatuh pada ponsel di atas meja kecil. Ada satu pesan masuk yang belum dibaca sejak subuh.
Nama Edward, adik pertamanya tertera pada layar. Cecilia mengembuskan napas berat, dengan ragu akhirnya dia membuka pesan itu.
'Kak Cecil. Mama marah-marah dari kemarin karena Kakak belum transfer. Kakak nggak usah transfer kalau memang nggak ada uangnya.'
'Orang uang dari Kakak kebanyakan dipakai buat manjain Jordan. Aku kasihan lihat Kakak yang harus kerja keras buat menuhin semua keinginan Mama.'
'Kak Cecil juga nggak usah khawatir. Aku mulai ambil kerja freelancer, upahnya lumayan buat biaya jajan aku sebulan.'
Cecilia membaca pesan itu berulang kali. Setiap kalimat yang ditulis Edward terasa seperti beban yang ditambahkan di pundaknya yang sudah hampir runtuh.
Sudut bibir Cecilia terangkat getir, otaknya berpikir cepat. Jika Edward mulai mengambil pekerjaan sampingan, apakah Rebecca menyetujuinya?
Tangan Cecilia mengepal di atas selimut. Dia mengerti keinginan Edward untuk membantu keluarga mereka, tapi dia juga tak bisa membiarkan adiknya itu mulai mengambil tanggung jawab yang telah Cecilia lakukan selama ini.
Ponsel Cecilia m kembali berdering. Sebuah pesan masuk yang kali ini dari Rebecca.
'Jangan pura-pura nggak baca pesan Mama. Uang sekolah adik-adikmu harus dibayar hari ini. Mama nggak mau dengar alasan lagi.'
Napas Cecilia tercekat. Dadanya terasa sesak, seperti ada tangan tak kasatmata yang menekan kuat-kuat.
"Mah… aku ini juga manusia," bisik Cecilia lirih.
Air mata yang sejak tadi dia tahan akhirnya jatuh juga, membasahi pipi. Cecilia buru-buru mengusapnya, seolah takut ada orang yang melihat kelemahannya.
Beberapa menit berlalu sebelum Cecilia kembali menegakkan punggung. Tangannya meraih ponsel lagi, kali ini membuka aplikasi mobile banking. Saldo yang tertera membuat matanya melebar Rp. 25.500.000,-.
Bagaimana bisa? Padahal kemarin pagi, saldo tabungannya tersisa Rp. 5.000.000,-.
Tak lama ponsel yang ada dalam genggamannya berdering, menarik kesadaran Cecilia. Dia mengerutkan dahi saat melihat nama teman lamanya tertera pada layar.
"Cecilia. Apa kabarnya? Maaf baru nelepon kamu lagi," suara wanita yang riang langsung terdengar.
"Kabarku baik-baik aja. Kamu juga apa kabar?" Cecilia balik bertanya basa-basi.
"Aku juga baik. Oh iya, aku mau bayar hutang 2 tahun yang lalu," jawab sang teman yang membuat Cecilia terdiam beberapa detik, seolah memastikan apa yang baru saja dia dengar.
"Hutang…?" ulang Cecilia dengan nada tak percaya.
"Iya. Hutang waktu aku minjem uang ke kamu dua tahun lalu. Aku baru bisa balikin sekarang. Maaf banget kalau lama, ya, Cecil," ujar sang teman dengan nada bersalah.
Perlahan kepingan demi kepingan mulai tersambung di kepala Cecilia. Nominal saldo di layar ponsel, waktu dua tahun lalu dan jumlah hutang yang terasa asing tapi familiar.
"Itu… kamu yang transfer barusan?" tanya Cecilia dengan nada tak percaya.
"Iya. Barusan banget aku transfer. Hutang aku dua puluh juta, terus aku tambahin lima ratus ribu. Uangnya sudah masuk 'kan?"
Air mata yang tadi sempat berhenti, kini kembali menggenang. Kali ini bukan karena sesak, melainkan campuran antara lega dan lelah yang menumpuk terlalu lama.
"Iya udah masuk," jawab Cecilia singkat. "Makasih… makasih banyak."
"Justru aku yang harus terima kasih karena kamu udah bantuin aku. Aku malah ngerasa bersalah baru bisa bayar hutangku sekarang," ucap sang teman disertai tawa kecil.
"Pokoknya aku mau bilang makasih," sahut Cecilia.
"Terima kasih kembali. Aku harus kembali kerja. Kapan-kapan kita ketemu, ya."
Setelah percakapan itu berakhir, Cecilia menatap layar ponselnya lama. Dadanya yang sejak tadi terasa sesak, kini sedikit mengendur. Akhirnya dia dapat menarik napas dengan lega.
"Terima kasih, Tuhan,: bisik Cecilia pelan.
Tanpa menunda lagi, Cecilia kembali membuka aplikasi mobile banking dan mulai mengetik nominal transfer. Jarinya sempat ragu beberapa detik sebelum akhirnya menekan tombol kirim.
Notifikasi sukses muncul di layar.
Cecilia memejamkan mata, bahunya merosot pelan seiring napas yang dia lepaskan. Masalah belum selesai sepenuhnya, tapi setidaknya satu beban besar sudah terangkat.
Namun perasaan lega itu kembali terusik saat ponselnya kembali berdering. Cecilia meringis saat mengetahui Rebecca yang meneleponnya.
"Mau apa lagi Mama nelepon aku? Aku 'kan udah transfer?"