"Aku harus kuat."
Air mata menggenang di pelupuk mata, tapi Cecilia menahannya. Dia segera mengusap wajah, memastikan agar riasannya tidak rusak.
Menangis di kantor bukan pilihan yang bijak, apalagi di gedung yang penuh dengan orang-orang yang selalu menilai dari luar.
Cecilia lalu mengambil swafoto hanya ingin melihat kondisi wajahnya seperti apa. "Sepertinya aku harus menambah blush on," gumamnya tanpa sadar.
Namun tak lama Cecilia mendesah saat teringat jika alat make up-nya tertinggal di tas. Akhirnya dengan terpaksa dia turun dari lantai tertinggi gedung kantor untuk melanjutkan pekerjaannya. Semoga saja tidak ada yang menyadari rona pucat pada wajahnya.
"Mbak Cecil!"
Saat masuk ke ruangan para sekretaris, Cecilia disambut teriakan seorang pria yang lebih muda beberapa tahun darinya.
"Ada apa kamu sampai berteriak seperti itu? Dan kenapa juga muka kamu tegang banget?" tanya Cecilia sembari meletakkan barang-barangnya ke atas meja.
"Pak Darren dari tadi nyariin Mbak Cecil."
Melihat wajah sang junior yang tegang membuat Cecilia memiliki dugaan kalau Darren mengamuk.
"Pak Darren ngamuk-ngamuk, ya?" tanya Cecilia yang direspon anggukan kepala oleh sang junior.
"Oke. Aku ke ruangan Pak Darren sekarang," ucap Cecilia.
Dia menarik napas dalam-dalam sebelum melangkah menuju ruangan Darren.
Begitu tiba di depan pintu ruangan Darren, Cecilia berhenti sejenak. Tangannya terangkat, ragu untuk mengetuk. Dari dalam, terdengar suara kursi digeser dengan kasar disusul helaan napas berat. Tanpa menunggu lebih lama, Cecilia akhirnya mengetuk pintu.
"Masuk!" suara Darren terdengar keras.
Cecilia membuka pintu dan melangkah masuk. Darren berdiri membelakanginya, kedua tangan pria itu bertumpu di meja kerja. Kemeja yang dikenakan pria itu sedikit kusut, berbeda dari penampilannya sebelum bertemu Morgan.
"Kenapa Bapak mencari saya? Bukannya tadi saya sudah bilang ke Bapak untuk meneruskan pekerjaan masing-masing," tanya Cecilia yang berusaha menjaga nada suaranya tetap datar dan profesional.
Darren menoleh cepat. Sorot matanya tajam, membuat alarm kewaspadaan Cecilia menyala. Pria itu seperti sudah siap berdebat lagi, dan Cecilia ragu apa kali ini dia dapat menghadapi Darren atau tidak.
"Saya mau pulang cepat hari ini, sekitar jam 3, jadi saya tidak mau ada pekerjaan tambahan yang menyusul," jawab Darren.
"Saya tidak akan melakukan itu jika jadi Bapak. Masih banyak yang harus Bapak pelajari, tapi bisa-bisanya Bapak menganggap remeh pekerjaan ini," ucap Cecilia dengan nada sinis.
"Kamu berlebihan sekali, Cecil. Pokoknya saya harus cepat pulang, terserah kamu mau bilang apa," sahut Darren.
"Saya berlebihan? Justru Bapak yang menganggap semua pekerjaan Pak Giovanni remeh. Apa ini ada hubungannya dengan kekasih Bapak yang disinggung Pak Morgan sebelumnya? Kalau benar, lebih baik Bapak mundur sekarang daripada nanti tidak dapat bertindak profesional."
Cecilia yang bertambah kesal langsung menyemburkan amarahnya. Tak peduli jika Darren akan bertambah kesal.
Rahang Darren mengeras, sorot matanya menggelap, jelas tidak menyangka Cecilia akan menyerang tepat langsung ke sasaran.
"Memang kenapa kalau aku mau pulang cepat untuk bertemu dengan pacarku? Ingat Cecil, kamu itu cuma bawahan Papa, yang otomatis akan menjadi bawahanku suatu saat nanti. Jadi jangan melanggar batas privasiku."
"Kasihan sekali Pak Giovanni punya anak yang tak bertanggung jawab seperti Bapak," sindir Cecilia yang membuat wajah Darren memerah.
"Apa bedanya sama kamu yang berani menyindir atasanmu? Jika saya tak bertanggung jawab maka kamu tidak memiliki etika."
Jika saja ponsel Darren yang tergeletak di atas meja tak berbunyi, mungkin perdebatan keduanya akan semakin memanas.
Dengan gerakan kasar Darren mengambil ponselnya, raut wajahnya tiba-tiba melembut saat mengetahui Kathleen yang menelepon.
"Babe. Kamu bisa cepat ke sini? Aku mau lihat tempat kost, sudah dikabarin sama temanku kalau ada tempat yang kosong. Aku nggak berani ke sana sendirian."
