19. Kathleen Merajuk

1036 Words
Darren meninggalkan kantor tepat jam 12 siang, perutnya lapar dan dia ingin makan siang dengan Kathleen. "Ada untungnya juga Cecilia nggak masuk kantor, aku bisa pulang sesuka hati," gumam Darren sembari meregangkan tubuhnya saat menunggu lift. Tak lama terdengar bunyi lift terbuka, Darren bersiap untuk masuk. Namun saat melihat Morgan keluar dari dalam lift, membuat pria itu langsung menghentikan langkahnya. "Kebetulan sekali aku mau ketemu kamu. Ada yang mau aku bicarakan, ini penting." Darren mengerutkan dahi, rasanya sangat jarang dia melihat Morgan bersikap serius seperti ini. "Mau bicara apa? Aku mau makan siang dengan Khatleen—" Morgan memotong kalimat Darren yang belum selesai. "Aku juga nggak akan mau ke sini kalau nggak ada hal yang penting. Jadi ayo kita bicara sekarang." "Oke. Kita bicara sekalian makan siang, perutku sudah lapar," ucap Darren yang kini masuk ke dalam lift, dengan disusul Morgan. Beberapa saat kemudian, keduanya sudah berada di restoran Korea yang terletak di seberang gedung kantor. Suasana restoran lumayan padat di saat jam makan siang ini. Di meja makan keduanya sudah terhidang beberapa jenis menu makanan. "Apapun yang mau kamu bicarakan, lakukan setelah selesai makan. Aku nggak mau merusak selera makanku dengan bertengkar dengan." Morgan hanya tertawa saat mendengar peringatan Darren, merasa jika sang sepupu terlalu berlebihan. "Sial! Kenapa ini pedas sekali?" Morgan menoleh ke arah Darren yang mengeluarkan peluh berlebihan saat memakan tteoboki. Seringai mengejek segera terukir pada bibirnya. "Masa pedas? Aku sering makan itu dengan level yang lebih pedas," ucap Morgan dengan nada mengejek dan sembari bertopeng dagu. Darren tak dapat membalas, sebab lidahnya mulai terasa terbakar. Bahkan dia sampai menghabiskan es jeruk agar rasa pedas itu berkurang. "Aku sudah selesai makan, jadi lebih baik kita mulai pembicaraan ini," ucap Darren setelah menyugar rambutnya ke belakang. "Tidak sabaran sekali," sindir Morgan yang dibalas tatapan tajam oleh Darren. "Baiklah. Kemarin aku ke rumah sakit untuk menjenguk model yang kecelakaan itu, dan tebak siapa yang aku lihat di sana?" "Nggak usah bertele-tele, Gan. Cepat katakan saja siapa yang kamu lihat di rumah sakit. Jangan bilang kamu juga lihat Cecilia, kalau iya, bercandamu ini sudah keterlaluan." Darren yang kesal akhirnya mendesak Morgan, membuat senyum jenaka pria itu hilang. "Aku lihat Om Giovanni dan Tante Fanny. Apa mungkin penyakit Om Giovanni kambuh lagi?" "Aku kan sudah bilang dari kemarin kalau Papa sakit. Kenapa kamu masih tanya lagi?" ucap Darren setelah mengembuskan napas panjang. "Kamu yakin Om Gio cuma sakit biasa? Soalnya muka Om Gio kelihatan pucat banget," ucap Morgan yang masih meragukan ucapan Darren. "Gan. Sebaiknya kita akhiri pembicaraan omong kosong ini. Aku mau ketemu Kathleen dan membantunya pindahan." Morgan akhirnya berhenti, sadar jika kecurigaannya kemarin tak mendasar. Dia bahkan tak menjawab ketika Darren berpamitan. "Tapi aku tetap merasa kalau ada apa-apa sama Om Gio," gumam Morgan dengan pandangan menerawang. *** "Kenapa mukamu kelihatan kesal, Babe?" tanya Khatleen begitu Darren memasuki kamar hotelnya. "Hanya sedikit berselisih dengan sepupuku," jawab Darren singkat. Khatleen tertawa saat melihat raut wajah Darren yang masam, dia merasa sang kekasih mirip seperti balita yang sedang merajuk. "Jangan tertawa, Khat. Dan sekarang ayo cepat tinggalkan kamar ini sebelum kita kemalaman sampai tempat kost kamu," tegur Darren yang direspon anggukan kepala oleh Khatleen. 