Sementara itu di kantor, Cecilia kembali ke ruang sekretaris dengan langkah berat. Para rekannya yang melihat hanya membiarkan tanpa mengajak bicara, sebab mereka tahu betapa seramnya wanita itu jika sudah marah besar.
Jari Cecilia mengetik cepat di laptop, mencoba menenggelamkan pikirannya pada setumpuk berkas. Namun bayangan Darren yang tersenyum saat menerima telepon Kathleen terus terlintas di benaknya.
"Bodoh," gumam Cecilia pelan, entah ditujukan pada Darren atau dirinya sendiri.
Tak lama kemudian, ponselnya berdering. Nama Giovanni tertera di layar. Cecilia memijit pelipisnya sebelum menerima panggilan itu.
"Ya, Pak Giovanni."
"Cecil, Darren ke mana? Saya dari tadi cari dia, tapi nggak ketemu, saya telepon juga nggak diangkat," tanya Giovanni.
"Pak Darren pulang lebih awal, Pak. Katanya ada urusan pribadi," jawab Cecilia.
"Urusan pribadi apa?" tanya Giovanni setelah terdiam beberapa saat.
"Saya juga kurang tahu, Pak. Tapi tadi Pak Darren dapat telepon dari pacarnya, dan pergi setelah itu," jawab Cecilia dengan nada datar.
"Pacarnya? Jadi dia lebih memilih pacarnya daripada pekerjaan? Anak itu benar-benar ...," ucap Giovanni menggantung ucapannya.
Meskipun pria itu tak lagi berbicara, Cecilia tak berani untuk bicara sebab dia tahu jika Giovanni sedang menyusun kalimat.
"Ya sudah. Kamu bisa pulang sekarang, Cecil. Kamu butuh istirahat yang cukup setelah beberapa hari ini lembur."
Cecilia mengernyit saat mendengar napas Giovanni yang tersengal. Namun belum sempat dia berpikir lebih lanjut suara Giovanni kembali terdengar sebelum panggilan itu terputus.
Cecilia menatap lama layar ponselnya yang kini menghitam seluruhnya. Suara napas Giovanni yang tersengal tadi menyentil rasa penasarannya.
Namun itu tak berlangsung lama, sebab Cecilia teringat jika Giovanni sedang dalam masa pemulihan. Ditambah dengan usia pria itu yang tak lagi muda. Jadi wajar saja gampang merasa lelah.
"Jangan berpikir terlalu jauh, Cecil," gumam Cecilia yang kembali melanjutkan pekerjaannya.
Setengah jam berlalu sampai Cecilia menoleh saat merasa sentuhan pada bahunya. Dia menoleh dan melihat seorang wanita yang menatapnya penuh kecemasan.
"Maaf Mbak Cecil. Barusan Pak Gio telepon dan tanya Mbak Cecil masih ada di kantor apa sudah pulang. Kalau masih ada di kantor, Mbak Cecil disuruh pulang buat istirahat."
Cecilia hanya dapat tersenyum tipis saat rekannya selesai berbicara. Tadinya dia ingin mengabaikan ucapan Giovanni dan melanjutkan pekerjaannya setidaknya sampai jam 7 malam.
Sebab jika dia pulang cepat, bukannya istirahat, Cecilia akan merasa semakin lelah karena tenggelam dalam pikirannya.
"Mbak Cecil lebih baik pulang sekarang, muka Mbak Cecilia kelihatan cape. Jangan maksain diri, nanti kalau sakit Mbak sendiri yang susah," ucap sang rekan menarik Cecilia dari lamunannya.
"Oke. Aku pulang sekarang. Terima kasih sudah mengingatkan," ucap Cecilia.
Sang rekan mengangguk lalu kembali ke mejanya, meninggalkan Cecilia dengan perasaan tak nyaman yang menghimpit d**a.
Permintaan Rebecca tiba-tiba saja terlintas di benaknya, membuat wanita itu meremas kuat kepalanya. Tabungannya tersisa tiga juta, tapi yang jadi masalahnya dia baru gajian sekitar 15 hari lagi.
Bertahan dengan uang 1 juta di Jakarta sangat sulit, apalagi Cecilia juga yakin Rebecca akan kembali meminta uang dalam waktu dekat setelah dia mentransfer uang itu.
Cecilia menutup laptopnya perlahan. Suara klik yang pelan terasa seperti penutup dari hari yang melelahkan. Dia meraih tas, lalu berdiri dari kursinya.
Beberapa pasang mata sempat melirik, tapi tak satu pun yang benar-benar menyapa. Semua tahu, saat wajah Cecilia setenang itu justru artinya dia sedang berperang dengan pikirannya sendiri.
