Sementara kru wanita itu menatap Cecilia dengan raut tak tega. Meski dia tak mendengar percakapan itu, tapi dia sudah menebak apa yang Cecilia bicarakan dengan sang ibu.
"Mbak Cecil… Apa Mbak baik-baik saja?" tanya kru wanita itu hati-hati.
Cecilia tersenyum tipis, senyum yang rapuh.
"Saya baik-baik saja. Cuma … capek aja harus selalu jadi orang yang kuat."
Kru wanita itu duduk di kursi samping ranjang Cecilia. "Kalau cape, istirahat saja, Mbak."
'Seandainya saja aku bisa istirahat,' ucap Cecilia di dalam hatinya.
"Akan saya usahakan," ucap Cecilia yang berlainan dengan hatinya.
Setelah mengatakan itu, seorang perawat memberitahukan Cecilia jika dia sudah dapat dipindahkan ke ruangan rawat inap.
"Ners. Saya minta rawat jalan aja," ucap Cecilia yang tentu saja tidak mau mengeluarkan biaya opname.
Uang yang diminta oleh Rebecca saja sudah membuat Cecilia pusing tujuh keliling. Jadi dari mana dia mendapatkan biaya opname yang sudah pasti tidak sedikit ini?
"Tapi kondisi Mbak sangat lemah, paling tidak Mbak harus diobservasi paling lama 3 hari," sahut perawat wanita itu dengan nada tegas.
"Kalau soal biaya Mbak Cecil nggak perlu khawatir. Tadi petugas administrasi bilang BPJS bisa meng-cover semua biaya perawatan, asal Mbak Cecil ikuti tahapannya." Jelas kru wanita saat melihat ekspresi bingung Cecilia.
Cecilia terdiam. Matanya berkedip pelan, seolah mencerna informasi itu. "BPJS…?" gumamnya lirih. "Tapi nggak ada yang bantu saya untuk mengurus prosedur BPJS."
"Kalau itu Mbak Cecil nggak usah khawatir. Saya yang akan bantu Mbak Cecil urus prosedurnya," jawab kru wanita dengan senyum menenangkan.
"Bukannya prosedur BPJS itu rumit, saya nggak mau merepotkan Mbak," ucap Cecilia dengan raut wajah canggung.
"Tidak apa-apa. Saya ikhlas membantu. Anggap saja bantuan dari sesama anak perantauan yang jauh dari rumah."
Selesai. Cecilia tidak dapat membantah lagi, karena selain rasa kantuk yang melanda, dia merasa kru wanita itu tulus membantu.
"Baik. Saya bersedia diopname," ucap Cecilia pada akhirnya
Perawat tersebut tersenyum kecil. "Keputusan yang tepat, Mbak. Kesehatan itu bukan sesuatu yang bisa ditawar."
Tak lama kemudian, Cecilia dipindahkan ke ruang rawat inap kelas dua. Ruangan yang terlihat sederhana itu terdiri dari 4 ranjang, bersih dan nyaman dengan tirai hijau muda yang menenangkan mata.
Kru wanita itu membantu merapikan barang-barang Cecilia di loker kecil. "Saya izin untuk mengurus BPJS, ya, Mbak. Kalau ada apa-apa cepat telepon saya."
"Terima kasih banyak. Saya nggak tahu bagaimana harus membalas kebaikan Mbak," ucap Cecilia tulus.
"Mbak Cecilia jangan berpikir terlalu berat, sekarang yang penting Mbak cepat sembuh," balas kru wanita itu sembari tersenyum lebar.
Cecilia hanya mengangguk dan berusaha untuk kembali berbaring. Tak lama rasa lelah itu datang lagi dan menekan kelopak mata gadis itu hingga tertidur.
Namun baru saja Cecilia terlelap, ponselnya kembali berdering. Kali ini dia mudah menggapainya, karena ponsel itu terletak di sampingnya.
Nama Rebecca tertera sebagai pengirim pesan, membuat napas Cecilia terasa semakin berat.
'Mama kasih waktu sampai besok. Uang sekolah adik-adikmu nggak bisa telat bayar.'
Cecilia memejamkan mata dan tak lama setetes air mata lolos mengalir deras tanpa suara.
"Mah. Aku capek," bisik Cecilia nyaris tak terdengar.
***
Sementara di lokasi syuting, Darren gelisah saat Danu memberitahunya jika Cecilia harus dirawat. Berbanding terbalik dengan Morgan yang hanya menunjukkan ekspresi datar.
"Kamu kelihatan seperti seorang pria yang mencemaskan kekasihnya," ejek Morgan.
Darren tersentak saat mendengar ucapan sang sepupu, namun pria itu memilih untuk menyangkal. Karena jelas-jelas Darren memiliki Khatleen yang lebih cantik dari Cecilia.
"Jangan ngaco," sahut Darren dingin, meski rahangnya mengeras. "Dia itu cuma sekretaris Papa dan sudah menjadi tanggung jawab kantor kalau dia sakit seperti ini."
Morgan terkekeh pelan. "Kalau cuma tanggung jawab kantor, ekspresi kamu nggak akan sekacau ini."
Darren memilih diam dan kembali duduk di kursi rias, tapi fokusnya sudah pecah. Bayangan wajah pucat Cecilia dan cara wanita itu memaksakan diri meski jelas kelelahan, terus muncul tanpa izin.
Tak lama Darren merasa ponselnya yang ada dalam saku vest bergetar, dia mengembuskan napas panjang saat melihat nama Khatleen pada layar.
"Babe. Kamu bisa bantu aku pindah hari ini?" Nada suara Khatleen yang manja langsung terdengar.
"Kalau hari ini aku belum tentu bisa. Sekarang aku dan Morgan sedang syuting iklan untuk produk makanan ringan," jawab Darren.
"Babe. Bukannya kamu bilang mau gantiin papamu jadi CEO, tapi kenapa malah jadi model?" tanya Khatleen dengan nada penasaran.
"Ceritanya panjang, Khat. Akan aku ceritakan waktu kita ketemu," jawab Darren setelah menarik nafas panjang.
"Oke. Tapi setelah syutingnya kelar, kamu bantu aku pindahan, ya." Darren tersenyum saat mendengar nada suara Khatleen yang manja. Suara yang mampu membuat pria itu melupakan Cecilia.
"Iya. Aku pasti bantu kamu pindahan," ucap Darren dengan senyum lebar.
Tadinya Morgan ingin menyela, tapi proses syuting sudah dimulai. Keduanya mulai mengambil posisi masing-masing.
Sementara Giovanni yang merasa lelah memutuskan untuk pergi dari lokasi syuting sejak 10 menit yang lalu.
Proses syuting iklan akhirnya selesai dalam waktu 6 jam, Darren yang teringat akan janjinya dengan Khatleen segera menuju hotel tempat sang kekasih menginap. Meninggalkan Morgan yang menatap kepergian Darren dengan seringai licik.
***
Darren tiba di hotel Khatleen menjelang tengah malam, tepat ketika gadis itu akan tidur.
"Khat. Kenapa bajumu kayak begitu?" tanya Darren yang risih melihat Khatleen memakai lingerie.
"Jakarta sangat panas, jadi aku pakai baju yang nyaman," jawab Khatleen sembari meneguk air minumnya.
"Panas? Tapi aku kedinginan loh sama suhu AC di kamar ini," ucap Darren yang merasa aneh.
Kathleen hanya tertawa, seakan-akan yang dikatakan Darren adalah sesuatu yang lucu.
"Babe. Kamu lupa ya, kalau Jakarta itu panas banget bagiku yang sejak lahir tinggal di negara 4 musim," ucap Kathleen setelah tawanya mereda.
Darren menghela napas pelan, lalu meraih selimut untuk menghalau rasa dingin yang semakin menggigit kulitnya.
Kathleen yang melihat tingkah Darren kembali tertawa kencang, sampai 'tak sengaja' menyenggol botol mineral yang ada di sampingnya.
Air dingin yang tersisa setengah itu mengenai kulit Khatleen, membuat gadis itu menjerit kencang, membuat Darren langsung menghambur ke arah sang kekasih.
"Kamu nggak apa-apa, Khat?" tanya Darren yang tanpa sadar memeluk Khatleen.
"Aku nggak apa-apa, Babe. Aku cuma kaget karena dingin banget airnya," jawab Kathleen yang segera menyunggingkan senyum lebar, dia akan menggoda Darren sampai pria itu bersedia tidur dengannya.
"Syukurlah kalau begitu," ucap Darren dengan nada lega.
Beberapa saat kemudian, Darren baru menyadari posisi tubuh keduanya yang saling menempel. Matanya dengan kurang ajar melihat belahan d**a Khatleen yang menempel pada dadanya.
Kulit putih Khatleen yang putih sangat kontras dengan lingerie merah yang melekat dengan sempurna pada tubuh gadis itu.
Khatleen tersenyum lebar saat merasakan tonjolan di balik celana Darren. Gadis itu bahkan semakin bersemangat melancarkan aksinya dengan semakin merapatkan pelukan mereka.
Darren menggeram karena inti tubuhnya terasa nyeri dan menuntut pelepasan.
"Babe ...."
Panggilan dengan nada mendesah itu akhirnya meruntuhkan pertahanan Darren. Dengan cepat, pria itu mencium bibir sang kekasih yang sejak tadi memang sangat menggugah hasratnya.