Cecilia berdecak kesal saat mendengar suara wanita yang mendayu-dayu, perasaannya berkata jika kekasih Darren sengaja bertingkah manja hanya untuk mendapatkan perhatian.
Ditambah saat melihat wajah sumringah Darren, membuat Cecilia mencibir kelakuan bodoh yang diperlihatkan oleh pria itu.
"Tentu bisa. Tunggu aku ke sana sekarang," ucap Darren.
"Aku tunggu."
Setelah itu Darren mematikan sambungan telepon dan menatap tajam Cecilia. "Kamu dengar sendiri kalau pacar saya membutuhkan bantuan. Jadi saya akan pergi sekarang juga."
"Terserah Bapak saja," ucap Cecilia dengan nada datar bercampur lelah.
Beberapa menit kemudian Darren sudah berada di dalam mobilnya, mengemudi sendirian. Dia berkata kepada sopirnya agar pulang cepat karena ingin menemani sang kekasih melihat tempat kost.
Suasana jalan raya mulai padat pada siang menjelang sore ini. Darren merasa penat, sebab sudah 8 tahun dia tidak mengemudi. Dengan susah payah akhirnya pria itu tiba di hotel.
"Akhirnya kamu datang juga, aku udah nungguin lama, nih. Ayo cepat kita pergi," ucap Kathleen saat Darren baru saja memasuki kamar hotelnya.
Kepala Darren semakin terasa penat, dan detik itu juga dia menyesal mengapa meminta sopirnya untuk pulang terlebih dahulu.
"Khat. Bisa nggak kita pergi sebentar lagi. Lagian sekarang juga masih jam setengah 4, masih ada waktu buat pergi ke tempat kost itu," ucap Darren dengan suara lemas.
Namun Kathleen malah merajuk, sebab dia sudah berjanji dengan temannya jika akan datang jam 4 sore. Dia mengembuskan napas keras, lalu menyilangkan tangan di depan d**a. Wajah cantiknya langsung berubah masam, jelas tidak menyukai penolakan sekecil apa pun.
"Babe, kamu itu kenapa, sih? Nggak biasanya kamu nolak permintaan aku. Lagian aku nggak enak sama temanku, dia sudah meluangkan waktu untuk bertemu denganku," omel Kathleen dengan nada manja bercampur kesal.
Darren memijat pelipisnya. Jas yang dikenakannya sudah dia lepas dan diletakkan sembarang di sofa. Kemejanya terasa menempel di kulit, keringat dingin mulai muncul di tengkuknya.
"Aku bukan nggak mau nemenin kamu, Khat. Aku cuma minta waktu sebentar. Hari ini aku cape banget di kantor. Itu semua karena sekertaris papaku," jawab Darren, berusaha menahan emosi.
Kathleen mendengus. "Apa hubungannya pekerjaan kamu dengan sekertaris itu. Babe. Kamu itu bos, jadi kamu harus menunjukkan kekuasaan kamu di depan sekertaris itu."
Darren terdiam dan menyadari kebenaran ucapan Kathleen. Detik itu juga dia menyadari kebodohannya yang sempat tunduk di bawah perintah Cecilia.
"Kamu benar, Khat. Seharusnya aku nggak boleh membiarkan Cecilia menginjak-injak aku," ucap Darren setelah menarik napas panjang.
"Cecilia? Jadi sekertaris papamu itu perempuan, Babe?" tanya Kathleen dengan nada terkejut.
Gadis bermata biru itu refleks mengepalkan tangan, merasa jika Cecilia akan menjadi penghalang baginya di masa mendatang.
"Iya. Dia perempuan dan yang menyebalkan Papa seperti percaya sekali sama Cecilia," jawab Darren dengan nada kesal saat mengingat perdebatannya dengan Cecilia.
"Apa kamu yakin jika sekertaris itu dapat dipercaya? Aku kok punya firasat buruk mengenai perempuan itu." Bahkan Kathleen tak sudi menyebut nama Cecilia, suatu hal yang tak disadari Darren.
"Kenapa kamu seperti membenci Cecilia padahal kalian belum bertemu?" tanya Darren yang membuat Kathleen tersentak.
'Khat. Chill down, jangan sampai membuat Darren curiga,' gumam Kathleen di dalam hatinya.
"Ekh ... bukannya gimana, Babe. Aku banyak melihat contoh temanku yang hancur karena sekertaris kesayangan. Kebanyakan sekertaris itu sengaja menjual tubuhnya untuk mendapatkan sesuatu yang lebih besar."
Darren yang terlalu mencintai Khatleen, tentu saja mendengar ucapan sang kekasih tanpa berpikir panjang, bahkan dia ikut-ikutan melabeli Cecilia sebagai wanita tak benar karena ucapan Kathleen.
"Khat. Terima kasih atas peringatannya. Aku akan lebih berhati-hati sama Cecilia. Oh iya. Kita berangkat sekarang sebelum temanmu menunggu lama."
Wajah Kathleen seketika berbinar saat mendengarnya. Setidaknya dia telah menyingkirkan satu penghalang di dalam rencananya.