15 menit kemudian, keduanya meninggalkan hotel setelah memastikan tidak ada barang Khatleen yang tertinggal. Lalu lintas yang padat membuat penat kepala Darren yang sedang mengemudi, dia memang telah memutuskan untuk tidak memakai supir pribadi. Alasannya tentu memudahkan mobiltasnya tanpa diketahui oleh Giovanni maupun Cecilia. Darren menggertakkan giginya pelan ketika klakson bersahut-sahutan terdengar dari berbagai arah. Lampu merah terasa lebih lama dari biasanya, sementara antrean kendaraan nyaris tak bergerak. "Jakarta selalu begini, ya," keluh Kathleen sembari melirik ke luar jendela. Darren hanya mendengus. "Kalau jam segini, jangan harap jalanan bersahabat." Beberapa menit berlalu, mobil Darren akhirnya bergerak perlahan dan tiba di depan rumah kos Kathleen tepat jam 3 sore. Darren akhirnya dapat menghela napas lega begitu mematikan mesin. "Besok aku bantu kamu beresin kost kamu, ya," ucap Darren. "Makasih, Babe." Kathleen yang senang refleks mencium pipi Darren, membuat pria itu tersentak. "Khat. Bisa nggak kamu jangan cium aku di depan umum seperti ini? Kita tidak sedang di Boston," ucap Darren dengan nada serius. Khatleen yang belum pernah ditegur oleh Darren, tentu merasa terkejut, ekspresi wajah gadis itu memerah karena malu. Namun itu tak berlangsung lama, sebab Khatleen segera memasang ekspresi merajuk. Gadis itu akan menunjukkan jika Darren tidak dapat seenaknya mengatur dirinya. Kathleen menarik kembali tangannya, lalu melipat kedua lengan di d**a. Bibir gadis itu mengerucut, jelas menahan kesal. "Jadi sekarang aku harus jaga jarak sama kamu, gitu? Kamu malu kelihatan dekat sama aku?" tanyanya dengan nada dingin. Darren menghela napas panjang. Dia tahu betul tanda-tanda itu, Kathleen sedang merajuk dan jika dibiarkan, urusannya akan semakin panjang. "Bukan begitu, Khat," ucapnya lebih pelan. "Aku cuma nggak mau jadi bahan tontonan orang. Di Jakarta beda sama di Boston." Kathleen menoleh, menatap Darren tajam. "Tapi kamu nggak pernah keberatan waktu aku cium kamu di bandara Boston. Bahkan kamu yang duluan meluk aku di depan semua orang." "Itu situasinya beda. Orang Asia lebih mementingkan norma ketimuran, dan ciuman di depan umum itu dianggap nggak sopan," jelas Darren yang berusaha menahan emosinya. "Orang Korea dan Jepang saja ciuman di depan umum, bukannya kalian sama-sama orang Asia?" tanya Khatleen dengan nada tajam. Darren mengusap kasar wajahnya, bingung bagaimana harus menjelaskan kepada Khatleen jika suasana di Indonesia sangat berbeda dengan Korea dan Jepang. "Khat, dengar aku," ucap Darren dengan nada pelan. “Korea dan Jepang itu beda. Di sini orang-orang masih suka mencampuri urusan pribadi orang lain. Kesalahan sedikit saja bisa menjadi asupan gosip yang menarik." Kathleen terdiam sejenak, meskipun raut wajahnya belum sepenuhnya melunak. "Jadi kamu lebih mikirin omongan orang-orang daripada perasaanku?" "Bukan begitu," Darren menggeleng cepat. "Aku cuma mau kamu merasa aman dan nyaman tinggal di sini. Jadi bahan gosip jelas-jelas nggak akan menguntungkan buat kamu." "Persetan dengan gosip! Aku nggak peduli orang-orang mau berkata apa tentangku. Aku nggak kenal mereka dan nggak berniat kenalan juga," ucap Kathleen setelah mendengus kecil. Darren menghela napas panjang, dia menatap pasrah Kathleen yang kukuh dengan pendapatnya. "Khat... Aku capek dan nggak mau ribut," ucap Darren dengan nada serius. Namun bukannya mengerti, Kathleen malah menganggap Darren menyebalkan. Gadis itu menatap tajam sang kekasih sebelum kembali menyemburkan kembali amarahnya. "Aku benci kamu!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD