"Cecil… Apa kamu sudah sampai di rumah?"
Jika saja Cecilia memperhatikan, nada suara Giovanni terdengar berat dan pelan dari biasanya.
"Sudah, Pak," jawab Cecilia dengan suara yang agak serak.
Ada jeda cukup lama di seberang sana, sampai terdengar hembusan napas berat. "Syukurlah. Saya cuma memastikan saja apa kamu sudah pulang atau belum. Suara kamu terdengar serak. Apa kamu sedang sakit?"
Cecilia menelan saliva saat mendengar nada khawatir Giovanni, tanpa sadar air matanya kembali mengalir. Orang lain saja dapat peduli padanya seperti ini, tapi mengapa keluarganya sendiri tidak.
Rumah yang seharusnya memberi rasa aman, malah terus menerus memberi luka yang tak akan pernah kering di hati Cecilia.
"Saya tidak sakit, Pak. Hanya kurang minum," ucap Cecilia yang jelas-jelas adalah kebohongan. Kepala dan dadanya kini terasa tak nyaman karena terlalu banyak menangis.
Giovanni menghela napas pelan. "Saya tahu kalau tidak berhak ikut campur atas hidup kamu. Hanya saja kamu harus lebih memperhatikan dirimu sendiri. Nggak ada yang bisa menjaga dirimu sendiri selain kamu."
"Baik, Pak. Saya akan lebih memperhatikan diri sendiri," ucap Cecilia dengan lidah kelu, karena tahu jika itu adalah hal yang mustahil untuk dia lakukan.
"Cecil. Saya tutup dulu teleponnya. Kamu juga cepat istirahat, bukannya besok kamu dan Darren harus mengawasi proses syuting iklan makanan "Erdnuss-Schokolade"? Pastikan Darren memahami proses syuting iklan itu."
"Baik, Pak. Saya jamin Pak Darren akan cepat mengerti."
Giovanni lalu memutuskan panggilan telepon, meninggalkan Cecilia yang terdiam lama sambil menatap ponselnya.
Tak lama perutnya terasa lapar, namun Cecilia memilih untuk tidur. Dia sudah kehabisan tenaga bahkan untuk sekadar memesan makanan via online.
***
Sementara di tempat lain, Darren dan Kathleen sudah berada di tempat kost yang akan dihuni oleh wanita itu.
Darren memandangi bangunan kost 4 lantai dengan ekspresi menilai, dia tak ingin sang kekasih tinggal di tempat yang tidak layak dari segi kualitas ataupun keamanan.
Tak lama Darren mengangguk setuju saat memastikan tempat kost itu memenuhi dua kriteria tersebut, meskipun berada di daerah yang lumayan padat.
Mulut Darren mulai terasa asam, dan dia teringat jika belum merokok seharian ini. Sebungkus rokok dia keluarkan dari saku vest-nya. Namun saat akan menyulut rokok, Darren menyadari jika dia berada di kedai mie.
Meski Darren tidak menyukai kedai mie ini, dia tidak ingin menyusahkan orang banyak dengan asap nikotin yang dia ciptakan. Jadi sebagai gantinya, Darren mengunyah permen karet.
Semua tingkah laku Darren tidak luput dari pengamatan teman Khatleen dan membuat wanita itu terpesona.
Kathleen bukannya tak menyadari sang teman yang mengagumi Darren, tapi untuk saat ini dia membiarkan saja sembari mengamati gerak gerak sang teman yang dikenalnya dari media sosial kurang lebih 4 tahun itu.
"Jadi gimana? Apa kamu suka tempat ini, Khat?" tanya sang teman sembari mencuri-curi pandang pada Darren.
"Aku suka tempat ini. Bisa kamu panggilkan pemilik kost ini?" jawab Kathleen yang segera memasang senyum lebar.
"Oke. Sebentar akan aku panggil, kamu tunggu dulu di depan kedai mie itu," ucap sang teman sembari menunjuk kedai mie yang terletak di seberang bangunan kost itu.
Kathleen mengangguk dan segera menarik Darren, memutus lamunan pria itu mengenai kondisi sekitar bangunan kost tersebut.
"Kenapa kita ke sini, Khat? Apa kamu lapar? Kalau iya lebih baik kamu tahan dulu, aku nggak yakin dengan kebersihan tempat ini," ucap Darren sembari memandang jijik ke dalam kedai mie itu.
Dia bahkan tak mau duduk di kursi plastik yang tersedia di luar kedai, menganggap benda itu penuh dengan kuman dan bakteri.
"Siapa yang bilang kita mau makan? Aku diminta temanku untuk menunggu pemilik kos di sini. Aku juga nggak bakal mau makan di tempat yang aneh ini, Babe," ujar Kathleen setelah tertawa kencang.
Rupanya sang pemilik kedai mengerti dengan apa yang keduanya bicarakan, tapi pria itu lebih memilih diam, meski di dalam hati merasa dongkol karena sikap arogan keduanya. Lagipula para pengunjung lain tidak ada yang mengerti apa yang mereka ucapkan.