Di dalam lift, Cecilia menyandarkan punggung ke dinding yang dingin. Pintu besi perlahan menutup, menyisakan pantulan wajahnya sendiri di cermin lift.
Mata Cecilia terlihat lelah, bukan karena kurang tidur, melainkan karena terlalu sering dipaksa kuat dalam menghadapi kerasnya dunia.
"Dua juta," gumam Cecilia lirih.
Angka itu berputar-putar di kepala Cecilia, bercampur dengan bayangan wajah Rebecca yang selalu menuntut tanpa pernah bertanya apakah dia sanggup atau tidak.
Dada Cecilia tiba-tiba terasa sesak, dia menutup mata sejenak sembari menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Tapi bukannya membaik, rasa sesak itu kian menghantam dadanya, memancing rasa mual yang begitu hebat.
Rasa mual itu memuncak saat lift berhenti di lantai dasar. Cecilia terpaksa menahan diri dengan menggenggam erat tasnya, berjalan keluar dengan langkah sedikit goyah.
Begitu pintu lift terbuka sempurna, udara dingin lobi tak banyak membantu. Kaki Cecilia terasa lemas, bahkan penglihatannya berkunang-kunang. Dia menepi ke dekat dinding, menunduk sambil menekan dadanya sendiri.
"Cecil… tenang… kamu cuma capek dan maag kamu kumat," bisik Cecilia berulang, mencoba menenangkan diri.
Namun tubuhnya seolah tak mau diajak bekerja sama. Napasnya tersengal, perutnya bergejolak hebat. Cecilia bergegas menuju toilet, menutup mulut dengan tangan. Begitu masuk ke dalam, dia langsung membungkuk di depan wastafel, memuntahkan isi perut dengan tubuh gemetar.
Beberapa saat kemudian, Cecilia bersandar di dinding toilet. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Tangannya gemetar saat meraih ponsel dari dalam tas. Dia menatap layar dengan ragu. Nama Rebecca terlintas di kepalanya, disusul Darren … lalu Giovanni.
Cecilia menggeleng pelan. "Jangan … ngerepotin orang lain," gumamnya lirih.
Setelah membasuh wajah, Cecilia keluar dari toilet dengan langkah lebih pelan. Dia memutuskan untuk langsung pulang dan segera tidur.
Di halte bus, Cecilia duduk seorang diri. Suasana halte ramai, tapi anehnya berbanding terbalik dengan kesunyian yang dia rasakan.
Ponselnya bergetar, disusul satu pesan masuk dari sang ibu.
'Jadi kapan kamu mau transfer? Mama butuh uang itu sekarang.'
Cecilia menatap lama layar ponselnya. Jemarinya menegang. Dadanya kembali terasa sesak, tapi kali ini bukan hanya karena lelah. Melainkan karena amarah yang tertahan.
'Kapan Mama berhenti minta uang sama aku?' batinnya pahit.
Tangan Cecilia mengetik balasan, lalu menghapusnya. Mengetik lagi, menghapus lagi. Begitu sampai lima menit berlalu. Pada akhirnya dia hanya mematikan layar ponsel dan memasukkannya kembali ke tas.
Mata Cecilia terasa panas, dia menggeleng cepat mencegah agar buliran air tak tumpah dari matanya.
Bus datang beberapa menit kemudian. Cecilia naik dan duduk di dekat jendela. Sepanjang perjalanan, kepalanya bersandar pada kaca yang dingin, matanya menatap kosong deretan gedung pencakar langit yang berdiri tegak.
Tanpa sadar, bayangan Darren kembali muncul. Senyum yang tercipta saat menerima telepon Kathleen.
"Enak ya… hidup kamu. Nggak perlu mikirin cari uang untuk keluarga dan bertahan hidup," gumam Cecilia lirih.
Sesampainya di kos, Cecilia membuka pintu kamarnya yang sempit dan sunyi. Dia menyalakan lampu, meletakkan tas sembarangan, lalu duduk di tepi ranjang.
Tubuhnya akhirnya menyerah. Air mata yang sejak tadi ditahan tumpah begitu saja. Cecilia menutup wajahnya dengan kedua tangan, bahunya terguncang pelan.
Di tengah isak yang tertahan, ponselnya kembali bergetar. Kali ini bukan Rebecca, melainkan Giovanni.
Cecilia terkejut. Tangannya refleks menjauh dari ponsel, seolah takut menyentuhnya. Panggilan itu berhenti … lalu masuk lagi.
Dengan napas masih tersengal, Cecilia akhirnya mengangkatnya.
"Pak Giovanni. Ada apa Bapak menelepon?"