10 menit kemudian, sang teman datang bersama dengan seorang wanita paruh baya berkerudung sage. Wanita yang awalnya memasang senyum lebar kini memucat saat melihat Khatleen.
"Nduk. Temenmu orang bule?" tanya sang pemilik dengan berbisik.
"Iya, Bude. Memang kenapa kalau teman saya bule?" tanyanya dengan wajah bingung.
"Bude 'kan nggak bisa bahasa inggris. Nanti gimana komunikasinya kalau Bude nggak ngerti temen kamu ngomong apa," jawab sang pemilik dengan senyum canggung.
"Oh gitu. Tenang aja Bude, nanti aku yang terjemahin Khatleen ngomong apa," sambung sang teman dengan santai.
Sang pemilik kost mengangguk ragu, lalu melangkah mendekati keduanya.
"Selamat sore, Nak," sapa wanita itu hati-hati.
Kathleen tersenyum sopan, lalu menoleh pada temannya agar menerjemahkan. Darren hanya berdiri di samping Kathleen, kedua tangannya masuk ke saku celana, matanya mengamati sekitar dengan ekspresi waspada.
Setelah percakapan singkat soal harga dan peraturan kos, Darren menyela dengan nada datar.
"Kamar yang kosong ada di lantai berapa?"
Sang pemilik menjawab jika masih ada kamar kosong di lantai tiga dan empat.
"Lantai tiga," ujar Darren cepat, tanpa menunggu Kathleen bicara. "Lebih aman. Nggak terlalu tinggi, tapi juga nggak mudah diakses oleh orang luar."
Kathleen langsung tersenyum tipis begitu mengetahui maksud perkataan Darren.
"Kamu kok ribet banget sih, Babe," gerutu Khatleen berpura-pura protes, meski di dalam hati dia merasa bahagia kerena diperhatikan sedemikian rupa oleh Darren.
Sang pemilik lalu mengajak ketiganya melihat kamar. Begitu masuk, Darren langsung mengecek jendela, kunci pintu, bahkan kamar mandi.
Kathleen hanya memperhatikan Darren yang bersikap overprotektif dengan senyum kecil.
Sementara sang teman beberapa kali mencuri pandang ke Darren yang berdiri dengan postur tegap, dengan raut wajah dingin dan sulit ditebak. Raut kekaguman tidak dapat dia sembunyikan lagi, tak peduli jika Khatleen mulai memandang sinis ke arahnya.
"Kami suka dengan kamar ini," ucap Darren mewakili Khatleen.
"Mas bisa transfer pembayarannya ke nomor ini," ucap sang pemilik seraya menyerahkan kartu namanya.
"Oke. Saya bayar untuk 1 tahun pertama," ujar Darren yang kini membuka aplikasi mobile banking-nya.
Setelah transaksi pembayaran selesai, keduanya berpamitan dengan sang pemilik kost dan teman Khatleen.
"Mau pindah kapan?" tanya Darren ketika keduanya di dalam mobil.
"Dua hari lagi, Babe," jawab Khatleen sembari merenggangkan tubuhnya.
"Oke. Nanti aku bantu kamu pindahan," ucap Darren yang kini mulai melajukan mobilnya.
Kathleen menoleh, menatap Darren dengan senyum manis yang terasa sedikit dibuat-buat.
"Apa kamu nggak capek? Bukannya kamu masih banyak urusan di kantor," tanyanya lembut.
"Aku nggak capek. Lagipula kamu itu lebih penting dari apapun juga," jawab Darren singkat
Kalimat Darren membuat Kathleen tersenyum puas, meski entah kenapa dia merasa sedikit tidak nyaman. Ada rasa senang, tapi juga ada kegelisahan kecil yang tak bisa dia jelaskan.
Mobil Darren melaju meninggalkan kawasan kost, membelah jalanan sore Jakarta yang mulai padat.
Lampu-lampu kota mulai menyala dan memantul di kaca mobil, menciptakan suasana hangat yang kontras dengan pikiran Darren yang perlahan melayang.
Tanpa sadar, bayangan Cecilia muncul di kepala Darren. Cara wanita itu membalas tajam ucapannya, namun membiarkan Morgan melecehkannya membuat amarah Darren bergejolak.
"Ck." Darren berdecak pelan. "Kenapa sih aku malah kepikiran dia terus?"
"Apa?" tanya Kathleen yang tak mengerti dengan ucapan Darren.
"Nggak. Nggak ada apa-apa, aku cuma kesal sama macet," jawab Darren cepat, lalu kembali fokus ke jalan.
Kathleen mengangguk, tapi matanya menajam sesaat, seolah menangkap sesuatu dari perubahan ekspresi Darren.
'Aku harus mencari tahu apa yang membuat dia uring-uringan seperti ini,' gumam Kathleen di dalam hati.